Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 96


__ADS_3

"Sudah jangan cemberut, kamu juga nikmatin kok. Hahaha." Seno menggoda sambil mengeringkan mahkota istrinya.


Perempuan itu masih mrengut di depan pantulan kaca rias. Seno malah meledeknya habis-habisan. Membuat perempuan itu gemas dan seketika pinggang suaminya yang keras menjadi sasaran cubitan panas.


"Adududu ... iya ampun, ampun, maaf sayang, sakitlah ...." keluh pria itu mendrama.


"Nggak ngerti banget, udah mandi rapih, wangi, make up dengan penuh penghayatan, sia-sia belaka!" jawabnya dengan muka ditekuk, sewot maksimal.


"Lain kali, jangan mendes@h, apa ya nggak bikin aku tambah minat."


"Ikh ... ngeselin banget sih, om-om mesum!" Wening yang gemas kembali melayangkan cubitan, tetapi kali ini tangannya diamankan suaminya.


"Ya ampun ... kita udah punya anak kelakuan masih absurd gini. Oke-oke, maaf kan diriku ini yang mungkin besok akan mengulangi lagi. Hahaha!" Pria itu tertawa suka cita lalu berlari keluar melepas cengkraman tangannya.


"Mas!" Wening memburu suaminya yang lari menuju box Emir.


"Boy, Mamu ngamuk, tolongin papa, Boy," lapor pria itu mengangkat bayi gembul itu.


Kalau sudah begini, sudah barang tentu Wening tak jadi menyerang dengan balasan sengit atau Emir bakalan terlepas dari tangannya.


"Taruh bayinya Mas, jangan digemesin, ya ampun ... kamu tuh ya emang resek."


"Kenapa sih sayang, tadi masih pengen gemesin kamu nggak boleh, giliran gemesin Emir cemburu. Boy, mamudmu nggak jelas!" lapor pria itu terus membuai putranya dengan kekehan kecil.


"Sus, Suster Nancy!"


"Iya Buk, siap!"


"Titip Emir Sus, saya mau pergi, jagain baik-baik ya!"


"Siap Buk, Ibu sama Tuan mau pergi ya?" tanya pengasuh Emir sedikit kepo.


"Iya Sus, titip ya, bisa jadi sampai malam," ujarnya sembari mengambil Emir dalam gendongan suaminya.


"Masih kangen Dek, Emir masih mau main," protes Seno enggan melepas baby cubby itu.


"Nanti kesorean Mas, nanti malam kan bisa main lagi," ujar perempuan itu mencium bayinya terlebih dulu sebelum beranjak.

__ADS_1


"Kunci mobilku sayang, belum dibawa," seru pria itu sedikit keder.


"Narohnya di mana? Suka pelupa ih nggak jelas banget!" Wening berbalik seraya mencari-cari benda penting itu.


"Mas, di mana nggak ketemu?" lapor perempuan itu sedikit sewot.


"Astaga, aku lupa naroh, di mana ya?" Pria itu ikut mencari-cari.


Mbok Ijah dan juga Nancy serta Pak Eko tak luput dari titahnya.


"Ya udah pakai mobil Pak Eko aja, ribet kamu mah!" kesal Wening tak ada titik temu.


"Nggak nyaman, bantu cari lima menit lagi," ujarnya dibuat rempong.


Wening menuju kamarnya, langkahnya terhenti di tempat keranjang kotor. Seketika mengambil celana bahan yang tadi sempat dipakai kerja. Benar saja, kontak mobilnya masih terselip di saku celana.


"Dasar pria, naroh sendiri bingung sendiri!" gumam Wening sembari melangkah keluar.


"Ayo sayang, lama banget sih, biar Pak Eko yang bawa mobilnya," ujar pria itu penuh solusi.


"Eh, nggak jelas banget kamu, Pak, ini udah ketemu," kata Wening menunjuk kunci di tangannya.


Wening menghela napas dalam. Harus mempunyai stok sabar yang berlimpah untuk menghadapi suami uniknya. Sore itu akhirnya keduanya berangkat dengan supir. Kenapa tidak sedari tadi, itu karena ulah suaminya yang kurang jelas.


"Udah dibawa kan suratnya? Jangan-jangan lupa dengan tujuan kita apa."


"Udahlah, Emangnya kamu, handuk lupa, kunci lupa, nggak jelas!" cibir pria itu menatap kesal.


"Iye kah, manisnya kalau lagi ngomel, numpang rebahan bentar Dek, hari ini aku lumayan capek."


Balada baru mendapatkan servis sore ini, kenapa mendadak tentram dan serasa ingin tiduran. Tubuhnya yang terasa nyaman, menjadikan paha Wening sebagai bantalan. Kenapa suaminya akhir-akhir ini mendadak manja. Sungguh pria dewasa yang cukup aneh, tetapi sangat nyata.


"Pak masuk lurus, nomor tiga puluh empat," ujar Wening menginterupsi supirnya setelah memasuki perumahan di kawasan Elit. Pak Eko mengangguk mengikuti.


"Ya ampun ... Mas, bangun, ini gimana ceritanya malah tidur," ujar Wening menggeleng heran.


"Udah sampai? Pahami terlalu nyaman, makanya langsung lelap."

__ADS_1


"Ayo Mas turun, itu sepertinya mobil Om Afnan, berarti orangnya ada di rumah."


"Kamu kok bisa apal? Perhatian banget," tuduh Seno penuh selidik.


"Nebak aja, sok tahu ya aku."


"Ngapain juga harus bertemu dengan cecurut satu, merusak pemandangan saja," keluh Seno mendapati Yudha juga ada di rumah. Pria itu sepertinya baru saja pulang pas sampai rumah di belakang mobil Wening.


"Nggak boleh gitu, seneng banget ngomel nggak jelas," tegur Wening menggeleng tak setuju.


"Ning, tumben? Ada angin apa?" sapa Yudha nampak sumringah mendapati Wening berkunjung ke rumahnya.


"Angin ****** beliung, bukan mau ketemu sama kamu, nggak usah geer!" tukas Seno sedikit kesal.


Ini adalah salah satu alasan kenapa Seno tidak mengizinkan istrinya datang ke rumah Naura sendirian. Rawan tikungan, dan juga takut perempuan yang diduga tersakiti itu masih salah paham dan ngamuk nggak jelas.


"Ish ...." Perempuan itu menggamit tangan suaminya lalu mengusap lengannya perlahan.


"Iya nih Yud, Kakak kamu ada di rumah nggak ya?"


"Tumben cari kak Naura, ada sesuatu?" tanya pria itu memastikan.


"Iya, boleh bertemu," ucap Wening sopan.


"Ayo masuk, bentar ya aku lihat dulu!" ujar pemuda itu mendahului.


Terlihat Afnan dan Naura keluar secara bersamaan setelah Yudha memberi tahu.


"Kebetulan kalian ke sini, apakah kalian berubah pikiran dan akan menyerahkan Emir pada kami?" sapa Afnan langsung pada intinya.


Seno dan Wening yang sudah duduk langsung berdiri melihat kedatangan pasutri tuan rumahnya.


"Maaf, kedatangan kami ke sini, bukan mau membahas tentang Emir, tapi ada suatu hal yang harus kami sampaikan. Ini ada titipan dari Mbak Rara, untuk Kak Naura," kata Wening menyodorkan secarik kertas lipat rapih.


"Buat aku?" tanya Naura penasaran menunjuk diri sendiri.


"Iya, aku tidak tahu isinya, kami hanya sebagai perantara saja. Serta satu lagi, kami atas nama keluarga meminta maaf apabila ada salah kata, atau apa pun yang berkaitan dengan kakak kami."

__ADS_1


Naura menerima kertas itu lalu mengamati sejenak. Perempuan itu akan membukanya nanti setelah suasana lebih tenang.


__ADS_2