Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 41


__ADS_3

"Kepo, udahlah gue nggak suka bahas dia," ujarnya mendadak sewot.


"Yud, serius? Kenapa bisa nggak suka? Aku kenal sama orang yang difoto," ujar Wening mendadak sendu.


"Dia cewek yang udah gue tandai, gegara dia rumah tangga kakak gue terancam!"


"Maksudnya?"


"Dahlah males, pokoknya gue bakalan buat perhitungan lagi kalau dia berani muncul."


"Kalau muncul beneran kamu mau apakan?"


"Yang jelas memperingatkan! Untuk tidak dekat-dekat dengan suami kakak gue. Gue nggak mau kakak nangis lagi gara-gara cewek murahan kaya dia!"


Entah mengapa kakaknya dikatain murahan membuat otak Wening mendidih.


"Owh ... jadi gitu, difoto itu ada hubungan khusus dengan kakak ipar kamu? Oke fine! Thanks Yud, aku pulang dulu," ujarnya dengan perasaan campur aduk.


Jujur ke Yuda bukan solusi, setelah mendapatkan informasi penting itu, Wening harus memastikan apa kah anak yang Mbak Rara kandung ada hubungannya dengan kakak iparnya Yuda. Tentu saja pria itu harus tanggung jawab dan tahu kalau Mbak Rara sekarang bahkan sedang hamil anaknya.


"Lho, kok pulang sih, kan baru aja berangkat. Kamu nggak jelas banget, ayo pergi!"


"Maaf Yud, aku nggak bisa lama perginya, yang di rumah galak, nanti nyariin," ujarnya jujur.


"Nggak bisa gitu dong, aku udah dandan sekeren ini yakali main pergi-pergi aja. Ikut!" sentak Yuda mendadak galak.


"Duh ... apaan sih, jangan mepet-mepet kamu gila ya?"


"Iya aku gila, itu gara-gara kamu. Tanggung jawab pokoknya hari ini harus mau jalan sama aku."


"Kok maksa, ini udah, 'kan?"


"Udah apaan? Baru keluar bentar, buang-buang waktu doang! Cepetan naik!"


"Nggak mau, aku mau pulang sendiri!"


"Eh, beneran mau pulang? Oke deh, ngobrol bentar aja di taman, bentar aja sembari habisin satu es krim!" pintanya cukup ngeyel.

__ADS_1


"Oke deh, satu es krim doang ya," ujar Wening mulai menghitung mundur waktu yang tersisa. Perempuan itu takut kalau Seno tiba-tiba bangun terus ngamuk mencarinya. Bahkan terlalu lama ditinggal.


Kedua remaja itu duduk di bangku taman yang setiap sudut-sudut tempatnya lumayan ramai. Cukup aman untuk sekedar nongkrong.


"Kamu tinggal sendiri di rumah? Atau sama kakak kamu?"


"Kedua orang tuaku udah pisah dan sekarang tinggal di luar negeri. Sementara aku tinggal bareng kakakku," jawab Yuda sambil menikmati es krimnya.


"Abang ipar kamu itu kerjanya di mana?"


"Ngapain nanya Bang Afnan?"


"Tanya aja nggak boleh?"


"Jangan bilang kamu suka sama dia. Bakalan berurusan sama gue juga."


"Ish ... yakali om-om suka, kaya nggak ada cowok ting ting aja. Nanya doang, salah?"


Astaga! Suami gue kan om om juga! Ralat!


"Ning, kenapa kemarin nggak masuk, terus kenapa nomor aku diblokir."


"Kalau yang masalah nomor, aku nggak pernah blokir nomor kamu sih sumpah. Mungkin ada tangan-tangan jail yang mengobok-obok ponselku," ujarnya klise.


"Ye ... alasan apaan! Aku pikir cewek sama aja, suka ngilang saat udah bikin orang nyaman. Bikin kesel aja!"


Wening tidak menimpali, gadis itu terlihat fokus dengan ponselnya. Lebih tepatnya berbalas pesan mungkin.


"Kamu ngapain sih gelisah gitu. Kalau lagi jalan tuh handphonenya taruh, jangan cuekin aku, Ning."


"Aduh ... sorry Yud, aku harus pulang. Terima kasih es krimnya, aku udah pesan ojol dan itu sepertinya udah datang."


"Hah, beneran? Ngapain pesen ojol segala, aku bisa anter kok."


"Nggak usah Yud, kelihatannya kamu masih pingin main, terusin aja, aku beneran harus pulang, sorry banget ya. Please ... kapan hari bisa lagi kalau pas waktunya."


"Ning!"

__ADS_1


"Ning!"


Wening berlari menjauh dari tempat Yuda berdiri. Pria itu bahkan masih menyerukan namanya dari kejauhan. Membuatnya terlihat nelangsa seakan pandangan orang lain mungkin habis putus cinta.


"Yang sabar ya Mas, mungkin belum jodoh!" ujar seorang ibu tiba-tiba nyeltuk di dekatnya melihat dirinya berwajah sendu.


Sementara Wening jelas harus pulang cepat. Ojol adalah solusi anti kemacetan. Sepanjang perjalanan, gadis itu terus berpikir mencari alasan yang tepat untuk menghadapi suaminya yang super posesif, galak, dan bermulut pedas. Syukur pisan Wening pulang om suaminya masih tertidur dan semuanya akan aman.


Gadis itu langsung lompat dari boncengan begitu sampai. Melakukan pembayaran dan melesat dengan langkah cepat. Hatinya makin tak karuan, jantungnya deg degan saat sudah mendekati pintu masuk.


Wening berjalan perlahan begitu membuka pintu. Nampak rumahnya sepi tak berpenghuni, sepertinya aman, pria itu masih tertidur.


"Huhf ... oke, jalan pelan-pelan aja, tenang dan langsung ke kamar!" batinnya menenangkan diri.


Gadis itu baru saja masuk ke kamar terus menutup pintu ketika suara bariton itu menyeru. Dia pikir rumah segede gini tidak ada CCTV-nya apa. Bahkan sampai depan gerbang terlihat jelas aktifitas di sana. Sungguh pendek pemikiran Wening jika berpikiran Seno bakalan tidak tahu apa-apa. Bahkan hanya dengan menunjuk orang, ia akan mempunyai banyak informasi yang ia mau.


"Dari mana kamu?" sentak Seno sedikit santai, namun penuh penekanan.


Wening hampir melompat mendengar suara itu di balik punggungnya.


Mati aku, ayo Ning, alesan apa lo?


"D-dari ... beli ini Mas," tunjuk Wening mengambil bungkus rokok lalu menyodorkannya. Seno rebut terus buang begitu saja, sembari menatapnya tajam.


"Iya maaf, aku mampir sebentar, please jangan marah!" Antara takut tapi nekat, Wening langsung berhambur memeluknya. Tidak tahan melihat kilatan wajahnya yang memerah kesal. Wening sudah ketakutan lebih dulu, bahkan langsung merasa bersalah.


"Lepasin! Atau beneran aku lempar!" sentaknya gemas.


"Nggak mau, maaf Mas, aku cuma pergi sebentar, ada hal yang harus aku selesaikan!"


"Selesaikan apa! Bohong lagi, pamitnya ke mana, perginya ke mana? Dasar istri nakal tidak ada aturan! Lepas!" geram Seno kesal mencoba memberi jarak pada istri kecilnya yang nakal sekali.


"Bisa nggak sih nggak bikin kesel sehari aja. Boro-boro nurut, malah enak-enakan main sama cowok lain. Kelakuan kamu bakalan aku laporin ke mama, menantu kesayangannya sama sekali tidak bermoral! Kamu sama aja sama kakakmu, murahan!" sentak Seno cukup keterlaluan.


Wening langsung melepaskan pelukan itu yang tadinya bermaksud meredam emosi suaminya. Ternyata tidak mempan sama sekali, ia malah mendengar kata-kata yang sama seperti yang Yuda lontarkan untuk kakaknya tadi di taman. Kenapa sesakit ini ....


Gadis itu tidak menyahut sedikit pun. Menatap dengan wajah berkaca-kaca. Mundur beberapa langkah dan langsung pergi meninggalkan ruangan yang terasa panas itu.

__ADS_1


"Mau ke mana? Aku belum selesai ngomong!" pekik Seno mengekor istrinya lalu menarik lengannya.


"Sakit ... Mas, lepasin!" desis Wening terlanjur sakit hati.


__ADS_2