
"Udah nggak usah sedih gitu, buktinya dia masih nyuruh aku buat nganterin kamu, itu tandanya dia peduli dan sayang. Jangan nangis lagi, itu matanya udah bengkak," ucap Wahyu menenangkan.
Wening tidak menyahut, sibuk menyusut air matanya. Tak ada kata perpisahan dari mulutnya, hanya selembar kertas beserta cincin pernikahan yang sudah Wening lepas tergeletak di atas meja belajar. Hatinya sakit, inilah akhir kisah cintanya yang menyedihkan.
"Kamu yakin cuma sampai sini saja, aku bisa mengantarmu sampai Bandung, lebih aman dan nyaman," ujar Wahyu merasa tak tenang melepas istri dari bosnya itu di stasiun keberangkatan.
"Nggak pa-pa Om, aku berani kok, nanti kan bisa tanya-tanya orang," jawab perempuan itu datar.
"Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi aku," ucap Wahyu terlihat sendu.
Gadis itu mengangguk, memantapkan hatinya. Melangkah menjauh ketika sebuah seruan memanggil namanya.
"Ning, tunggu! Kamu tidak boleh berangkat sendiri, biar aku mengantarmu!" Arka datang dengan raut wajah tergesa.
Wahyu tersenyum lega, memang pria itu sengaja menghubungi adik dari bosnya itu karena merasa khawatir di jalanan. Dia seorang perempuan datang seorang diri ke kota orang, sungguh membuatnya ketar-ketir.
"Arka! Kamu tahu dari mana kalau aku berangkat sekarang?"
"Tidak penting tahu dari mana, ayo aku antar," ujar pria itu semangat.
"Tapi ini aku udah pesan tiket, gimana dong?"
"Cancel, kalau nggak bisa hangus, nanti uangnya aku ganti," ujarnya santai.
"Udah Ning, baik-baik ya sama Arka, kalau gini kan aku bisa pulang dengan tenang," kata Wahyu merasa lega.
Pria itu pulang langsung ke rumah atasannya. Terlihat Seno masih termenung sendiri dengan wajah murung.
"Dia udah berangkat?" tanya Seno dingin.
__ADS_1
"Sudah Boss, dia terlihat sangat sedih, aku hanya mengantarnya sampai stasiun," jawab Wahyu kali ini berdusta.
"Dia gadis yang pemberani, tidak usah terlalu khawatir," ucap Seno sambil beranjak. Hatinya masih dipenuhi gemuruh yang membara. Antara kesal, kecewa, bingung, dan merasa entah.
Wahyu menyayangkan sikap atasannya yang mendadak tak begitu peduli, sedang ia saja sebagai orang luar merasa khawatir melepas Noning sendirian di jalan. Makanya pria itu menghubungi Arka, orang yang paling tepat untuk mengantarnya. Sisanya, akan ia hadapi sendiri jika nanti ketahuan.
Jujur, Seno merasa khawatir, pria itu bahkan tidak tenang seharian. Mendadak ia kepikiran, mencoba menghubungi berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban.
Pria itu berjalan gontai menuju kamar sebelah. Mengingat pertengkaran semalam, Wening bahkan menangis dan terlihat begitu marah. Pria itu melangkah mendekati meja belajar, secarik kertas dengan tulisan rapih tangannya. Di atasnya tergeletak cincin yang selalu gadis itu kenakan. Wening meninggalkan begitu saja. Apa ini artinya?
**Aku pamit, Mas, maaf untuk semua hal yang telah membuatmu merasa tidak nyaman. Semoga dengan kepergianku, kamu semakin bahagia.
Maaf, sudah banyak merepotkan dirimu. Semoga dengan memulai hidup baru, aku bisa lepas sepenuhnya dari hal-hal yang pernah ada tentangmu. Aku bisa lepas dari perasaan yang belum tuntas padamu. Aku bisa meleyapkan anganku untuk bersamamu yang berbalut rindu. Biarkan aku pergi menjauh, meninggalkanmu untuk menanggalkan perasaan sayang itu.
Aku ingin bahagia, meskipun bukan denganmu yang tidak bersedia. Namun, aku merasa heran denganmu, saat aku memilih pergi, kamu seolah menahanku untuk tetap di sini. Kamu memberi tanda bahwa kamu sedang belajar menerima.
Tanpa tahu pasti, itu hanya kamuflase belaka. Kamu seolah menunjukkan kepadaku agar aku tetap saja mencintaimu, tanpa tahu bagaimana perasaan aku selama ini merasa terombang-ambing.
Seharusnya kamu tahu, perasaan ini yang sudah terlalu lelah, hingga aku memilih matikan saja semua rasa padamu, meski tetap saja ada yang tersisa di antara rasa pilu.
Udah, capek nulisnya.
Aku tahu Mas masih mencintai Mbak Rara, begitu pun juga Mbak Rara. Jemput dia Mas, menikahlah bersamanya. Aku tunggu surat talak darimu, akan aku tanda tangani segera.*
...***...
Seno meremas kertas itu menjadi kepalan tangan. Dadanya bergemuruh hebat.
"Maafkan aku, Dek, semoga kamu baik-baik saja," gumam pria itu merasa sesak.
__ADS_1
Seharusnya Seno mengantarnya, terlepas hatinya masih kesal sekalipun, mengingat dia seorang diri di tanah orang. Siang harinya, pria itu menghubungi Wahyu untuk datang ke rumahnya. Seperti biasa, asistennya itu selalu tepat waktu.
"Aku ingin menyusulnya Yu, aku ingin memastikan dia baik-baik saja," ujar pria itu merasa tak tenang.
"Dia baik-baik saja, sudah sampai dan tengah beristirahat," jawab Wahyu kalem.
"Dia memberi kabar untukmu?"
"Bukan, tapi Arka, dia yang mengantarnya sekaligus mencarikan tempat tinggal sementara untuknya," jawab Wahyu jujur.
"Arka adikku, ah ... kenapa dia selalu ada saat Wening bahkan membutuhkan bantuan sekalipun."
"Aku sengaja memberitahunya, jujur aku khawatir, aku takut terjadi hal buruk di jalan."
"Kenapa kamu mencemaskan istri orang, itu lancang namanya."
"Karena aku sayang dengan hubungan kalian, aku ingin boss dan Noning selalu bersama."
"Kamu selalu membuat alasan yang kurang masuk akal, jadi Arka pahlawan kesiangan itu?"
"Hmm, aku harap Boss memberikan ruang, dia sepertinya terlalu kecewa dan sakit hati karena mencoba mencari tahu sendiri tentang perasaan Anda."
"Sok tahu, kenapa harus Arka sih!"
"Dilarang cemburu dengan adiknya Boss, itu yang Wening rasakan saat Anda terlalu sibuk bernostalgia dengan masa lalu."
"Kamu benar-benar membuat moodku berantakan, apa kamu sudah bosan bekerja denganku?"
"Belum, hanya saja hatiku sulit untuk berdusta, aku terlalu khawatir, mengingat di rumah juga punya adik perempuan, bagaimana kalau ada yang jahat di jalan, itu lah mengapa aku merasa harus menghubungi seseorang untuk menemaninya, dan Arka sangat tidak keberatan."
__ADS_1
"Tapi aku keberatan! Temani aku menyusulnya!"