
"Apa kita harus menunggu di gerbang kampusnya supaya bisa menemukan Wening?" tanya Seno gemas. Seharian mencari tahu keberadaan istrinya tak juga bertemu.
"Sepertinya begitu, mengingat terlalu luas dan tidak mungkin juga kita bertanya mengunjungi gedung satu-satu."
Pria itu memijit pelipisnya, mendadak ia begitu mumet. Perempuan itu rewel sekali, pakai acara pindah kost dan juga malah memblokir nomornya, atau sudah tidak butuh berkomunikasi untuk meminta uang? Memangnya siapa yang akan membiayai kuliahnya nanti.
"Sepertinya Noning masih butuh waktu sendiri, dia sengaja menghilang untuk menenangkan diri. Masih begitu kecewa dengan sikap Tuan yang posesif."
"Kamu ngatain saya?" tekan pria itu sewot.
"Maaf Boss, tidak bermaksud, hanya praduga. Saya rasa Noning sudah jatuh cinta, makanya merasa sakit hati saat Tuan Bos sibuk memikirkan Rara."
"Saya tidak sibuk mikirin Rara, Wahyu, ngadi-ngadi kamu, saya cuma kaget dengan pernyataan Afnan. Saya akui memang salah Saya waktu itu terlanjur emosi dan kecewa tahu-tahu hamil. Siapa yang nggak marah coba, di hari pernikahannya terjadi kaya gitu. Saya menyayangkan sikap Rara yang juga tidak mau jujur, siapa pun kalau di posisi Saya pasti bakalan kecewa."
"Iya Boss, say tahu, ikut prihatin atas kejadian ini. Lebih prihatin lagi kalau nggak ketemu sama istrinya, apa kita harus pulang?"
"Mana aku tenang, ah ... sial! Pekerjaan aku sedang padat juga gegara keasyikan liburan kemarin."
"Tapi kan bonusnya happy boss, ya walaupun sekarang nggak sih."
"Kita tunggu beberapa hari sampai akhir minggu ini. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama," ujarnya terasa kacau.
Beberapa hari berkeliaran di Bandung tidak jua menemukan sosok Wening yang begitu ia rindukan.
"Kita tunggu hari ini sampai sore, kita perhatikan mahasiswa baru yang tengah ospek itu, salah satunya pasti ada Wening, masalahnya orangnya terlalu banyak, atributnya sama nggak jelas."
"Kita tunggu saja di pintu gerbang. Dia pasti akan pulang lewat sini."
"Bos, apa yang akan bos lakukan bila bertemu nanti?" tanya Wahyu serius.
__ADS_1
"Ngajak pulang nggak mungkin, yang pasti minta maaf, tedus—"
"Kalau Noning nggak mau gimana?"
"Kok ngomongnya gitu, ya aku bujuk lah dengan seribu satu cara, dia juga pasti butuh aku, yakin banget. Nggak mungkin bisa lepas gitu aja, biaya kuliah dia kan mahal."
"Bisa aja dia pengajuan beasiswa mengingat Noning siswa yang pintar."
Sementara Wening hari ini adalah hari terakhir mengikuti orientasi belajar keluarga mahasiswa. Acara penutupan yang begitu meriah, setelah melakukan sesi foto bersama mana dalam kelompoknya beserta gugus masing-masing. Gadis itu pun membubarkan diri beserta mahasiswa baru lainnya.
Suasana masih begitu ramai, bahkan uforia kegiatan terakhir ini mentok sampai sore. Wening tidak pernah menyangka kalau suaminya bakalan menyusul sampai ke kampus. Gadis itu melangkah gontai keluar dari area menuju pintu keluar. Dari kejauhan nampak seseorang yang tak asing baginya.
"Om Wahyu? Sial, itu mobil Mas Seno," gumam Wening menghentikan langkahnya.
"Ning, ngapain? Pulang yok!" ajak Farah teman baru yang tinggal dalam satu blok kostnya.
"Duluan Ra, masih ada urusan," jawabnya kembali masuk. Malas bertemu lebih tepatnya. Susah payah berusaha buat muvo on yakali setelah sedikit merasa tenang harus jungkir balik lagi perasaannya. Terlalu mengcapek dan melelahkan.
"Heh, di mana-mana jalan ke depan, lo ngapain?" tegur seseorang yang tak lain adalah kakak tingkat yang bertugas juga sebagai panitia.
"Maaf kak, nggak sengaja," ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya tak ingin membuat huru-hara.
"Jangan galak-galak Ko, sikat! Hahaha!"
"Mana ya? Wih ... baru udah bikin masalah," ujar cowok lainnya.
"Sorry Kak, nggak sengaja, ada yang sakit?" tanya Wening mengingat sempat menginjak sepatunya.
"Sepatu gua kotor, makanya jalan pakai mata, nggak jelas!"
__ADS_1
"Eh, udah minta maaf loh tadi, ngeselin banget jadi cowok, kotor juga bisa dicuci, ribet!" jawab Wening galak.
Perempuan itu masih kesal, ditambah kating resek yang sombong sok kegantengan ya sudah meledak lah emosinya.
"Dasar cowok nggak jelas!" umpatnya berlalu begitu saja.
"Astaga, lo dikata-katain sama maba Bro, daebak!"
Wening tidak peduli, pikir nanti saja, mendadak dan cemas tidak berani keluar dari pintu gerbang.
"Gimana caranya aku keluar ya? Tanpa ketahuan Om Wahyu dan exs bojo gamon yang ngeselin," gumam Wening galau seorang diri.
Wening pun berdiam diri cukup lama hingga langit berubah menjadi gelap. Berhubung sudah maghrib, gadis itu menuju maskam yang letaknya tak jauh dari sekarang ia berpijak.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, di saat bersamaan Seno dan Wahyu juga memutuskan untuk menunaikan kewajibannya di masjid kampus. Tanpa mereka sadari, ketiganya berada di dalam lokasi yang sama. Saling berdoa untuk kehidupan terbaik masing-masing.
"Kita pulang saja Yu, besok aku harus udah sampai, ada pertemuan penting tentang proyek kemarin."
"Siap Boss," jawab Wahyu mengikuti langkah bosnya.
"Apa itu artinya kita pulang dengan sia-sia?"
"Tidak ada yang sia-sia, setidaknya aku sudah menyesalinya dan ingin menemuinya. Mungkin bukan sekarang waktu yang tepat."
Alhasil, Seno menyuruh orang untuk menemukan istrinya. Secara diam-diam dengan berbekal foto, pria itu membayar orang untuk stay di gerbang kampus dan mengikuti kegiatannya beserta tempat tinggalnya. Tentunya memata-matai dalam diam.
"Kabari saja, lusa aku akan menyusulnya sendiri, yang penting aku tahu dia baik-baik saja," ujar Seno cukup tenang. Pastinya dengan kekuatan uang semua serasa mudah.
Benar saja dalam kurun waktu seminggu kurang, Seno yang sudah kembali ke Jakarta bisa mendapatkan laporan kegiatan istrinya dan juga tempat tinggalnya sekarang. Wening cukup menikmati hari-harinya yang sudah berjalan hampir sebulan. Tak pernah Seno bayangkan, istrinya seberani itu mengambil keputusan.
__ADS_1
"Ini apa, Mbok?" tanya Seno pada pembantunya saat sampai rumah. Pria itu keheranan mendapati surat panggilan untuk dirinya dari pengadilan.
"Apa, Wening mengajukan gugatan perceraian?"