Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 93


__ADS_3

Seno menatap datar pria yang duduk di sebelahnya. Afnan terlihat begitu sedih dan berduka.


"Maaf, Nan, saya sudah berjanji merawat Emir, dan anak itu akan menjadi anak aku dan Wening," jawabnya yakin.


"Tapi aku bapaknya, harusnya cukup jelas. Aku punya hak atas Emir!" tekan Afnan ngotot.


"Maaf, Afnan, tapi Rara mengamanahkan pada kami, dan kami menyanggupi, tolong jangan usik, kami tengah berduka," balas Seno sedikit kesal. Meninggalkan Afnan begitu saja lalu menyusul istrinya ke kamar.


Pria itu mendekati istrinya yang tengah menidurkan Emir dengan susu botol di tangannya. Mendekat, lalu mencium keduanya secara bergantian.


"Emir belum tidur? Bobo sayang, ini sudah malam!" titah pria itu cuap-cuap layaknya orang dewasa.


"Shutt ... jangan diajak ngobrol, udah mau merem," cegah Wening menggeleng tak setuju.


Pria itu tersenyum lalu kembali menyambar pipinya dan menjauh. Melepas pakaian muslim yang membungkus dirinya, berganti dengan pakaian yang lebih santai untuk tidur.


Usai menidurkan Emir, Wening mendekati suaminya yang masih menunggu di sudut ranjang.


"Tidur Mas, sudah malam," kata perempuan itu merebah di pangkuannya. Menjadikan paha suaminya sebagai bantalan, sedang pria itu duduk bersender pada kepala ranjang.


"Iya, kamu pasti lelah, cuti kita berdua diperpanjang paling tidak hingga seminggu ke depan," kata pria itu sembari mengelus mahkota istrinya.


"Iya Mas, maaf, kamu lagi sibuk banget padahal ya?"


"Harus aku usahakan, tidak mungkin aku pulang duluan, Wahyu bisa diandalkan," jawabnya santai.


Perempuan itu menatap dari bawah, memperhatikan garis wajahnya yang terlihat galau.


"Apa yang kamu pikirkan? Katakanlah, kamu memendam sesuatu?" Wening bangkit dengan posisi duduk. Menatapnya penuh selidik.


"Kamu selalu pandai membaca pikiranku, sudah seperti cenayang saja," ucap pria itu tersenyum.

__ADS_1


"Iya, makanya jangan coba-coba berbohong, istrimu punya insting yang kuat tentang dirimu."


"Kasihan Emir, Afnan bilang dia ingin mengambilnya," curhat Seno pada akhirnya.


Rencananya pria itu tidak ingin membagi ceritanya sekarang takut istrinya kepikiran. Tetapi rupanya dirinya tak pandai menyimpan sebuah rahasia.


"Om Afnan bilang gitu?" tanya Wening meninggikan suaranya.


Seno mengangguk, "Tapi langsung aku tepis, dia tidak berhak mengambil Emir, sementara kakakmu sudah mengamanahkan pada kita."


"Ish ... itu orang mau enaknya aja, jangan harap bisa bawa Emir, ngeselin banget!" omel Wening langsung kesal.


"Sayang, jangan kenceng-kenceng ngomongnya, nanti Emir terusik," tegur Seno sembari menarik istrinya agar merebah.


"Maaf Mas, sedikit emosi, kesel banget sama tuh orang, sudah begini aja datang nangis-nangis minta maaf. Dasar pecundang bastard!" cerocos Wening sebal.


"Udah jangan ngomel-ngomel, orangnya nggak ada, aku yang kena."


"Bukan kamulah .... " Wening memeluknya dengan menjadikan dada bidang Seno sebagai bantalan.


Perlahan netra itu terpejam sambil mendusel mesra. Pria itu baru saja ikut terlelap tetiba mendengar suara tangis bayi. Emir terbangun dan sepertinya haus di tengah malam. Karena kasihan membangunkan istrinya, Seno memilih membuatkan susu saja tanpa melibatkan kekasih halalnya.


Benar saja, usai Emir dikasih susu, bayi mungil itu kembali lelap menemukan kantuknya. Usai memberi susu pada Emir, pria itu kembali ke ranjang menyusul istrinya yang sudah lelap.


Keesokan paginya, masih dengan suasana duka, sembari mengurus Emir berbaur dengan ibu-ibu di rumahnya yang membantu untuk membuat menu untuk acara ngaji nanti. Semua itu berlangsung hingga tujuh hari lamanya. Acara rutin tahlilan bersama di rumah duka.


"Mas, besok kita pulang? Bagaimana cara membawa Emir, apakah boleh sekecil ini dalam perjalanan pesawat?" tanya Wening sedikit bingung dan cemas.


"Jangan khawatir, biar aku pikirkan untukmu, yang penting Emir sehat, pasti ada cara," ucap Seno menenangkan.


Sementara Afnan di hari itu kembali bertandang ke kediaman Pak Tomo untuk membahas perihal Emir. Namun, tak ada satu keluarga pun yang menerima pengasuhan Emir pada Afnan. Bahkan, kali ini Pak Tomo angkat bicara.

__ADS_1


"Berdasarkan amanah almarhum dan kesepakatan dari keluarga, biarlah Emir dalam pengasuhan Wening dan Seno, kalaupun kamu berbaik hati ingin bertanggung jawab, sekiranya ikut menyayangi dalam bentuk kasih sayang dan yang lainnya, tapi bukan untuk memiliki. Kecuali besar nanti, saatnya Emir siap sekiranya mengetahui semuanya dan ia akan memilih sendiri, serta menilai sendiri, mana yang terbaik dan tulus memberikan cinta untuknya. Biarlah saat ini bersama Wening dan Seno!" tegas Pak Tomo cukup yakin.


Keputusan final sudah dibuat, walaupun Afnan sedikit ngeyel tetap keluarga lebih berhak. Apalagi tidak pernah adanya pernikahan di antara Afnan dan putrinya, sudah jelas nasab Emir hanya pada Rara, jadi, tak ada kompromi untuk pengasuhan Emir, sekalipun pria yang berstatus ayah biologis Emir itu ngotot, tetap pulang dengan tangan kosong dan membawa penyesalan yang dalam.


"Kami pulang dulu, Bu, Pak, sehat-sehat selalu ya, kalau ada waktu dan kesempatan pasti akan ke sini lagi," pamit Seno meraih tangan Ibu dan Bapak dengan takzim.


"Hati-hati Nak, titip Wening dan juga Emir, semoga senantiasa kesehatan dan limpahan rezeki serta kasih sayang tercurahkan padamu, sukses selalu. Kami titip cucu Ibu dan anak Ibu, terima kasih Seno," ucap Bu Ana dan Pak Tomo penuh doa. Mereka saling memeluk haru.


"Wening pulang Bu, Pak, jangan khawatir, beri kabar selalu, kami menyayangi kalian selalu," pamit perempuan itu tersedu berurai air mata.


Kepulangan kali ini benar-benar terasa beda, seperti mimpi yang nyata, bahwa dirinya kini telah bersama Emir yang akan mewarnai hari-hari mereka. Karena bayi itu masih kecil, tentu kepulangan Emir dalam pantauan medis dan mengantongi izin bahwa Emir dinyatakan sehat untuk bisa di bawa pulang ke Jakarta.


Mereka menggunakan penerbangan pagi, jadi siang sudah sampai rumah. Wahyu menjemput kepulangan mereka di Bandara. Bahkan Pak Adi dan Bu Yasmin ikut menyambut kepulangan mereka di rumahnya yang hari itu terasa spesial. Bukan tentang mereka berdua, tetapi membawa bayi kecil, yang jelas tidak ada hubungannya dengan keluarga Ardiguna.


"Selamat datang, alhamdulillah sudah sampai," sambut Bu Yasmin sumringah.


"Terima kasih, Ma, sudah memberikan sambutan yang luar biasa," jawab Wening haru mencium punggung tangan mertuanya. Kedua ibu dan anak itu saling memeluk.


"Eh, iya, sesuai dengan kebutuhan kalian, dan amanat Seno kemarin, kami sudah mencarikan babysitter untuk baby Emir, mengingat kalian berdua sibuk, jadi tidak mungkin stay bersama Emir terus."


"Terima kasih, Ma, kami sudah membahas hal itu, dan Mas Seno juga setuju."


Nampaknya keluarga baru Wening dan Seno semakin ramai, terbukti mulai malam ini sudah ada tangisan bayi yang mewarnai di tengah-tengah mereka.


Setelah kepulangan kedua orang tua Seno, keluarga kecil yang baru dinobatkan menjadi ayah dan ibu dadakan itu bersiap dengan keriewehannya berdua yang tentu saja sangat berbeda dengan suasana kampung.


"Mbak, aku titip Emir bentar ya, tolong jagain, udah aku kasih susu," ucap Wening menemui babysitter mereka bebernama Nancy.


"Siap Buk," jawabnya sigap.


Wening kembali ke kamar malam itu dengan tubuh sedikit lelah, tetapi perasaan yang cukup lega dan bahagia.

__ADS_1


"Emir udah tidur di kamarnya?" tanya Seno menyambut kedatangan Istrinya ke kamar. Pria itu langsung menarik istrinya ke ranjang dengan penuh kerinduan.


"Hmm, beri aku waktu sepuluh menit untuk mempersiapkan diri, aku tahu kamu merindukan aku," ujar Wening mengerling nakal. Menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan juga memakai pakaian malam terbaik untuk menjamu suaminya malam ini.


__ADS_2