Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 73


__ADS_3

"Woe ... melamun aja, Ning! Masih pagi ini," tegur Mirna mengagetkan.


"Apaan sih! Bikin kaget aja," jawab perempuan itu cemberut.


Wening baru saja sampai di kelasnya. Namun, rasanya masih kepikiran suaminya yang saat ini tengah perjalanan pulang.


Perempuan itu sedikit terhibur saat fokus dengan materi kuliah. Setidaknya kesibukan mengalihkan dunia Wening menjadi tidak terlalu kepikiran. Apalagi setelah membaur dengan teman-temannya. Wening tidak begitu merasa hampa, walau sebenarnya selalu teringat.


Setelah siang hari, Wening meneliti ponsel suaminya. Belum online lagi semenjak tadi pagi, sepertinya pria masih sibuk atau bahkan belum sampai. Padahal perempuan itu khawatir plus menunggu kabar itu.


Apa salahnya menyapa lebih dulu. Toh mereka sudah suami istri, jadi Wening memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu. Perempuan itu pun menelpon suaminya, tetapi tidak ada jawaban. Mungkin saja Mas Seno masih di jalan atau belum sempat mengabarinya.


[Udah sampai mana, Mas? Nanti kalau udah sampai rumah ngabari ya]~


Perempuan itu mengirim pesan, lengkap dengan emoticon hati dan senyum semangat. Namun, hingga siang masih centang satu, belum dibalas sama sekali. Membuat perempuan itu harus menanti dengan sabar.


Saat tengah mengikuti kelas, Wening merasa handphone yang sengaja di-silent itu bergetar ada panggilan masuk. Namun, karena tengah ada dosen yang memberikan materi, perempuan itu pun tak sampai hati mengabaikannya, atau bakalan kena tegur dan terancam keluar.


Sepanjang materi terakhir, perempuan itu sudah tidak berkonsentrasi. Untung saja tidak ke-notice oleh dosennya. Hingga membuat perempuan itu merasa aman hingga jam berakhir.

__ADS_1


Perempuan itu langsung membuka ponselnya begitu dosen meninggalkan kelas. Benar saja, suaminya menghubunginya beberapa kali. Namun, sayangnya tidak membalas pesannya.


"Pasti suamiku lagi sibuk sama pekerjaan, ditambah kemarin cuti. Aku harus percaya dan berpikir positif, hanya ini yang bisa nyelamatin saat hubungan jauh. Saling percaya satu sama lain," gumam Wening kembali beraktivitas.


Usai dari kampus, perempuan itu langsung bertolak ke magna edu mengajar bimbel hingga menjelang sore. Jadi, praktis perempuan itu tak ada waktu untuk sekedar bersantai.


"Bagaimana? Saya sangat senang semenjak anak saya diajar Miss Ning, nilai-nilai di sekolahnya meningkat. Jadi, saya berinisiatif, untuk menjadikan Miss sebagai guru private saja khusus untuk Zada. Untuk memberi materi di rumah, agar anak saya bisa belajar di rumah dan lebih fokus. Bagaimana?"


"Wah ... turut senang dengan perkembangan putri Bapak, semoga semakin bersemangat belajar. Kalau masalah itu, berhubung saya sudah terikat dengan magna edu, belum bisa mengambil keputusan sekarang. Harus saya konfirmasikan terlebih dulu sama Kakak dalam," jawab Wening tak ingin menyalahi aturan.


Walaupun mungkin keputusan orang tua si murid bisa memberikan gaji yang lebih tinggi. Namun, keputusan harus sesuai mengingat Wening juga belum lama bergabung.


"Tidak apa, Miss, nanti ada konsekuensinya sendiri. Atau bisa bagi waktunya?"


"Akan saya pertimbangkan lagi, Kak," jawab Wening sedikit galau.


Dari bimbel, Wening langsung pulang. Rehat sejenak untuk mandi dan isoma. Setelahnya siap-siap ke kafe. Sempat menghubungi suaminya berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Membuat perempuan itu memutuskan untuk mengirim pesan saja.


[Maaf, Mas, tadi lagi di kelas. Baru pulang bimbel. Capek banget, tapi langsung semangat keinget kamu. Love you]~

__ADS_1


Wening mengirim pesan lalu senyum-senyum sendiri. Tidak langsung dibalas, membuatnya mengabaikan sejenak karena harus bersiap ke kafe. Walaupun Seno sudah melarangnya untuk melanjutkan pekerjaan itu. Nampaknya Wening tidak boleh resign begitu saja sebelum mendapatkan gantinya.


Owner di sana sangat memaklumi, apalagi sekarang hampir karyawan di sana mengetahui statusnya yang sama sekali tidak kekurangan uang. Jadi sangat wajar bila perempuan itu memutuskan keluar.


Sampai di kafe, perempuan itu langsung disambut teman barista lainnya dengan cie ciean.


"Wah ... aku kira udah nggak mau berangkat, masih butuh uang?" tanya Mada tak percaya.


"Kamu kata gue boss apa, duit mah ya pasti perlu. Ngarang-ngarang aja, bantu nyariin ganti dong, lagi persiapan," jawabnya jujur.


"Wokeh ... suamimu yang tajir dan ganteng itu sudah pulang? Nggak takut apa LDR-an, banyak tikungan loh, Ning!" cerocos Mada sedikit membuat perempuan itu kepikiran.


Seno sudah berjanji untuk saling setia, tetapi kalau keadaan memungkinkan banyak godaan siapa yang tahu dan tahan. Ada benarnya juga pikiran waspada diterapkan, walaupun sesama pasangan harus saling percaya.


Sementara Seno, pulang dari Bandung langsung ke kantor. Pria itu benar-benar sibuk. Apalagi beberapa hari ini perusahaan ada sedikit masalah di lapangan yang membuatnya harus turun tangan.


Seharian berkutat dengan pekerjaan membuat pria itu teralihkan pikirannya terhadap Wening. Hingga siang hari ia senyum-senyum sendiri mendapat pesan dari perempuan yang sudah sepenuhnya memenuhi hatinya.


Sayang sekali, saat berniat menghubungi panggilan selalu terjeda. Bahkan, hingga sesorean, Seno kembali mendapatkan pesan sayang dari istrinya. Hanya saja, pria itu selalu menghubungi di saat yang kurang tepat karena lagi-lagi tak ada jawaban. Lebih tepatnya, Wening tengah sibuk dan tidak memungkinkan untuk sekedar bertelepon ria.

__ADS_1


Seno kembali sibuk dengan pekerjaan hingga petang menyapa. Saat itulah ia baru merasa hampa, pulang ke rumah tidak ada kehangatan yang menyapanya. Makan malam sendiri, tidak ada sambutan saat pulang kerja, dan yang paling membuat pria itu nelangsa, saat menjelang tidur tidak ada istri di sampingnya. Mendadak Seno kangen luar biasa. Sayangnya, pria itu menghubungi di malam hari tak kunjung diangkat. Membuat pria itu uring-uringan sendiri setelah capek seharian.


__ADS_2