
Keduanya termangu di tempat, beberapa detik membuat Seno terlena dan refleks mendekatkan wajahnya. Menarik tubuh istrinya hingga terduduk di pangkuannya.
"Jangan gini ada banyak orang di rumah," protes Wening langsung bangkit dengan kikuk. Mendadak suasana kecanggungan tercipta di antara keduanya.
Pria itu baru saja hendak menjawab tetiba sebuah salam dari suara yang begitu familiar menggema. Rara pulang dan cukup kaget mendapati adik dan suaminya ada di ruang tamu.
"Waalaikumsalam ... Mbak Rara sudah pulang?" sapa Wening sumringah. Berbeda dengan Rara yang terpaku diam bertatap dengan mantan kekasihnya. Sungguh, orang yang tidak ingin Rara jumpai, seonggok daging di dalam sana tiba-tiba berdenyut menyentilnya.
"Iya, kapan sampai?" jawab Rara dingin. Terlihat lelah dengan perut membuncit.
"Kamu apa kabar, Mas?" sapa perempuan itu mencoba bersikap sewajarnya. Walaupun hatinya enggan, sudah kadung bertatap muka, mau tidak mau terpaksa mengulurkan tangan sambutan yang sejatinya tidak menginginkan balasan.
"Alhamdulillah baik, dari mana?" tanya Seno menimpali. Keduanya terlihat tidak nyaman, dan itu jelas sekali kentara di raut wajah Seno dan Rara.
"Kerja, ya sudah silahkan dilanjut, saya permisi masuk dulu," pamit Rara meninggalkan ruang tamu.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin Wening tanyakan pada kakaknya itu. Mulai dari kehamilannya dan ayah yang ada di dalam perut perempuan itu. Mungkin nanti atau besok setelah suasana akrab kembali menyapa keduanya.
Sepeninggal Rara masuk, Wening dan Seno kompak saling melirik, bahkan saling tatap. Sesungguhnya gadis itu cukup penasaran dengan ekspresi suaminya. Mendadak ia juga penasaran metode pacaran yang dulu pernah mereka lakoni, apakah bermesra-mesraan, romantis sepanjang waktu, atau bahkan dingin-dingin sayang. Yang pasti tidak mungkin seperti dirinya yang mengikuti alur dua binatang yang begitu fenominal itu, layaknya Tom and Jerry. Menyebalkan!
"Kenapa?" tanya Seno menatap datar.
"Cie ... ketemu mantan," selorohnya di luar dugaan. Membuat Seno menatap tajam.
Astaga! Dadar bocah!
Wening tersenyum meninggalkan pria itu yang menyorotnya galak, menyusul kakaknya ke dalam. Gadis itu memilih membantu ibu di dapur yang nampak sibuk menggoreng ayam dan membuat sambal. Ibu memasak gudeg dengan kuah santan dan perpaduan bumbu desa yang pastinya begitu bersahabat di lidah Wening.
"Wah ... enak nih Bu, udah lama banget nggak makan ginian," ujar Wening menghirup aroma masakan yang langsung mengundang cacing di perutnya protes.
"Sengaja masak ini, kamu kan suka sayur ini, jadi mumpung kamu pulang," ujarnya semangat.
Sore hari setelah membantu ibunya Wening bersiap-siap mandi. Seno sendiri entah ke mana, sepertinya pria itu tengah keluar rumah melihat-lihat pemandangan yang jarang ditemui.
"Suamimu ke mana Ning? Sudah mau maghrib belum pulang?" ujar Ibu menanyakan menantunya.
__ADS_1
"Tadi bilangnya ke depan, eh, jangan-jangan nyasar!" ujar gadis itu ikutan mikir.
"Aku cari dulu Bu, pinjam motor," ujarnya bergegas.
"Mbak Rara juga nggak ada di kamarnya, apa mereka jangan-jangan pergi bareng ya," gumam Wening mendadak tak tenang.
Perempuan itu langsung melesat menggunakan motornya. Mencoba mencari lewat gang kampung dan sepanjang jalan persawahan.
"Ke mana sih, ya ampun ... kenapa nggak kepikiran, 'kan bisa ditelepon, aish ... panik memang meresahkan!" gumamnya berbelok arah. Mendadak Wening yang keder dengan setiap gang yang hampir sama.
"Eh, eh, kok perasaan ke sini lagi, yang bener mana sih!" batinnya menggerutu jengkel. Hari sudah gelap, maghrib pun sudah berkumandang. Gadis itu tersesat di kampung orang tuanya yang jelas-jelas baru ia lewati.
"Duh ... jalannya yang mana ya, ayo ingat-ingat Wening, ponsel pakai acara ketinggalan pula. Sungguh malangnya nasibmu, Ning," batin gadis itu nelangsa.
Sementara yang di rumah jelas bertanya-tanya. Terutama ibu yang mendapati Seno pulang sendiri tanpa istrinya.
"Loh ... Wening mana Nak Seno? Kok nggak bareng?" tanya Ibu mencari-cari.
"Dari tadi saya sendiri Bu, bukannya Wening di rumah?" tanya balik Seno benar adanya.
"Tadi bilangnya cari kamu, bawa motor malah, atau jangan-jangan nyasar ya, duh ... itu bocah!" gumam ibu waswas.
"Astaga, nggak dibawa ponselnya," batin pria itu langsung resah.
Melihat sekhawatirnya Seno belum mendapati Wening pulang, membuat Rara tersenyum kecut. Pasti pria itu begitu mencintai adiknya yang seharusnya mencintai dirinya. Tanpa sadar hati Rara kembali berdenyut, mengusap kasar perutnya yang membuncit dengan hati marah.
"Biar Bapak cari," usul Pak Tomo menyela. Pria itu baru saja pulang dari masjid langsung keluar lagi menyusuri gang.
Sementara yang dicari-cari sampai di kampung sebelah. Motor yang melaju benar-benar menyesatkan dirinya ke jalan yang benar. Ia berhenti tepat di mushola kampung sejenak menunaikan sholat maghrib. Di tempat itu ramai, jadi Wening merasa aman.
"Bu, numpang nanya, ini kampung apa ya namanya?"
"Mbaknya baru ya? Ini daerah Dagen, Mbak," jawab seorang ibu ramah.
"Hehehe, baru sekali mudik Bu, sepertinya saya nyasar. Putar balik saja sepertinya gang yang tadi," ujarnya yakin.
__ADS_1
Wening menggumamkan terima kasih lalu menstater motornya yang mendadak alot.
"Oh no, ayo nyala please ... jangan rewel di saat aku tersesat, ini nggak oke," batinnya menjerit.
"Yes," pekiknya begitu mesin motor menyala.
Gadis itu menyusuri jalan sambil mengingat-ingat. Pasalnya ia tadi siang menggunakan taksi dan sepertinya melewati depan sekolahan.
"Nah ini baru bener, tadi lewat sini, terus ada pohon mangga yang sempat aku tunjuk-tunjuk karena buahnya lebat, ancaman banget kalau ada si Rajas, habis tuh mangga tetangga. Hahaha, jadi ingat bestie, apa kabar ya yang jauh di sana."
Gadis itu terus menyusuri jalanan yang nampak sepi tetapi ada satu dua orang anak tanggung berlalu lalang. Samar-samar dari kejauhan sorot lampu motornya menangkap sosok pria yang berjalan ke arahnya.
"Bapak, Mas Seno? Mau ke mana?" tanya gadis itu langsung menghentikan laju motornya.
"Alhamdulillah ... dari mana aja, Ning, kita nyariin," ujar Bapak lega menemukan putrinya sehat walafiat.
Berbeda dengan Seno yang menatapnya tajam dan dingin. Mungkin kalau tidak ada ayahnya sudah dijewer membuat orang cemas saja.
"Hehe. Maaf Pak, nyasar," jawab Wening dengan senyum entah. Menatap suaminya langsung tertunduk.
"Sudah ayo pulang, biar motornya Bapak yang bawa," ujarnya mengganti posisi. Jadilah mereka bonceng dobel dengan Wening di tengah dan Seno paling belakang.
Motor melaju cukup tiga menit saja, jaraknya sudah dekat tetapi karena salah gang jadinya muter-muter.
"Wah ... lewat sini deket banget Pak, langsung sampai," ujar gadis itu sembari turun dari motor.
"Iya, harusnya kamu tadi ambil kiri, malah ambil kanan ya lama. Untung ketemu kita, bisa sampai malam kamu, ada-ada aja. Ayo masuk," ujarnya mempersilahkan.
Wening langsung masuk ke rumah menyusul bapaknya diikuti suaminya.
"Dari mana saja Ning? Bikin heboh orang aja," tegur Rara begitu mendapati adiknya.
"Nyasar Mbak, payah emang. Haha, mandi dulu ya," ujarnya tanpa dosa.
Seno ikut masuk ke kamar, mendekati Wening yang tengah menyiapkan baju ganti.
__ADS_1
"Dari mana?" tanya pria itu dingin.
"Nyariin kamu, takut nyasar eh malah aku yang nyasar. Mas ke mana sampai sore, jalan sama Mbak Rara?"