Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 108


__ADS_3

Seno putar arah dengan wajah cemas, istrinya terlihat menahan sakit pada perutnya. Membuat pria itu makin tak tenang saja.


"Sakit banget?" tanya pria itu sembari fokus menyetir. Sesekali menengok ke arah kiri.


Wening tidak menyahut, rasanya susah diungkapkan. Ia terpejam seraya mengusap perutnya saat nyeri kembali melanda. Dandanannya yang cetar nampak mulai lusuh akibat sensasi rasa yang tak karuan kadang menyerang dan kadang sejenak hilang.


Seno menambah kecepatan laju mobilnya. Tetap fokus pada jalanan dan sesekali melirik istrinya. Bahkan satu tangannya terulur mengusap-usap perut istrinya untuk menenangkan.


"Suster Nancy, kamu bawa Emir pulang saja pesan grab, atau biar aku telepon Pak Eko saja jemput sekalian bawa keperluan Wening. Aku kurang paham," ujar Seno panik sendiri saat tiba di rumah sakit.


"Siap Pak," jawab Nancy turun dari mobil menggendong Emir.


Seno langsung memapah istrinya masuk yang disambut satpam jaga di depan lobby. Petugas medis langsung datang menghampiri setelah Seno menginterupsi. Wening langsung mendapat tindakan yang ternyata masih pembukaan lima. Termasuk agak cepat mengingat anak pertama.


Satu jam kemudian, Wening terlihat makin kesakitan. Perempuan itu terlihat menahan sakit sambil melakukan gerakan untuk mengalihkan rasa nyeri yang luar biasa.


Seno mendampinginya, pria itu mencoba tenang di tengah rasa gelisah detik-detik berjumpa dengan anak mereka. Pria itu juga menghubungi keluarganya kalau hari ini tidak bisa hadir memenuhi undangan lantaran istrinya mau melahirkan.


"Mas, sakit," keluh perempuan itu mondar-mandir dengan muka merah padam.


"Sabar ya, semoga cepet," jawab Seno menenangkan. Tak tega melihat kekasih halalnya menahan rasa sakit yang teramat.


"Perutku panas, punggungku pegel," rengek Wening tak karuan.


Seno mengusap-usap perut dan punggungnya bergantian sesuai request. Menjelang sore, masih pembukaan tujuh, Wening merasa semakin nyeri dengan jeda semakin sering.

__ADS_1


"Sabar ya, bentar lagi dedeknya keluar," ucap Seno menenangkan. Tidak tega melihat istrinya yang merengek kesakitan.


Pria itu tak beranjak sama sekali dari ruangan itu. Menungu dengan rasa campur aduk. Kasihan, takut, dan tentu saja tak sabar ingin bertemu dengan buah cinta mereka.


"Mas, aww ... sakit banget, ini tambah nyeri. Huh ...." Wening mengatur napas. Perempuan itu diperiksa kembali yang ternyata sudah pembukaan lengkap.


Dengan bimbingan dokter, akhirnya tepat pukul setengah delapan malam bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu dilahirkan. Rasa haru bercampur bahagia yang dirasa pasangan Seno dan Wening. Hari ini, mereka telah menjadi orang tua sesungguhnya.


"Terima kasih sayang, kamu luar biasa. Anak kita cantik banget seperti kamu," puji Seno seraya menciumi wajah istrinya. Ia menangis haru, bahagia dan lega pastinya mendapati anak dan istrinya sama-sama sehat setelah perjuangan yang begitu menegangkan.


"Dedeknya diadzani dulu Pak!" interupsi seorang dokter yang ikut bertugas di ruang persalinan.


Untuk pertama kalinya bayi mungil itu dalam dekapan ayahnya. Ada perasaan luar biasa syukur dan bahagia, dia benar-benar telah menjadi ayah.


Kabar baiknya, asinya bahkan sudah mulai keluar, membuat perempuan itu getol memberi pada bayi mungilnya yang tengah belajar.


"Ma, rasanya gini ya, geli dan sakit," keluh Wening mendesis saat bayi merahnya meraih sumber kehidupan miliknya.


Bu Yasmin langsung datang ke rumah sakit sepulang acara. Perempuan paruh baya itu begitu bahagia menyambut cucu pertama mereka.


"Pertama emang gitu Sayang, nggak pa-pa, nanti terbiasa," ucap Bu Yasmin menenangkan.


Seno ikut nimbrung di dekatnya. Rasanya luar biasa bahagia, melihat putri mungilnya yang sesekali ia towel gemas.


"Dia lucu sekali, kombinasi aku dan kamu jadi dedek gemes gini. Mau dikasih nama siapa?"

__ADS_1


"Siapa ya, iya lucu. Ya ampun ... yang di perut suka nendang-nendang sekarang udah dalam gendongan. Aku kaya mimpi, tapi sakitnya masih berasa banget," kata Wening sembari membuai putrinya.


Seno juga mengabari Pak Tomo dan Bu Ana di kampung. Kalau putri tercinta mereka sudah melahirkan, sehat, selamat. Tentu saja kabar bahagia itu disambut antusias oleh kedua orang tua Wening. Bahkan ayah dan ibunya akan pergi ke Jakarta untuk menengok cucu mereka. Yang tentu saja sudah ditunggu-tunggu Wening dan keluarga.


Usai melakukan panggilan vidio call. Wening istirahat sejenak karena bayi mungil itu tengah tertidur dalam pantauan nenek kakeknya.


"Mas, aku lapar," ujar Wening merasa kosong. Jatah makan yang tadi sempat dikirim belum tersentuh sama sekali.


"Mau makan apa? Biar aku cari untukmu, ini sudah dari tadi," ucap Seno mengiyakan. Dirinya juga merasa lapar, karena bahkan dari pagi belum makan.


"Bentar ya, aku pesan makanan saja, biar Wahyu bawa untukmu."


"Untuk kamu juga, kasihan papamud kelaparan," kata Wening tersenyum menatapnya.


"Lapar sih, tapi nggak nafsu makan lihat kamu kesakitan tadi. Sekarang suasananya udah beda, mungkin akan terasa enak," jawab Seno merasa lega.


.


Tbc


.


Teman-teman sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!


__ADS_1


__ADS_2