Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 110


__ADS_3

"Masih kangen, Buk, masak udah mau pulang," protes Wening nampak sedih waktu Bu Ana pamit.


Sudah seminggu ini Bu Ana dan Pak Tomo singgah di rumah putrinya. Bukan tanpa alasan, selain karena kangen, kedua orang tua Wening bela-belain terbang ke Jakarta demi menengok sang cucu.


"Kapan-kapan kalau ada waktu dan kesempatan bisa main lagi, ibu berharap lebaran nanti kamu juga mudik, jadi bisa ketemu lagi."


"Insya Allah Buk, masih kangen sebenarnya, berasa bentar banget," kata Wening yang masih alot ditinggal Ibu dan bapaknya pulang. Terlalu bahagia bisa berkumpul dengan mereka walau sebentar.


Seno mengantar mertuanya sampai terminal keberangkatan. Kedua orang tua dari istrinya itu menolak menggunakan pesawat. Mereka lebih nyaman dengan bus saja. Seno pun tidak bisa memaksa. Ia bisa memberikan uang tambahan lebih untuk mertuanya.


"Hati-hati di jalan, Bu, Pak! Nanti kalau sudah sampai memberi kabar ya," ucap Seno yang siang jelang sore itu ditemani Wahyu.


"Iya, terima kasih Nak Seno, titip anak dan cucu ibu, terima kasih sekali lagi," ucapnya haru.


Bisa menerima Emir seperti kayaknya putra sendiri, padahal mungkin masa lalunya jelas tak enak dikenang. Namun, Seno mampu menepis dan memperlakukan mereka dengan baik. Melihat Wening yang bahagia adalah jawaban tanpa bertanya. Seno terbukti memperlakukan anaknya dengan baik. Bersyukur sekali tentunya mempunyai menantu yang baik. Bahkan dengan Ibu dan Bapak pun tak lupa selalu memberi tunjangan.


Usai mengantar kedua orang tuanya, Seno langsung pulang ke rumah. Sebelumnya mampir sebentar hanya untuk membeli jajanan yang sengaja direquest istrinya.


Sampai rumah langsung bersih-bersih sebelum akhirnya menyambangi Zela yang tengah tertidur dalam box.


"Heh, bangun-bangun! Bayi ... main tuh ditunggu Emir," goda Seno rewel sekali. Papa muda itu selalu jail hingga membuat Wening kesal dan tentunya gemas sendiri.

__ADS_1


"Mas, jangan dibangunin, baru tidur baru minum ASI, kamu sana deh!" protes Wening kesal.


"Gemes, lihat-lihat tidur, lihat-lihat minum susu, dasar bayi," ujarnya sembari menoel gemas hingga membuat Zela sedikit terusik.


"Ish, namanya anak kecil ya gitu. Emir kan juga gitu dulu," jawab Wening menggeleng kecil.


"Lupa, habisnya yang sekarang berbeda, setiap malam perasaan dianggurin mulu. Aku kangen dikelonin," protes Seno yang merasa kurang perhatian.


Pria itu mendekati istrinya yang tengah duduk di ranjang, lalu tiduran sambil memeluk perut istrinya. Wening langsung mengelus kepalanya dengan sayang. Tersenyum melihat suaminya yang tengah mode manja.


"Eh, maafkan diriku Mas, sini aku sayang-sayang dulu mumpung Emir dan Zela lagi tidur," ujar Wening ikut merebah. Lalu mencubit pipi suaminya dengan gemas.


"Mas, tadi titipan aku dapat?" tanya perempuan itu menatapnya gemas.


"Hmm, aku taroh atas nakas, laper Dek," ujarnya kembali memeluk dengan manja.


"Ayo makan, aku juga udah lapar," ujar Wening beranjak.


"Libur gini malah lemes, pengen makan kamu," kata Seno yang membuat Wening mendelik tajam.


Pria itu tersenyum mengekor istrinya yang keluar dari kamar. Menuju ruang makan. Terlihat Emir baru bangun tidur tengah main bersama susternya. Duduk di lantai karpet memberantak mainan.

__ADS_1


"Boy, kamu udah bangun Boy!" seru Seno memanggil putranya yang tentu saja tidak menyahut.


"Sus, boboknya bentar banget," kata Wening sembari mengisi piring suaminya.


"Dek, satu aja, barengan," ujar pria itu menginginkan berbagi piring.


Perempuan itu pun menurut, mengisi piring satu porsi agak besar. Mengambil dua sendok sebelum akhirnya makan dalam diam. Samar-samar terdengar tangisan bayi, membuat Wening menghentikan acara bersantap sore itu.


"Zela bangun deh kayaknya," ujar perempuan itu bergegas ke kamar.


Seno refleks mengekor istrinya ke kamar sembari menenteng piringnya. Terlihat Wening langsung menggendong putri kecilnya. Bayi mungil itu pun terdiam dalam buaian ibunya. Sementara Seno dengan telaten yang bertugas menyuapi istrinya.


"Habisin Dek, bayiku ada tiga," ujar pria itu merasa lucu.


Kerempongan sederhana yang teramat mengesankan pastinya. Pria itu juga tidak sungkan membantu kerepotan istrinya yang masih belajar mengasuh bayi. Beruntung sudah ada pengalaman karena mengurus Emir, jadi tidak begitu kaget dengan kesibukannya saat ini.


"Mas, aku haus, bawain Zela dulu mau ambil minum," ujar perempuan itu beranjak.


"Biar aku aja yang ambil, Zela nangisan," ujar pria itu beranjak.


Hari libur bukan malah membuat pria itu santai, namun akan sangat sibuk merangkap jadi bapak rumah tangga. Begitulah kira-kira kesibukan barunya yang tengah digeluti dengan tekun, dan tidak boleh mengeluh pastinya. Sungguh pekerjaan yang akan membuat dirinya makin tahu, dan cinta bahwa seorang wanita itu spesial.

__ADS_1


__ADS_2