
Pria itu menyiapkan handuk, sementara Wening fokus membilas dengan hati-hati dan cukup teliti. Salah-salah nanti belum bersih.
"Mas, bantuin selimutin ke badan Emir," ujar perempuan itu merasa takut.
Suaminya menaruh handuk di pangkuannya, baru Emir di letaknya di atasnya begitulah, cukup riweh tetapi acara mandi pagi itu akhirnya selesai juga.
Usai memandikan baby Emir sesuai dengan tutorial yang baik dan benar. Memberikan minyak telon agar tubuhnya hangat sebelum memakai pakaian. Wening masih sibuk memakaikan baju sementara Seno bertugas membuat susu.
"Dek, ini bener nggak segini?" tanya pria itu memastikan kehangatan airnya.
"Iya Mas, ukurannya disesuaikan dengan petunjuknya saja, cepet, Emir haus, itu bibirnya udah cuap-cuap manjah," ucap perempuan itu memastikan.
Seno kembali ke ruang tengah menyiapkan susunya. Kembali ke kamar setelah jadi.
"Makasih sayangku," ucap Wening tersenyum. Mulai memberikan susu dalam botol pada bayi mungil yang sudah terlihat ganteng, dan lucu.
"Mas, gerah dan basah, aku harus mandi lagi sepertinya, tolong titip Emir sambil jagain susunya, dia sepertinya udah ngantuk," pinta Wening meminta tolong.
Seno mengiyakan, tidak masalah sambil bersantai sejenak menidurkan Emir yang dalam sekejab saja sudah menumbuhkan rasa sayang di hatinya. Berawal dari iba, namun tak tega rasanya hingga benar-benar memutuskan untuk ikhlas merawatnya.
Penampilan Wening yang baru saja mandi dengan berbalut handuk saja menuju kamar, membuat suaminya salah fokus.
"Udah selesai? Kok udah keramas?" tanya Seno memastikan.
"Keramas mah setiap hari kali Mas, belum, kan baru tiga hari, biasanya enam sampai tujuh hari bersih. Emir udah tidur?" tanya Wening tanpa menoleh, sibuk mencari baju dalam koper.
"Katanya sekalian bawa ganti, kamu mah meresahkan!" protes Seno mupeng sendiri melihat istrinya terlalu seksi.
"Hehehe, mumpung di rumah nggak ada orang, cuma kamu nggak pa-pa, aman," jawabnya santai sambil memakai pakaiannya yang jelas diperhatikan suaminya.
"Mas, jangan lihatin aku terus dong, grogi nih ...." protes perempuan itu sengaja menghindar dibalik pintu yang sengaja dibuka.
"Nggak pa-pa, halal juga," jawabnya santai. Malah mendekati istrinya dengan menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1
"Mas, janganlah aku malu," ucap perempuan itu benar adanya.
"Masih banyak?"
"Enggak sih, mungkin dua hari ini selesai, udah ngapain nanya terus, sana menjauh."
Wening lekas menyisir rambutnya yang masih basah.
"Dikeringkan dulu pakai handuk, jangan gini nanti masuk angin," kata pria itu memperingatkan.
Pria itu mengambil handuk kecil lalu membantu mengeringkan rambut istrinya. Pagi tadi sudah mandi tetapi tidak keramas, baru sempet setelah riweh mandiin Emir lantaran basah juga.
"Nah, kalau gini kan lumayan nyaman, udah cantik," puji pria itu sembari merangkum bahunya dari belakang, lalu mencium pipinya dari samping.
"Bapak kenapa nggak pulang-pulang, katanya gantian, gimana kita ke rumah sakitnya." Wening menunggu dengan resah.
Tak berselang lama handphone Wening berbunyi. Ibunya yang menelpon, suruh nitipin Emir ke tetangga sebentar jika harus ke rumah sakit. Rara tidak bisa ditinggal karena kondisinya makin ngedrop.
"Mas, sepertinya kita harus ke rumah sakit sekarang, Mbak Rara kritis, kata ibu, Emir dititip tetangga dulu nggak pa-pa," lapor perempuan itu menginterupsi suaminya.
Membawa bayi ke rumah sakit tidak dianjurkan apalagi masih terlalu kecil. Dengan berat hati, akhirnya Ning menitipkan ke Bu Suko tetangga ibu yang paling dekat. Wening juga meninggalkan susu dan botol bersih di sandingnya untuk persiapan jika nantinya lama.
"Titip bentar ya Bu, saya mau jenguk Mbak Rara dulu," pamit Wening sedikit tidak tega. Tetapi kata ibu tidak usah khawatir, Bu Suko bisa dimintai tolong dengan baik.
"Siap Ning, nggak pa-pa nanti saya bisa bikin susu sesuai takeran," jawab Bu Suko menyakinkan.
Pasangan halal itu tiba di rumah sakit tiga puluh menit setelahnya dan langsung menuju ruang rawat Mbak Rara.
"Gimana Bu, Wening mau ketemu?" ujar perempuan itu dengan tergesa.
"Sebentar, gantian sama bapak, Rara sedari kemarin masih sadar, walaupun kondisinya lemah, terus nanyain kalian," ucap Ibu sendu.
Wening segera masuk setelah ayahnya keluar, disusul Seno di belakangnya. Keduanya langsung mendekati ranjang di mana kakaknya tergolek lemah di sana.
__ADS_1
"Mbak, ini Wening, Mbak Rara pasti kuat," bisik perempuan itu di dekatnya.
Rara membuka matanya, menatap keduanya dengan senyum tipis samar, sedikit mengangguk dengan kedipan asa.
"Terima kasih sudah datang," ucapnya terbata dan lirih. Namun, masih cukup terdengar. Wening makin mendekat, menggenggam tangannya.
"Maafkan Mbak yang selalu merepotkan dirimu," ucapnya.
Wening menggeleng, "Nggak Mbak, Wening suka ngerawat Emir, Wening akan belajar jadi ibu sambung yang baik, jangan mengkhawatirkan apa pun," ucapnya tersedu mulai menangis melihat kondisi Rara yang makin menipis asa.
"Aku titip ini Ning," ucap perempuan itu mengambil sesuatu dari bawah bantalnya.
Lipatan kertas? Apa itu?
"Tolong sampaikan pada Naura, aku tidak mungkin bertemu dengannya. Tolong juga jaga Emir, rawat kalian saja," pesan Rara sekali lagi dengan yakin.
Seno dan Wening mengangguk mengiyakan tanpa keraguan sedikit pun.
"Maafkan aku, Mas, terima kasih sudah mencintai dan menerima adikku, semoga kalian bisa sama-sama terus. Maaf atas kesalahanku yang telah lalu," ucapnya menatap Seno.
Pria itu mengangguk, semuanya telah melebur tanpa dendam ataupun sakit hati. Berganti dengan rasa iba dan kasihan yang mendalam, jika mungkin, kesembuhan untuk Rara lah yang diharapkan.
"Sekarang aku bisa pergi dengan tenang," ucapnya semakin tak terdengar.
Usai meminta maaf pada suami dari adiknya, sekaligus pernah menjadi orang paling spesial dalam hidupnya, sebelum insiden malam itu terjadi. Di mana Rara dan Afnan harus terjebak dalam cinta satu malam yang menyebabkan kehadiran Emir ke dunia.
Kehilangan perawan itu sakit, baik atas keterpaksaan atau kehilafan. Entah ini masuk dalam kategori mana, yang jelas tidak ada niatan sedikit pun Rara berkhianat. Malam itu, seperti biasa saja, Rara menemani Afnan bertemu dengan klien penting untuk meeting bersama di luar.
Tidak begitu jelas, yang ia rasakan setelah minum untuk merayakan kerja sama yang terjalin, membuat keduanya berakhir di ranjang yang sama. Kesalahan satu malam, yang menyebabkan luka mendalam, hingga kini di detik terakhirnya membuat dirinya selalu merasa bersalah pada orang-orang yang sudah mencintainya.
Genggaman tangan Rara pada Wening makin melemah, hingga membuat perempuan itu seperti terlelap.
"Mbak! Mbak Rara!" pekik Wening histeris.
__ADS_1
Parameter di layar monitor ICU semakin melemah, hingga dokter memberikan ruang untuk keluarga inti mendekat dan mulai menyerukan ayat-ayat suci di dekat pasien.