
Hari yang paling ditunggu pasangan muda ini. Perdana setelah melahirkan itu tentu saja ada ketakutan sendiri. Apalagi Wening lahiran normal dan mendapat bonus beberapa jahitan.
"Mas, bersih-bersih dulu, masih tahan kan sampai nanti malam. Suasana kurang mendukung," ujar Wening terkekeh.
Seno pun mengiyakan, memang benar tidak mungkin sekarang. Mereka perlu ketenangan dan kenyamanan dalam melakukan ibadah yang satu ini.
"Oke, tapi aku save dulu niat baiknya, semoga lancar," ucap pria itu masih harus bersabar. Seno hanya menciumnya sekilas lalu beranjak ke kamar mandi. Salah-salah takut bablas.
Haruskah pria itu mengungsi sejenak ke hotel untuk semalam saja. Mungkin akan Seno rundingkan dengan Wening perihal ini mengingat punya bayi yang masih full ASI.
Usai mandi, pria itu menemui istrinya yang tengah membuai Zela. Emir sibuk berantakin seisi mainan di ruang tengah. Menunggu petang, mereka quality time bersama.
"Mau ngopi, Mas, biar aku buatin," ujar Wening beranjak. Menaruh Zela dalam box terlebih dahulu baru ke dapur.
"Boleh," jawab Seno sembari mendekati Emir yang tengah sibuk sendiri.
Ibu dari dua anak itu menuju dapur, terlihat Mbok Inah tengah sibuk memasak untuk makan malam.
"Mbok, kopinya habis ya, kok nggak ada?" tanya Wening mencari dalam rak dapur. Biasanya ada stok kopi kemasan.
"Belum cek, Non, kemarin mbok nggak beli," jawab Mbok Inah ikut membantu nyari.
"Habis ini mah, aku beli dulu deh, sekalian beli apa ya?" Wening mengingat-ngingat barang yang sudah habis.
Perempuan itu kembali ke ruang tengah, di mana suami dan anak-anaknya tengah berkumpul bersama.
"Mas, aku keluar bentar ya," pamit Wening menyambar kontak motor.
"Eh, mau ke mana?" Seno langsung berdiri ingin tahu.
"Beli kopi, kopinya habis, ke Alfa bentar, Mas, titip anak-anak."
Rupanya Seno tak mau ditinggal, pria itu ikut bangkit bergegas mengekor istrinya.
__ADS_1
"Ikut, Dek, sekalian mau beli rokok," ujar pria itu sedikit berlari mensejajarkan langkah Wening.
"Pakai motor aja, Mas, dekat doang, aku bilang ke Nancy dulu suruh jagain anak-anak."
Wening kembali ke belakang mencari pengasuh anaknya. Namun, Nancy ternyata sedang mandi, membuat perempuan itu menitip pesan saja pada Mbok Inah yang kebetulan masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
"Mbok, Nantinya suruh cepet ya, matiin dulu aja masakanya. Aku mau keluar bentar, tolong anak-anak jangan dibiarkan sendirian," ujar Wening sebelum akhirnya beranjak keluar.
Seno sendiri sudah mengeluarkan motornya bersiap mengantar istrinya.
"Ayo Dek, keburu sore," ucapnya tak sabaran.
"Emang berangkatnya sore kok, bentar, nitip anak-anak dulu,", ujar perempuan itu baru tenang. Tidak bisa seperti dulu kalau mau pergi pergi saja. Sekarang mempertimbangkan semuanya sebelum beranjak walau dekat.
Seno melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Wening membonceng sembari memeluk pinggangnya dengan mesra. Jalan-jalan sore yang cukup langka. Di mana keduanya menyempatkan waktu yang sempit ini untuk hang out berdua.
"Dek, sekalian keluar gimana? Mampir," ujar pria itu penuh ide.
"Oke deh, senyamannya kamu aja, tapi jangan ditunda lagi," pintanya.
Keduanya sampai di mini market terdekat. Membeli beberapa kebutuhan dapur dan barang lainya.
"Dek, bayarin, aku malah lupa nggak bawa dompet," ujar pria itu nyengir setelah mengambil rokok. Lalu keluar lebih dulu menunggu di depan.
Terang saja pria itu tidak membawa uang, tadi langsung ngikut begitu saja waktu Ning beranjak.
"Mas, udah?" Wening menyusul suaminya keluar.
"Langsung pulang berarti?" tanya pria itu memastikan.
"Iya, udah ini aja, beli lagi gampang. Pakai motor ribet bawanya kalau banyak-banyak."
Pria itu langsung bertolak ke rumah, sepanjang perjalanan merasa ini moment romantis yang tak terduga.
__ADS_1
"Kalau pakai motor gini tuh berasa makin deket ya, nggak pernah gini rasanya kok romantis banget," ujar Wening merasa senang.
"Iya, besok-besok pakai motor aja kalau jalan berdua. Biar kamunya nemplok melukin aku. Hehehe."
"Ish ... genit ikh ...." Wening mencubit gemas pinggangnya.
"Adoh ... jangan becanda sayang, geli, pedes, sakit, kita bisa jatuh," protes Seno menahan hawa panas akibat cubitan mesra istrinya.
Sampai depan rumah masih cekikikan gaje, hal remeh nan sederhana tetapi cukup membuat keduanya bahagia.
"Aku duluan Mas, asiku penuh," ujar Wening langsung melesat sembari menenteng belanjaan.
Perempuan itu menaruh asal lalu langsung mencuci tangan. Setelah bersih menghampiri Zela hendak memberi ASI. Sementara Seno menyeduh kopi sendiri sembari menikmati kepulan asap di luar rumah belakang.
Kumandang maghrib membuat pria itu beranjak dari sana. Begitu masuk terlihat Wening tengah mencarinya.
"Mas, dari mana sih?"
"Belakang, kenapa sayang, nggak kelihatan semenit aja dicariin. Kangen ya?"
"Ish ... bukan itu, kayaknya aku yes kalau keluar, Zela udah aku kasih ASI full, tapi nanti habis ibadah dulu."
"We ... beneran bisa, aku pesan kamar dulu ya, deal nggak nih."
"Deal, Mas, tapi nggak nginep, asiku nggak bisa lama juga semalaman bisa bengkak."
"Jadi, nanti malam tetap pulang?"
"Hmm ... lebih baik begitu. Tidak masalahkan?"
"Tidak masalah, asal aku cukup puas membuatmu lelah."
"Semerdeka kamu, Mas, malam ini aku pasrah."
__ADS_1