
"Aku pulang!" seru Seno sambil membawa tote bag di tangannya.
Seno menghampiri istrinya yang langsung menyambutnya pulang, mencium keningnya seperti biasa.
"Bawa apa, Mas?" tanya perempuan itu melongok isi tote bag yang sudah berpindah ke tangannya.
"Brokat? Wih ... couple nih ceritanya?" Wening meneliti dengan seksama.
"Dicoba dulu sayang, muat nggak? Kalau nggak bisa ditukar mumpung masih ada waktu," ujar Seno sembari melepas dasinya.
"Mumpung masih ada waktu? Memangnya kita mau ke mana?" tanya perempuan itu menatap penuh selidik.
"Temanku mau nikah, kita diundang ke sana. Cobain sayang!"
"Owh, kapan?" tanya perempuan itu santai hendak melepas begitu saja di sana.
"Eh, beneran ganti di sini?" pekik Seno menghentikan langkahnya hendak ke kamar mandi.
"Kenapa? Kamu masuk kamar mandi sana! Jangan ngintip!" peringat Wening galak.
"Dek, aku udah absen banyak hari loh, kata dokter hamil tua tuh bagus nengokin adek bayi."
"Nanti malam Mas, aku males bolak balik keramas. Nanggung bentar lagi maghrib," tolak Wening menundanya.
"Baiklah aku sabar menunggu tiga jam kemudian. Gimana, muat?"
"Belum dicoba, baru mulai dipakai."
Bukanya masuk ke kamar mandi, Seno malah mendekati istrinya.
"Coba pakai dulu, biar aku lihat pas nggak. Ini tuh bahan dari sana yang aku jahit sendiri. Masih keluarga dari mama, jadi, kita semua nantinya seragam."
"Pas sih, tapi berasa aneh nggak sih? Perutku bulet banget." Wening terkekeh sambil ngaca.
__ADS_1
"Biar bulet tetep cantik kok, berarti aman ya, muat. Nanti aku laporan ke mama kalau baju ready."
"Aku masih suka heran sama kamu Mas, musti apa-apa tuh ngomongnya dadakan. Untung muat, apa ya nggak repot bongkar pasang kalau acaranya besok."
"Heran aja nggak pa-pa, beginilah suamimu. Semoga nggak luntur sayangnya," ucap Seno sembari menyambar pipinya.
"Mandi dulu ya mamud Emir, biar wangi terus kalau deket-deket kamu," seloroh pria itu beranjak.
Wening mengemas pakaian yang baru dicoba, sekalian mencari asesoris yang cocok untuk acara besok. Perempuan itu prepare lebih awal mengingat suaminya tipikal manusia santai dan sukanya dadakan.
"Eh, udah dimacing-macingin." Seno mengamati dengan detail pakaian yang sudah rapih di tempatnya lengkap dengan sepatu dan tas yang ingin dipakai besok.
"Biar besok nggak riweh," ujar Wening lega juga.
Perempuan itu menyiapkan pakaian ganti suaminya yang saat ini tengah menanti sambil merapikan rambut di depan kaca rias.
"Ini Mas ganti," titah Wening menyodorkan satu style pakaian rumahan.
"Kuku kamu panjang banget, nggak ke salon?" tanya pria itu sembari memakai kausnya.
"Belum, besok mungkin. Anterin ya sekalian mau potong rambut," ujar Wening belum ada waktunya.
"Besok jam berapa? Kita berangkatnya pagi loh, rapihin sekarang masih ada yang buka nggak?"
"Ini kan hampir petang, udah tutuplah Mas."
"Sini biar aku rapihin. Bisa bahaya ini buat aku," gumam Seno merasa resah.
"Apaan sih, nggak mau nanti jelek!" tolak Wening tak setuju.
"Nggak, dirapihin aja, itu sekalian sama kakinya tuh udah panjang-panjang."
Merasa gemas akhirnya Seno membujuk istrinya untuk memotong kukunya. Sering kali punggung Seno menjadi perih lantaran istrinya suka bermain-main di sana.
__ADS_1
"Jangan terlalu pendek, nanti jelek!"
"Hmm ...." Pria itu nampak fokus merapihkan kuku cantik istrinya dengan telaten. Terakhir kuku pada jemari kakinya, Seno rapihkan semuanya.
"Nah, kalau gini kan nanti malam aman. Hehehe." Seno nyengir sendiri penuh arti.
"Udah? Dih ... pendek amat. Biasanya juga aman, kapan aku cakarin kamu."
"Pernah Dek, punggung aku perih semua habis sayang-sayangan sama kamu. Lagian itu bahaya nanti kalau ngurus Emir."
"Iya pamud, cerewet!" tegur Wening seraya berjalan ke kamar mandi. Mencuci tangan dan kakinya, sekalian mengambil wudhu lantaran adzan sudah terdengar.
Keduanya menunaikan ibadah bersama. Usai sholat, Wening membantu menyiapkan makan malam. Sementara Seno bermain bersama Emir sebelum bocah bayi itu tidur.
"Boy, kangen nggak sama papa, seharian belum digendong ya. Coba sini papa lihat gigi barunya," ucap Seno mengajak Emir bercakap-cakap.
Bayi yang sudah mulai merangkak itu tersenyum senang kala ayahnya mendekat lalu mengajaknya main.
"Mas, ini kopinya?" Wening mengantar secangkir kopi teman cemilan pisang krispi yang baru saja diangkat dari penggorengan.
"Siapa yang buat?" tanya Seno tumben-tumbenan.
"Mbok Ijah, aku mung nyawang sambil bikin kopi. Gimana, mantep to?"
"Hmm, makasih sayang," jawab pria itu mengambil duduk, lalu menyeruput kopinya.
"Dek, kenapa ini kopinya kemanisan?" protes Seno menatapnya dengan raut wajah aneh.
"Masak sih, perasaan aku kasih gulanya dikit kaya biasanya," sahut Wening merasa heran.
"Iya, terlalu manis, karena aku minum sambil natap kamu! Hehe!"
"Ya ampun ... receh!"
__ADS_1