Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 61


__ADS_3

Wening pulang sore hari saat Seno belum sampai rumah. Hatinya sedang begitu kacau, perasaannya mendadak mellow. Apa yang harus ia lakukan? Saat sebuah fakta yang cukup melesakan menimpa dirinya. Sayangnya hingga malam menyapa, Seno tak kunjung pulang. Entah pria itu ke mana? Wening tidak berani menghubunginya. Benar-benar takut menggangu kenyamanan pria itu.


Gadis itu menunggu hingga ketiduran. Namun, saat pagi menyapa, ia juga tidak melihat pria itu di samping tidurnya.


"Mbok, Mas Seno udah berangkat?" tanya Wening pada asisten rumah tangganya.


"Baru saja keluar Non, Non Wening mau sarapan sekarang?"


"Nggak usah Mbok, nanti aku siapin sendiri kalau udah pingin. Makasih ya Mbok," ujar perempuan itu mendadak lesu.


Sebenarnya Wening pingin ngomong, tetapi hampir tidak ada waktu. Bahkan hingga hari-hari berikutnya, keduanya jarang terlibat obrolan bersama. Seno yang mendadak begitu sibuk hingga lembur-lembur dan berangkat di pagi buta. Membuat nyaris tak ada waktu untuk sekedar ngobrol bersama.


Entah malam yang ke berapa, keduanya terus berdiam diri hanya sekedar menyapa tanpa berbicara kehangatan lagi. Kabar baiknya, hatinya sedikit terhibur saat pengumuman PTN-nya dinyatakan lolos di salah satu universitas yang diinginkan. Membuat gadis delapan belas tahun itu sibuk menyiapkan sekiranya barang bawaan yang akan dibawa.


"Belum tidur?" sapa Seno baru memasuki kamarnya.


"Belum Mas, kamu baru pulang?" tanya Wening selembut mungkin.

__ADS_1


"Ini koper apaan? Kenapa ngemas barang?" tanya Seno menatap penuh tak ramah.


"Maaf Mas, aku belum kasih tahu ya, jadi aku keterima di Bandung, dan besok aku udah harus berangkat untuk nyiapin bekal awal masuk kuliah, persiapan maba."


"Kamu kok nggak ngomong sih! Tiba-tiba pergi gitu aja, setidaknya bilang dulu, emang aku ngizinin kamu kuliah di luar kota!" sentak Seno yang membuat gadis itu langsung terdiam.


"Ya gimana aku mau ngomong, Mas akhir-akhir ini selalu pulang larut, berangkat pagi, nggak pernah ada pesan aku susah buat komunikasi, sekarang marah-marah!"


"Aku kerja, aku sibuk kerja buat kamu, bisa ngerti nggak sih!"


"Oke Mas, kamu kerja buat aku, makasih, tapi aku juga perlu kamu, bukan hanya sekedar uang kamu, didiemin terus berhari-hari, aku pikir kamu nggak peduli!" jawab Wening mencoba menahan diri.


"Siapa yang nggak peduli, ngertiin sedikit perasaan aku bisa nggak sih! Aku tuh capek, baru pulang kerja, kamu nggak pernah ngerti posisi aku."


"Iya, aku emang nggak pernah ngertiin kamu, kalau gitu sana cari perempuan yang bisa ngertiin kamu, Mas!" sahut Wening berkaca-kaca.


Suaminya menjadi begitu sangat labil, mungkin benar perkataan Om Afnan kemarin, kalau Seno masih memendam perasaan yang sama.

__ADS_1


Pria itu jelas emosi, kesal, marah, dan capek yang melanda, pulang disuguhi kecerewatan Wening yang nggak ada nurut-nurutnya, membuat pria itu makin murka. Seno akui, ia memang sedikit merasa bersalah dengan Rara, hingga membuatnya memantapkan perasaannya. Namun, ia sadar, sekarang sudah menikah dan memantapkan hatinya pada istrinya, ia hanya masih kecewa dengan keadaan, sedikit kaget dan perlu waktu untuk menepi. Nyatanya Wening menanggapi dengan sikap yang berbeda.


"Aku belum selesai ngomong, kebiasaan banget jadi orang nggak menghargai kalau lagi dikasih nasihat!" Seno marah saat Wening meninggalkan kamar.


Wening yang terlanjur sakit hati, kesal, dibentak-bentak langsung pergi menghindari percekcokan itu dari pada makin panjang. Memilih pergi ke kamar sebelah menenangkan diri.


"Kamu denger nggak sih, balikin baju-baju kamu ke lemari. Kamu bisa lewat jalur mandiri, bisa daftar kuliah di Jakarta yang mana aja, banyak, kenapa harus jauh-jauh ke luar kota. Dari awal niat banget emang nggak mikirin rumah tangga kita gimana."


Seno kembali menyeret koper Wening untuk dikeluarkan isinya yang sudah rapih.


"Jangan Mas, aku udah capek-capek packing ini, kamu kenapa sih! Ini tuh tentang pendidikan aku, impian aku!" sentak Wening kehilangan kesabaran.


Seno menatapnya tajam, mengikis jarak lalu menarik tengkuknya. Menyambangi bibir istrinya dengan brutal, membuat gadis itu makin murka saja. Perempuan itu meronta, bahkan menampar suaminya yang cenderung memaksa bercampur emosi.


Seno yang gemas semakin tak terkendali, tidak peduli tamparan atau bahkan penolakan. Pria itu mendorong istrinya hingga terjerembab ke ranjang, lalu kembali mencumbunya dengan gemuruh hasrat bercampur emosi jiwa.


"Jangan lakuin ini kalau kamu masih mencintai, Mbak Rara!" pekik Wening kembali menampar suaminya. Membuat pria itu terdiam membeku, menatap tak percaya. Spontan Wening mendorong tubuh suaminya agar menjauh dari tubuhnya.

__ADS_1


Gadis itu menangis sesenggukan sembari memeluk lututnya terduduk di lantai pinggir ranjang.


__ADS_2