Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 58


__ADS_3

Afnan balas menatap dengan dingin, sepertinya pembahasan ini akan lama, hingga memerlukan ruang yang berbeda.


"Sayang, kamu nikmati saja dulu jamuan ini, ada sedikit pekerjaan yang harus aku bahas," ujar Afnan mencoba mendalami peran yang paling baik.


"Dek, temenin itu Naura, ajak ngobrol, aku harus ngomong sama Afnan," bisik Seno sembari mencuri kecupan singkat di telinganya.


Ish ... geli, ini orang bikin aku merinding aja!


Sementara Seno dan Afnan, pindah posisi ke meja Wahyu. Nampak kedua pria yang saling mengenal akrab itu saling menatap tajam dalam diam.


"Aku tahu ini bukan hanya sekedar pembahasan bisnis, katakan dengan jelas, apa maksudmu?" tandas Afnan tak tahan lagi dengan gelagat Seno yang cukup menarik perhatiannya.


"Wah ... ternyata kamu cukup pintar mengartikan semua ini. Tentu saja, kamu harus menjelaskan padaku tentang suatu hal yang kamu lakukan di belakang aku."


"Menjelaskan apa? Sengaja memancing ketenanganku, Bro, jangan main-main, istriku ada di sini."


"Justru aku mengundangnya, agar semua jelas dengan apa yang dilakukan suaminya di belakangnya."


"Kamu mau kejelasan? Yang pertama, aku tidak pernah berkhianat tentang persahabatan kita, dan yang kedua antara aku dan Rara mengenal karena memang kita partner kerja," jelas Afnan tenang.


"Aku tahu kamu tidak sejahat itu, aku juga tahu kamu adalah orang yang cukup setia dengan pasanganmu. Aku juga tidak percaya, tapi aku meminta kejelasan, ada nyawa yang dipertaruhkan membutuhkan seorang bapak, aku hanya ingin kamu tahu, kalau memang kamu yang berbuat, kamu juga harus bertanggung jawab!" tandas Seno gemas dengan sikap Afnan yang selalu menggampangkan dengan segala sesuatunya.


"Aku gagal menikah, karena Rara hamil, dan itu bukan anakku, karena aku bahkan belum pernah menyentuhnya!" ucap Seno yang membuat Afnan terdiam.


"Perasaan aku tentu saja hancur, pernikahan indah itu hancur dalam sekedip mata. Sampai pada akhirnya, Wening bersedia menggantikan kakaknya. Tidak mudah buat aku, di saat keduanya begitu mirip, dengan sisa perasaan yang aku miliki, walaupun aku akui, sekarang aku berhasil membuat diriku jatuh cinta kembali dengan gadis remaja itu. Aku hanya ingin kamu bertanggung jawab, apa pun alasannya, aku tidak mau tahu. Kamu sudah mengambil apa yang seharusnya bersanding denganku. Aku sudah lapang, tetapi apa kamu tidak kasihan seandainya anak itu lahir tanpa seorang ayah."

__ADS_1


Afnan masih belum mau membuka suara, ada perasaan bahagia kala membahas anak. Mengingat selama perjalanan menikah keduanya belum dikaruniai keturunan. Namun, disisi lain, juga ada perasaan sedih yang teramat. Kesalahan satu malam yang tak pernah ia sangka lebih tepatnya. Tidak ia inginkan, dan tidak pernah Afnan harapkan.


"Maaf, atas semua yang terjadi, aku akan bertanggung jawab untuk anak itu, tetapi tidak untuk menikahinya, aku sudah mempunyai istri," jawab pria itu dengan lunglai.


"Kenapa kamu mau jadi pengecut, setidaknya kamu bertanggung jawab untuk keduanya. Rara dan keluarganya menanggung malu atas semua ini, sampai mereka memutuskan pindah ke Jogja."


"Dia tidak mau menerima pertanggung jawaban dari aku, karena dia masih sangat mencintaimu?"


"Apa?" Seno cukup shock mendengar hal itu.


"Bohong, aku nggak percaya, bisa saja kamu nggak pernah peduli, tolong nikahi dia, kasihan anak yang ada di dalam perutnya."


"Kemarin, setelah aku meminta nomor dari Wening, aku mencoba untuk menghubungi Rara, dia sangat membenciku, jujur, aku juga tidak tega melihat semua itu, bahkan, Rara terus mengusirku."


"Aku akan mempertimbangkan kembali, dia gadis yang baik, kita hanya pernah salah dalam lingkaran yang tak seharusnya terjadi. Karena aku dan Rara tidak pernah menginginkan semua itu terjadi."


Afnan pikir, kesalahan satu malam yang pernah hadir dianggap selesai dengan Rara menikah dengan kekasihnya. Tanpa tahu kalau bekas malam itu tumbuh membekas di rahimnya. Jelas saja membuatnya galau, karena di sisi lain, ada seorang wanita yang juga sama harus dijaga perasaannya.


Malam itu, panjang dan cukup pelik, tak jua menemukan titik temu. Rara yang tidak mau menerima pertanggung jawaban Afnan karena masih mencintai Seno, jelas mengusik pikiran pria itu. Apalagi, kesalahan mereka yang jelas tanpa sengaja, hubungan yang tidak seharusnya tercipta. Membuat pria itu merasa kasihan.


"Kenapa Mas?" tanya Wening memperhatikan suaminya yang termenung sendiri.


"Nggak pa-pa," jawab pria itu terlihat sedikit aneh. Tetiba memeluk gadis itu begitu erat, seakan mencari ketenangan dalam dekapan hangatnya.


"Aku tahu kamu tidak baik-baik saja, aku sudah cukup dewasa mendengarkan curhatanmu," ujar gadis itu bijak.

__ADS_1


Keduanya sudah sampai rumah kembali, namun Seno seperti memendam kegalauan sendiri.


"Om Afnan tidak mau bertanggung jawab?" tebak Wening menghadap suaminya.


"Dia ingin bertanggung jawab, tapi Rara nggak mau," jawab Seno tercekat.


"Karena Of Afnan sudah menikah? Atau karena hal lain?" tanya Wening penuh selidik.


"Mungkin, biarlah mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita pantau saja, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu hal, walaupun itu kebenaran."


"Apa itu artinya pasrah?"


"Tidak juga, tetapi itu urusan mereka kalau masalah hati, kita membantu sekuat hati, tetapi kalau orangnya nggak mau ya bagaimana lagi."


"Apa pilihan mempunyai anak di luar nikah itu lebih baik dari pada menjadi istri kedua? Ah ... aku jadi pusing memikirkan ini. Mas ... besok ada undangan ke sekolahan. Aku sampai lupa."


"Kelulusan?"


"Iya, dan mungkin kamu satu-satunya orang yang mewakili dengan status sebagai suami."


"Kamu malu?"


"Nggak, asal Mas jangan kelihatan kaya bapak-bapak aja. Nanti dikira ayahku beneran. Atau gini aja, aku minta tolong mama aja buat datang mewakili kedua orang tuaku."


"Biar aku saja, menjadi wali kamu, suami, sekaligus pendamping hidup."

__ADS_1


__ADS_2