Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 87


__ADS_3

Usai rapat, Seno kembali ke ruangannya. Mendapati istrinya tertidur di sofa. Ia mendekat dengan perasaan lega, setidaknya menuruti dirinya walau sempat ragu akan berontak. Seketika membuat pria itu merasa iba dan kasihan. Ditatap wajah ayunya yang tengah terlelap, sudut netranya masih sedikit basah bekas menangis. Pria itu berjongkok, mengulurkan tangannya untuk membenahi anak rambut yang menjuntai ke pipi dengan perasaan bersalah. Sudah memarah-marahinya tadi.


Di meja masih ada paper bag bawaan Wening tadi, iseng membukanya yang ternyata isinya bekal makan siang. Membuatnya bertambah dobel merasa bersalah mengabaikan bawaannya.


"Maaf, kasihan kamu udah capek-capek masak buat aku malah nggak dimakan," gumam Seno lalu mengecup keningnya.


Kembali ke meja kerja sambil menunggu istrinya terbangun. Karena tak kunjung bangun, membuat Seno mau tidak mau membangunkannya.


"Dek, ayo kita pulang," ucap pria itu seraya mengelus pipinya. Tak ada sahutan membuat pria itu *****@* habis bibirnya, hingga membuat Wening terusik. Benar-benar terusik.


Perempuan itu membuka matanya dengan wajah mrengut. Langsung memberi jarak saat tersadar suaminya baru saja membuatnya sedikit kaget.


"Ayo pulang!" ajak pria itu lembut.


Wening tidak menyahut, dengan mata satu mengangguk mengiyakan. Berjalan tepat di sebelahnya, saat pria itu hendak menuntun tangannya, Wening menyimpannya dengan melakukan gerakan lain lalu berjalan cepat mendahului.


"Masih marah?" tanya Seno setelah sampai lift.


Wening menggeleng seraya memberi jarak, membuat Seno gemas lalu menarik pinggangnya.


"Kalau nggak marah kenapa jaga jarak, emang aku sejenis virus yang harus dihindari apa," bisiknya tepat di samping telinganya. Membuat perempuan itu setengah merem atas ulah suaminya.


Pintu lift terbuka, keduanya sama-sama keluar dengan diam. Masuk ke mobilnya yang Seno bawa sendiri tanpa Wahyu. Pria itu sedang diberi kebebasan untuk tidak mengantarnya sore ini.


Sepanjang perjalanan pulang Wening hanya diam. Masih sedikit kesal dengan situasi yang ada. Suaminya itu hobi sekali marah-marah yang membuatnya kadang merasa tidak betah, namun kadung tresno.


"Mumpung belum sampai rumah, mau ada yang dibeli nggak?"


"kepercayaan," jawab Wening asal.


"Maksud kamu?"


"Pengen beli kepercayaan kamu, biar nggak gampang marah, dan setidaknya bisa denger jeritan hatiku."

__ADS_1


"Aku percaya kok sama kamu, marahku kan karena sebab, kalau kamu nurut, mana bisa aku marah," jawab Seno dengan penbelaan.


"Dek, maaf ya tadi nggak ngeh kalau kamu bawa bekal ke kantor, tadi sore mau aku makan, tapi udah dingin."


"Udah capek-capek masak, sia-sia dan mubadzir, kapok!" jawab Wening bergumam kecil dengan nada jengkel.


"Lain kali kalau mau perhatian bilang dulu, biar jadwalnya nggak bentrok," ucapnya percaya diri.


Setelah perjalanan kurang lebih lima belas menit. Mobil Seno memasuki pekarangan rumahnya. Wening lebih dulu turun dan langsung masuk. Menuju lantai dua, tepat sekali kamarnya.


Seno juga langsung memasuki kamarnya. Menaruh tas miliknya, dan melepas dasi yang seharian melingkari kerah lehernya. Usai dari kamar mandi dengan wajah mrengut, Wening langsung keluar kamar tanpa berbicara sepatah kata pun.


Perempuan itu menuju dapur, perutnya terasa nyeri.


"Mbok, tolong buatin wedang jahe dan kunyit ya, perutku sakit," pinta Wening mendekati asisten rumah tangganya yang tengah sibuk membuat menu makan malam.


"Siap Non, lagi datang bulan ya?" tebak perempuan itu seperti biasanya. Langganan, kalau masa periode gini, Wening biasa meminta dibuatkan minuman tersebut.


"Iya, tumben banget lebih awal, sepertinya karena capek dan stress."


"Mbok, tolong nanti bawain ke kamar ya, aku pingin rebahan," pesan Wening sebelum akhirnya beranjak.


Seno yang baru saja keluar dengan rambut sedikit basah habis keramas menatap dengan wajah bertanya-tanya.


Perempuan itu mendiamkan saja, giliran sekarang Wening yang merasa malas dan jengah ditambah tiba-tiba datang bulan dengan rasa nyeri. Jelas saja membuat moodnya berantakan dan tidak ingin terjadi perdebatan apa pun.


"Dek, petang gini jangan tiduran, bangun sayang!" tegur Seno mendapati Wening malah merebah dengan selimut rapatnya.


"Apa sih, minggir sana, nggak ngerti banget jadi cowok," omel Wening kesal.


"Ngambeknya berlanjut nih ceritanya? Kalau udah di rumah, apalagi di kamar, kita harus menyelesaikannya dengan cara yang baik dan benar dan seharusnya. Aku tadi udah minta maaf, kamu juga udah minta maaf waktu di kantor, kenapa jadi panjang gini."


"Ya udah sana, udah dimaafin, cuma jangan deket-deket, aku lagi males," tolak Wening saat Seno mencoba menyentuhnya.

__ADS_1


"Males, kamu nggak kangen sama aku? Kok malas ketus gitu, giliran aku deket sama cewek nanti ngambek."


"Ya udah sana tinggal pilih yang kamu suka, dasar laki-laki sama aja. Sana pergi, ngeselin banget sih jadi cowok!" omel Wening kesal sendiri. Bangkit dari ranjang terus keluar menuju kamar sebelah menenangkan diri. Nyeri haid yang melanda benar-benar membuat moodnya kacau maksimal hingga tanpa sadar mereka bertengkar kembali.


"Astaga, aku salah ngomong, spaneng banget hidupnya, becanda dikit emang nggak bisa ya? Apes!" gumam Seno kesal sendiri. Sepertinya istrinya benar-benar merajuk, apa ini gegara bekal makan siang tadi yang terabaikan?


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan pria itu.


"Maaf Tuan, pesanannya Non Wening," ucap Mbok Inah membawa nampan berisi segelas wedang beraroma khas rempah.


"Eh, kenapa buatin minuman gitu? Jangan-jangan Wening! Mati aku."


"Terima kasih Mbok, biar aku saja yang kasih."


Seno paham betul dengan minuman khas yang selalu istrinya minum saat tengah datang bulan. Ngalamat apes ngambeknya berkepanjangan dan terancam nggak dapat keasyikan selama sepekan.


"Ya ampun ... nasib bener, mana udah kangen lagi, ah ... kenapa pas banget sih!" batin pria itu masuk ke kamar sebelah.


"Dek, ini minumnya. Masih sakit? Ayo pindah kamar."


Wening bangkit dari pembaringan, lalu meraih gelas itu dari tangan Seno. Lekas minum selagi hangat, membuat perasaan dan keadaannya lebih baik.


"Maaf sayang, aku nggak tahu kalau kamu lagi masa periode, perasaan cepet banget, biasanya awal bulan, ini masih akhir bulan kenapa udah dapat lagi."


"Mungkin aku lelah, stress, dan banyak kesal, jadi hormon aku berubah, gini deh."


"Emang bisa gitu?"


"Bisalah ini buktinya."


"Oke, sini aku pijetin," ujar Seno perhatian.


Memijit lembut punggungnya yang terasa pegal dapat mengurangi rasa tidak nyaman pada istrinya. Terbukti ampuh, harus lebih sabar, dan sedikit diberi perhatian dan kasih sayang.

__ADS_1


"Pindah kamar sayang," ujar Seno menginterupsi.


"Hmm, gendong Mas, mager jalan," jawabnya manja.


__ADS_2