
"Iya bener, akhirnya aku menemukanmu!" Rajas tak kalah senang bertemu dengan seseorang yang masih rapat tersimpan namanya.
"Kamu ambil jurusan ini juga? Wah ... kok baru nongol?"
Wening baru mau menjelaskan, sayang sekali terjeda dengan kehadiran dosen masuk ke kelasnya. Mereka mencoba menahan diri merayakan uforia pertemuan mereka yang tertunda selama beberapa purnama.
Rajas langsung menghampiri begitu dosen meninggalkan kelas.
"Kamu apa kabar? Kita cari tempat yuk, sambil nunggu makul yang masih nanti."
"Baik Ja, ya ampun ... masih berasa mimpi aku tuh, bisa satu kampus, satu jurusan, dan satu kelas pula. Ish ish ish kebetulan yang membanggongkan."
Keduanya berjalan ke area taman terbuka di sekitar kampus. Masih ada di halaman yang luas, tepatnya di pinggir kolam buatan yang cukup nyaman untuk mahasiswa dan mahasiswi ngadem.
"Aku belum hafal betul area sini, sebenarnya aku mahasiswa pindahan," jawab Wening tidak begitu rinci.
"Pantes, saat maba kita nggak ketemu, nggak nyangka banget bisa ketemu di sini. Kamu makin cantik aja," puji pria itu juga terlihat sedikit lebih berbeda.
Tentu saja kehidupan di kota telah merubahnya. Pria itu terlihat makin tampan dari sebelumnya. Dengan balutan outfit yang mendukung, menambah penampilan Rajas layaknya anak metropolitan yang mengikuti trend terkini.
"Kamu juga, aku tadi sempet pangkling loh. Kamu tinggal di mana?"
"Aku ngekost di sekitar kampus, nanti main ya?"
"Emang cewek boleh main ke kost cowok?"
"Boleh kok, bebas, asal sopan! Duh ... pertemuan kita harus banget dirayain, gimana kalau nanti sore kita nonton," ajak pria itu tanpa basa-basi selalu asyik dan tidak ada yang berubah.
__ADS_1
"Aduh ... aku belum cerita ya, jadi kepindahan aku ke Jakarta itu karena aku udah nikah Ja, kamu pasti udah tahu kan desas desus di kampung dulu."
"Sempat denger sih, tapi masih belum percaya saja. Jadi beneran kamu udah nikah? Keluargamu juga pindah."
"Iya, bener Ja, ibu sama bapak pindah ke Jogja."
"Yang sabar ya, aku nggak pengen denger gosip di kampung sebenarnya yang bikin sakit hati, jujur, aku sangat kehilangan saat kamu tiba-tiba pergi, bahkan tanpa kabar. Sosmedmu bagai lenyap tak pernah muncul."
"Aku jarang buka sosmed, kadang-kadang banget, ya begitulah akhirnya keluargaku harus pindah karena tidak kuat juga lama-lama dengan lingkungan sekitar. Alhamdulillah sekarang menemukan tempat yang layak dan cukup nyaman. Kemarin juga pas liburan aku sempat pulang."
"Terus pernikahan kamu gimana? Apa kamu mencintai suamimu?" tanya Rajas serius.
"Sekarang iya, kalau dulu belum, isinya berantem mulu, pernah mau pisah juga, tapi itu semua udah lewat."
"Yah ... aku telat banget, aku pikir kamu cuma status dan nggak beneran nikah, jujur Ning, perasaan aku masih sama."
"Kalau nggak bisa berubah, setidaknya jadi teman. Beruntung sekali suamimu, dia benar-benar mematahkan hatiku," ucapnya sendu.
"Kamu banyak berubah ya, ternyata selama ini tak bersua, semuanya terlihat beda, makin berani dan nggak jaim-jaim lagi."
"Iya, semuanya udah berubah, yang sama itu perasaan aku, tapi setidaknya aku lega, beneran bisa ketemu sama kamu dan tentunya nggak ragu lagi buat bilang kalau masih memendam rasa. Hahaha, biarpun ketolak pastinya, tetapi hatiku sudah lega."
"Maaf ya ... mungkin memang kita ditakdirkan buat jadi sahabat selamanya. Banyak kok di kampus cewek-cewek keren, nanti juga pasti bakalan lupa sama aku."
"Jangan lupa dong, biar aku kenang saja. Ea. Eh, bagi nomor WA kamu, siapa tahu aku tersesat, dan tak tahu arah jalan pulang, bisa mampir ke hatimu."
"Ya ampun ... jago gombal sekarang, receh banget sih. Jujur, aku kangen sama kebersamaan kita kaya gini, keasyikan kita tanpa batas." Wening menatap haru sekaligus bangga mempunyai teman yang berbesar hati mau menerima. Persahabatan yang tulus, tak lekang oleh waktu.
__ADS_1
"Kamu pikir aku nggak kangen apa, sekolah nggak minat, kelas hampa tanpa dirimu, tidak ada lagi yang manggil-manggil jahil, sumpah aku kangen banget masa-masa itu. Sayangnya cukup dikenang, dan tidak mungkin terulang. Bahkan, kamu terlihat menjaga jarak, dipeluk aja menghindar, gayamu, Ning!"
"Asem kamu, Jas, bukan gitu, aku udah nikah, yakali main peluk-peluk cowok, nanti kalau ada yang lihat bikin salah paham, terlebih suamiku itu posesif, cemburuan, kamu bisa diamok, haha."
"Beneran? Jadi penasaran, bolehlah kapan-kapan main."
"Eh, nanti pulang makul anterin aku mau nggak? Jadi ceritanya aku mau dinner sama mas bojo, aku harus dandan dan cari baju yang cocok gitu, mau dong anterin sekalian kita nostalgiaan sambil makan es krim."
"Pengen nolak tapi sungguh disayangkan, oke deh aku mau. Traktir ya?" pinta Rajas blak-blakan.
"Siap!" jawab Wening tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.
Usai berbincang yang cukup panjang membahas kenangan yang belum kelar. Mereka kembali ke kelas guna mengikuti makul terakhir. Setelahnya mereka benar-benar hang out ditemani motor matic kepunyaan Rajas.
Sementara Seno di kantornya yang terlihat begitu sumringah. Hampir semua karyawannya dibuat bingung dengan sikap atasannya yang berubah seratus delapan puluh tiga derajat itu. Di mana sangat berbeda dengan minggu, bahkan bulan-bulan lalu yang banyak marah, killer, dan terlihat tidak mentolerir kesalahan apa pun dalam pekerjaanya.
"Tuan, ini sudah waktunya Noning pulang, tadi memberi kabar menolak dijemput karena ada pergi sama teman, dia telepon ke HP Tuan."
"Main ke mana? Tolong telepon balik tanyakan yang jelas, aku udah kangen, seharusnya langsung pulang ke rumah atau bisa juga main ke kantor."
Wahyu pun menghubungi istri dari atasannya, yang sontak langsung diangkat dengan senang hati. Wening mengkonfirmasi kalau dirinya tengah berjalan dengan teman lamanya dengan binar bahagia.
"Yu, teman lama? Kamu membuatku tidak tenang saja, dia berjalan cuma berdua, yang benar saja, kamu susul sana, terus bawa ke sini. Aku sudah rindu."
Astaga, Tuan Seno ini benar-benar bucin!
"l
__ADS_1