Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 39


__ADS_3

"Ngejawab terus kalau dibilangin, apa ya nggak bikin aku gemes!"


Wening hendak membuka menu sarapan yang dikirim Arka dari mertuanya, ketika bel rumahnya kembali berbunyi. Sabtu pagi kenapa rumahnya mendadak kedatangan banyak tamu.


"Kayaknya besok harus ada pembantu yang stay deh, sekalian bantuin kamu. Bisa encok bolak balik ruang tamu."


"Salah siapa beli rumah bisa muat se-RT, kenapa nggak sekalian aja sedusun," sahut Wening tersenyum.


"Biar anak kita nanti leluasa main di rumah," jawab Seno yang sontak saja membuat gadis itu tersedak minuman yang tengah diteguknya.


"Eh, pelan-pelan dong! Ada yang salah sama omongan aku?" tanya pria itu menatapnya santai.


Astaga! Proses aja belum udah sampai anak-anak segala!


Wening gugup sendiri saat pria itu mengusap-usap punggungnya.


"Lihat siapa yang datang, Mas," ujarnya mengalihkan tatapan suaminya yang tak biasa.


Seno beranjak dari ruang makan, kira-kira siapakah kali ini yang cukup lancang mengganggu kedamaiannya di pagi hari.


"Pagi boskuh ... ini sarapan sesuai inisiatif, dan hari ini surat izin Wening tidak masuk juga sudah saya kirim," lapor wahyu tersenyum lega.


Seno menatap datar, lalu meraih paper bag yang entah isinya belum diketahui.


"Oke makasih, udah nggak ada urusan lagi, 'kan? Silahkan pulang, nanti kalau saya perlu dihubungi balik," jawab Seno tenang. Sepertinya hari ini ia butuh menghabiskan waktu berdua saja dengan istrinya agar semakin dekat.


Astaga! Belum juga lima menit sudah disuruh balik?


Wahyu pun mengangguk hormat, lalu pergi dengan tenang. Saatnya me time.


Sepeninggalnya Wahyu, Seno langsung menutup pintu. Pria itu menenteng sebuah paper bag berlogo makanan sehat lalu menaruhnya di atas meja makan.


"Apa Mas, kiriman lagi?" tanya Wening sembari mengambil menu.

__ADS_1


"Hooh, kamu mau makan yang mana?" tawar pria itu memberi pilihan.


"Masakan mama, pasti lebih enak," ujar gadis itu jujur.


"Dek, habis kelulusan nanti bulan madu yuk!" ajak Seno serius.


Wening menghentikan aktivitasnya lalu menatap suaminya dengan wajah tak percaya.


"Kenapa? Liburan gitu ke mana? Kamu maunya ke mana?" kata Seno memperjelas.


"Pikir nanti kalau udah deket-deket aja Mas, aku harus fokus dulu sama ujian, lagi banyak tugas juga."


"Oke setuju," jawab Seno mengiyakan. Nampaknya pria itu harus punya stok sabar untuk menunggu hari itu.


fix seharian keduanya cuma di rumah aja. Bahkan pria itu yang biasanya sibuk, meluangkan waktunya untuk menemani istrinya belajar.


"Udah, buat besok, emang nggak capek apa ngadep buku terus."


"Malam ini bobok di kamar aku yuk, biar terbiasa," bujuk Seno lembut.


"Aku udah nyaman di sini, Mas, kalau kamu mau tidur di kamar sebelah nggak pa-pa, besok pagi aku bangunin kaya biasanya."


"Dari mana tahunya nyaman di sini, kamu bahkan belum pernah coba tidur di kamar kita."


"Ayo Dek, aku janji nggak bakalan nakal, ya paling nakal dikit aja."


"Nah nah kan? Meresahkan!" ucap Wening waspada.


"Becanda! Ayo, kita nonton film yuk! Aku punya film bagus, beneran," bujuk pria itu semangat.


Gadis itu mendadak galau, tetapi apa salahnya dicoba, toh memang kalau pria berstatus suaminya itu baik, tentu Wening harus mengimbangi dengan sikap yang lebih baik dan sopan.


Seno tersenyum senang kala berhasil membujuk istrinya untuk menempati kamarnya yang memang diperuntukkan untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Kamu sukanya nonton apa?"


"Apa aja, yang penting nggak horor, suka kepikiran setelah nonton," ujarnya jujur.


"Romance action, suka?"


"Suka," jawab Wening sembari fokus pada layar ponsel.


"Kalau 360 mau nggak? Seru loh," ujar Seno tersenyum.


"Terserah," jawab Wening tidak begitu fokus. Gadis itu rupanya tengah sibuk berbalas chat dengan Vivi, sahabat paling solid di kelasnya.


"Kamu pernah nonton?" tanya Seno lagi. Seusia Wening ternyata sudah tidak polos-polos amat.


"Pernah denger tapi belum pernah nonton full filmnya. Emangnya bagus ya?" tanya gadis itu serius.


"Oke, kita nonton ya," ujar Seno senyum-senyum sendiri.


Awalnya Wening nampak semangat, bahkan menyimak dengan serius. Hingga dalam film menayangkan adegan yang jelas memancing iman. Tetapi kenapa gadis itu tak komentar apa pun, apakah ia terlalu fokus hingga menghayati?" ujar Seno penasaran.


Keduanya sama-sama di atas kasur sambil berselimut dengan kepala Wening menyender pada pundak suaminya.


"Dek!" panggil pria itu sembari memerintah tangan kirinya sedikit nakal. Nangkring tepat di atas pahanya yang mulus.


"Tangan Mas, kondisikan, jangan gratilan!" tolak Wening melempar ke sisi tubuhnya.


"Hehehe, pelit!" jawab Seno sembari nyengir salah tingkah.


"Duh ... panas, Dek, kamu nggak penasaran lihat kaya yang di TV? Dek?" tanya Seno sembari fokus menatap layar.


Hening, tak ada sahutan sama sekali. Membuat pria itu pun menoleh karena sungguh penasaran dengan respon istri kecilnya tentang film dewasa tersebut. Nampaknya ia harus sering-sering menstimulasi otaknya agar tumbuh dewasa lebih cepat.


"Astaghfirullah ... tidur? Dasar bocil nggak ada akhlak! Ya kali aku mesumin dalam keadaan tidur, bisa ngamuk kalau bangun," gumam Seno frustrasi. Nampaknya pelajaran terselubung malam ini gagal total alias zonk.

__ADS_1


__ADS_2