Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 48


__ADS_3

Seketika Wajah Rara menjadi pias, tanpa bisa menyembunyikan kekagetannya. Membuat Wening semakin yakin bahwa kehamilannya ada hubungannya dengan pria itu.


"Nggak kenal, nggak tahu," jawab Rara sedikit gugup. Menjauhkan ponsel Wening dari jangkauannya.


"Kalau yang ini, tahu nggak?" pancing gadis itu lagi.


"Udah dibilangin nggak tahu, nggak kenal, kamu kenapa sih?" ujarnya mendadak sewot.


"Nggak kenal ya, aku kira tahu, soalnya foto kakak ada di dia dan—kita saling ngobrol," ujarnya dengan santai.


"Hati-hati pergaulan di kota, apa lagi kamu sudah punya suami, banyak yang nggak tulus," pesan Rara serius.


"Iya Mbak, makanya aku tanya kakak soal orang ini, siapa tahu aja Mbak kenal," ujarnya penuh selidik.


"Nggak usah diladenin, fokus saja sama keluarga baru kamu, Ning, jangan buat masalah," pesan Rara lagi cukup jelas.


"Mbak Rara, seandainya pria yang menghamili Mbak mau bertanggung jawab, apakah mau." Tiba-tiba Wening berbicara blak-blakan, tak tahan rasanya memancing kakaknya membuka mulut masih pura-pura tidak tahu.


"Jangan ikut campur urusan aku, urusi saja hidupmu dan keluarga barumu. Jangan pernah tanya lagi soal ini, sebaiknya kamu istirahat ke kamar, suamimu pasti sudah menunggu," usir perempuan itu membuang muka.


"Aku minta maaf, aku—hanya ingin keadilan untuk anak Mbak nantinya, siapa pun orang itu, seharusnya dia tahu dan harus bertanggung jawab," ujar Wening berkaca-kaca.


Rara langsung mengunci pintunya begitu Wening keluar dari kamarnya. Perempuan itu menangis dalam diam, tidak mungkin ia jujur dan melibatkan adiknya, cukup dirinya saja yang menanggung semuanya.


Wening langsung menuju kamarnya dengan wajah mendung, mendapati Seno yang belum tidur nampak kegerahan.


"Lho lho lho, kok nangis, kenapa? Bertengkar sama kakak kamu?" tanya Seno mendapati istrinya bermuram sedu.


Wening tidak menyahut, tetapi gadis itu langsung berhambur ke dalam pelukannya. Seno jelas cukup kaget, batinnya tersenyum sendiri sambil mengelus mahkotanya.


"Kenapa? Hmm?" tanya pria itu sembari menenangkannya.

__ADS_1


Wening menggeleng, enggan berbicara. Masih setia memeluk dengan erat.


"Jangan nangis, nanti ibu sama bapak denger dikira kamu kenapa-napa. Mau cerita?"


"Kak Rara, aku tuh kasihan, pengen banget dia ngomong jujur, kenapa juga nggak mau bilang, kalau gini kan repot aku mau nyeret pria itu buat tanggung jawab," curhatnya.


"Emang kamu tahu orangnya?"


"Cuma mencurigai, Mbak Rara aja nggak mau bilang, 'kan kasihan nanti kalau anaknya lahir nggak punya ayah, apa kata orang-orang. Aku nggak bisa bayangin nanti kalau anaknya udah besar," ujar perempuan itu sok dewasa. Kali ini Seno tidak menyela sama sekali, menyimak dengan tenang dan serius.


"Siapa yang kamu curigai?" tanya Seno menatapnya dalam.


"Cuma menduga, nunggu Mbak Rara jujur, nanti kalau salah bisa jadi fitnah. Mas kok mendadak semangat, jangan bilang kasihan juga terus mau tanggung jawab," ujar Wening yang seketika membuat Seno melongo.


"Mikirnya jauh banget, dari tadi nuduh mulu, cemburu ya?"


"Eh, enggak lah, mana ada cemburu, dah tidur ngantuk," ujar gadis itu merebah dengan posisi memunggungi suaminya.


"Ikh ... jangan dorong-dorong dong, aku bisa jatuh," protes Wening tak terima.


Seno merapatkan tubuhnya, tangannya memeluk posesif, membuat suasana ruangan menjadi semakin panas. Semenit kemudian bangkit lagi, membuat Wening begitu terusik lantaran pria itu tak kunjung diam.


Laki-laki itu melepas kausnya, membuat Wening hampir memekik kalau saja pria itu tak kunjung menyumpalnya dengan bibirnya.


"Hah ... Mas, apaan sih?"


"Gerah, makanya aku lepas," ujar pria itu santai. Tersenyum menatap istrinya yang masih terengah.


"Aku ambil kipas dulu deh, bisa-bisa nggak tidur kalau gini caranya." Wening kembali keluar mengambil kipas angin di ruang TV. Gadis itu memboyongnya ke kamar, lengkap dengan gelaran tikar di lantai, yang sengaja diperuntukkan untuk dirinya.


"Udah, Mas tidur di kasur, aku tahu kamu tidak nyaman kalau sempit, aku di bawah nggak pa-pa," ujar Wening tak ambil pusing.

__ADS_1


"Muat berdua kali Dek, aku cuma gerah doang, janji nggak ngapa-ngapain," ucap Seno menyakinkan.


"Beneran?"


"Iya, kalau nggak khilaf, hehehe. Becanda ding," ralat Seno cepat demi melihat tatapan Wening yang galak.


Seno menepuk sisi kasurnya dengan senyuman, Wening akhirnya memberanikan diri merebah dengan posisi kali ini saling berhadapan merapat mesra.


"Mas, tadi kamu ke Warung, terus aku tanya Mbak Rara juga ke warung, kalian ketemu di warung ya?" tuduh perempuan itu masih kepikiran.


"Nggak tahu malah, kamu kenapa tanya itu lagi, di sini kan warung banyak, mungkin saja Rara ke warung yang lainnya."


Iya juga sih, masuk akal. Tapi perlu waspada, cowok kadang pandai bersilat lidah!


"Udah tidur, atau mau aku tiduri?" goda pria itu merapatkan tubuhnya.


"Jangan gini Mas, aku deg degan susah napas dan grogi," ujarnya jujur sekali.


"Kamu 'kan udah mau lulus nih, berarti bisa dong kalau nyicil dari sekarang. Cuma main-main doang, janji nggak sampai tembus gawang."


"Ngomong apa sih, mesum!" ujarnya malu.


"Kok mesum, wajarlah kita kan suami istri, boleh kita coba?"


"Yakin? Bisa dipercaya?"


"Yakin lah ... gimana?"


"Apanya?


"Bikin anak Sayang ...." tekan Seno dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2