Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 80


__ADS_3

Wening menemui kakaknya yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kondisinya ngedrop paska melahirkan. Bahkan, perempuan itu belum menemui bayinya sejak tiga hari yang lalu dilahirkan karena kondisi si ibu yang tidak sehat.


"Mbak Rara?" sapa Wening mendekat. Ikut sedih melihat kondisi kakaknya yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Kamu sudah datang, Ning, mana suamimu?" tanya Rara yang membuat Wening terdiam sejenak.


"Aku pulang sendiri, Mas Seno akan menyusulnya nanti. Apakah Mbak Rara ingin bertemu?" tanya Wening menatap kakaknya serius.


"Yang penting kamu di sini, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu," lirih Rara meminta adiknya mendekat.


"Iya Mbak, Wening siap dengerin, ada apa?" tanya perempuan itu meraih tangannya.


"Maafin aku kalau selama ini sikapku udah bikin kamu nggak nyaman. Aku tahu pasti kamu melewati hari-harimu tidak mudah di awal pernikahan sambil sekolah. Semua karena aku, dan aku yang membuatmu harus menutupi pernikahan ini."


"Aku udah ikhlas ngejalaninnya, kami juga tengah belajar menerima. Aku juga minta maaf yang selalu ingin ikut campur urusan kakak, terutama tentang kehamilan kakak."


"Kamu terlalu bersemangat, terima kasih udah peduli, walau kamu terus berusaha mencari, aku tetap seperti ini seakan tak peduli. Semoga Tuhan mengampuni dosaku, aku tidak ingin menyakiti keluarga orang lain, sudah cukup menjadi seperti ini, jangan sampai ada perempuan lain yang tersakiti."


"Mbak Rara, yang kuat ya, aku yakin suatu hari nanti anakmu akan membawa cahaya kebahagiaan di masa depan." Doa Wening tulus.


"Aamiin ... maaf sudah merepotkan kamu, Dek," ucapnya tertatih.


"Nggak, sama sekali. Kita itu saudara, sudah seharusnya saling bahu membahu. Apa pun itu, kita harus saling peduli."

__ADS_1


"Ada suatu hal yang ingin aku bagi padamu, ini tentang anakku," ujar Rara sendu. Walau berbicara dengan jeda lama dan nada lirih, Wening mencoba menyimak dengan serius.


"Iya Mbak, ada apa dengan bayimu?" tanya Wening menanti penjelasan yang sepertinya begitu penting.


"Dia Emir, aku beri nama Emir Khairy, putraku yang malang karena harus bernasab ibu sepertiku," ucapnya sendu.


Wening meraih tangan kakaknya, menguatkan perempuan itu yang terlihat begitu lemah dan rapuh.


"Aku mengawalinya tanpa sengaja, suatu kesalahan sekali seumur hidup yang mengantarkan dia tumbuh di rahimku. Bukan maksudku menipu calon suamiku dulu, karena situasi yang memang tidak mungkin aku jujur. Nasib malang hingga membuat semuanya tahu, dan kamu ikut menjadi korban atas nasib yang kurang baik padaku," jelas Rara menguatkan diri.


Hari ini, mumpung masih diberi napas, ia ingin membagi kisah masa lalunya yang begitu melesakan dada. Tidak mudah sebenarnya sembilan bulan menanggung sendiri, hanya berdoa semoga anaknya lahir dengan selamat dan tumbuh menjadi anak yang sehat.


"Maaf, Ning, kamu benar, kamu cukup cerdik untuk mengusut kebenaran yang aku simpan rapat sendiri. Aku tidak mungkin mengiyakan Afnan menikahuku walaupun seharusnya dia bertanggung jawab atas kehamilanku. Istrinya pasti akan terluka bila itu terjadi, sedang aku datang tanpa sengaja membuat hubungan. Dia juga meminta maaf, namun aku tetap enggan menerimanya sebagai bentuk pertanggungjawaban."


"Ning, kalau saja umurku tidak panjang nanti, aku ingin merepotkanmu, dengan segenap jiwa yang terdalam, aku titip anakku."


"Mbak Rara ini ngomong apa sih, Mbak Rara harus kuat demi Emir, Mbak Rara harus semangat demi anak Mbak, Mbak Rara pasti akan segera sehat."


"Aku merasa waktuku tidak akan lama lagi. Satu pesanku, tolong jangn pernah kau berikan pada Afnan walau dia ayah biologisnya. Aku masih yakin denganmu yang berhati lembut."


"Mbak, sebaiknya jangan berkata seperti itu, Mbak Rara harus semangat."


"Aku perlu memperjelas semuanya, makanya aku ingin bertemu denganmu dan juga Seno. Semoga suamimu memaafkan aku dan mau menerima bayiku sebagai orang tua sambung," ucap Rara dengan berat hati.

__ADS_1


Kenapa bukan Afnan saja, tentu itu hanya Rara yang punya kuasa atas jawaban itu. Wening nampak bingung dengan amanat kakaknya. Bukannya dia tidak mau, namun ia khawatir suaminya tidak mau menerimanya.


Dengan bingung dan kepala yang mendadak sedikit berdenyut. Wening langsung menghubungi suaminya guna mencurahkan kegelisahannya. Perempuan itu tidak bisa mengambil keputusan itu sendiri.


Sementara Seno hari ini ada pertemuan dengan Afnan guna membahas kerja sama yang sudah berjalan. Pria itu tengah rapat serius di ruang meeting ketika Wening menghubunginya.


Namun, saat pria itu sedikit pamit menepi mengangkat panggilan itu, panggilannya keburu mati. Keduanya sama-sama melakukan panggilan secara serempak menjadi susah terhubung. Berhubung Seno juga masih banyak yang ingin dibahas, pria itu akan menghubungi nanti setelah usai.


"Anakmu sudah lahir, kamu tidak ingin menjenguknya?" ucap Seno tendensius. Usai rapat selesai, sepertinya Seno perlu membagi kabar bahagia itu.


"Benarkah? Kenapa Rara tidak mengabariku, aku akan ke sana lusa," jawab pria itu jelas terketuk hatinya.


"Kalau itu tentu saja kamu salah bertanya, hanya Tuhan dan Rara yang tahu jawabannya."


"Kamu tahu dari Rara? Apa dia membagi informasi kelahirannya padamu?"


"Tentu saja dari istriku, aku tidak pernah berurusan dengan kakak ipar demi menjaga perasaan istriku."


"Aku mengagumi cara kamu memperlakukan wanitanya. Kalian terlihat saling percaya. Bolehkah kamu bagi nomor ponsel istrimu, izin menghubungi, aku ingin tahu kondisi Rara saat ini."


"Aku sambungin lewat ponselku saja. Nanti nomormu nyampah di kontak istriku," jawab Seno setengah becanda.


"Kamu tidak percaya padaku?"

__ADS_1


"Cukup sekali saja, tidak ingin mengulang kebodohanku yang sama," sindir Seno menjawab dengan gamblang.


__ADS_2