
"Harus banget aku jawab?" kata Seno seraya menatap lembut istrinya.
"Susah ya buat mendeklarasikan sebuah perasaan. Aku nggak sakit hati juga kok kalau jawabannya tidak sesuai dengan angan."
"Emang kamu menginginkan kek gimana? Perasaan kamu ke aku?"
"Nggak tahu, cuma kalau boleh jujur, Om tuh galak, suka banget bikin mood aku nggak nyaman seharian. Malah pingin pulang ke kampung," jawab Wening jujur.
"Segitunya? Perasaan aku nggak semenyebalkan itu, kamu malah sering bikin aku kesal, sampai aku nggak konsen kerja."
"Segitunya juga? Aku kurang imut gimana?"
"Muka kamu doang yang imut, tingkah kamu belum," ujarnya blak-blakan.
"Terus kamu maunya aku kek gimana?"
"Nurut lah, di mana-mana istri tuh nurut sama suami. Sesimple itu, bisa?"
"Belum, tapi next time bakal aku coba, kalau gagal mungkin emang kita cuma ditakdirkan untuk singgah, enggak menetap."
"Kenapa nggak coba menetap, siapa tahu nyaman," ujarnya serius.
"Kalau Om sendiri sama aku masih gamang, apa kabar hatiku yang seorang perempuan. Nggak mau maksa, lagian juga aku sadar cuma sebagai pengantin pengganti. Om bisa banget kan cari yang dewasa, selevel dan sesuai kriteria."
"Kamu lagi ngasih persetujuan buat aku poligami?"
"Ish ... nggak lah, ngadi-ngadi aja. Kalau Om merasa nggak nyaman, atau terlalu kesal, bahkan menyiksa dengan hubungan ini, Om bisa banget pulangkan aku ke rumah orang tuaku," ujar Wening serius.
"Kamu nggak sakit hati?"
"Cuma patung yang nggak ngerasa sakit hati, tapi Om nggak usah khawatir, aku cukup pandai mengobati diriku sendiri."
"Kenapa nggak kita coba dulu layaknya pasangan yang sesungguhnya?"
Mungkin benar, kata dicoba dulu itu hal yang harus dijalani, sayangnya Wening terlalu takut. Takut tiba-tiba udah beneran cinta cuma sebagai pelarian. Takut sudah merasa nyaman ditinggalkan hanya karena sudah tidak sejalan. Tentu ada yang paling parah, hamil dan suaminya menceraikannya. Sekritis itu pikiran gadis belia itu.
"Kenapa Om suka sekali bilang dicoba dulu, itu namanya membuat peluang."
"Kita udah suami istri loh, mau nggak mau harus berkomitmen, 'kan?"
"Oke, kita jalani dulu aja Om, kalau ke depannya diantara kita merasa nyaman dan jatuh cinta satu sama lain, mungkin bisa jadi jodoh."
"Oke, deal! Dimulai dari malam ini, nggak boleh nolak tidur satu ranjang."
__ADS_1
"Hmm itu sih mau-maunya kamu, aja. Kalau belum yakin, jangan coba-coba menempel!"
"Kalau aku yakin? Boleh ya?" ujarnya penuh harap.
"Nggak juga, Om jangan modus ya? Itu namanya nafsu, bukan cinta."
"Kenapa serumit itu, banyak juga yang berawal dari tidak cinta juga jodoh."
"Karena terpaksa, semoga om paham."
Pada kenyataannya emang benar adanya. Seorang wanita akan kesulitan bercinta saat belum tumbuh rasa sayang dan memiliki satu sama lain. Lebih bermain pada perasaannya, dari pada logika.
Keduanya sama-sama terdiam, merebah di ranjang yang sama. Saling menatap dalam diam.
"Tidur Mas, jangan natap aku terus, nanti jatuh cinta loh!" tegur gadis itu membuat Seno tersenyum.
"Biar cepet jatuh cinta, kamu juga kenapa lihatin aku terus, aku tampan ya?"
"Om terlalu percaya diri, narsis!"
"Perasaan am om am om terus, minta dicium ya?" ujarnya mengikis jarak.
Duh ... jantung, ayolah kerja samanya. Jangan malu-malu in!
Kalau boleh jujur, scene seperti ini yang membuat tak karu-karuan.
"Katanya nggak cinta, kok hobi bener minta cium, om pelanggaran!"
"Kebutuhan Dek, mungkin saja berawal dari ciuman bisa bikin cinta, apa salahnya dicoba."
"Nggak gitu konsepnya Mas, gini nih." Wening memberanikan diri meraih tangan pria dewasa itu.
"Gandeng dulu tangan aku, nyakinin dulu hati aku, kalau udah mantep, dan bikin aku nyaman, jangankan hati, seluruh jiwa raga aku pasti aku dedikasikan buat suamiku seorang."
"Kamu lagi ngasih petuah sebuah hubungan, berasa mau nembak anak abegeh."
"Ye ... emang gitu kok, dahlah Mas nggak romantis, tidur Om!" ujar Wening melepas tangannya dan beralih memunggunginya.
Tentu saja membuat Seno makin gemas, ternyata istrinya lebih dewasa dari apa yang dia pikirkan selama ini. Dia paham betul tentang konsep sebuah hubungan yang harus dilandasi dengan perasaan cinta dan nyaman. Berasa dikuliahi bocil, tapi memang benar, mungkin harus buat nyaman dulu.
Pria itu merapatkan diri, sengaja memeluk lalu meraih tangannya. Sumpah demi apa pun, Wening mulai merasa begitu nyaman, dan hangat dalam dekapan.
"Apa seperti ini lebih baik?" bisik Seno seraya merem@s jemari tangannya.
__ADS_1
"Tidur Mas!" sahut Wening mulai merasa ngantuk.
Dalam hitungan menit, dengkuran halus itu mulai terdengar. Wening benar-benar terlelap damai dalam pelukan. Membuat Seno senyum-senyum dalam hati. Rupanya posisi sekarang juga membuat dirinya nyaman. Bahkan ia mulai merasa gelisah dan tidak bisa tidur bila tidak seranjang. Apakah ini tanda-tanda sudah mulai ada getaran asmara? Atau benar saja hanya sebuah napsu pelarian.
Pria itu makin merapatkan perutnya hingga tak ada sekat di punggung Wening. Bahkan aroma tubuhnya mulai lancang meracuni tubuhnya untuk semakin erat memeluknya. Hanya sebatas itu, atau siempunya akan murka lantaran dituduh om-om mesum.
Keduanya tertidur damai, saling memeluk berbagi kehangatan. Hingga tanpa sadar, pagi telah menyapa. Suara bel rumahnya yang memekik membuat keduanya terjaga.
"Hai ... morning! Bagaimana semalam? Apa merasa nyaman?" sapa Seno begitu membuka matanya menemukan istrinya yang begitu imut dengan muka bantalnya.
"Om, kok tidur di sini? Emangnya semalam aku ngebolehin ya?"
Astaga bocil, jangan bilang kamu bangun tidur terus amnesia.
"Emang dari semalem, 'kan? Kita satu ranjang, kamu kenapa pura-pura lupa."
"Owh ... yang semalam bukan mimpi ya, tumben manis? Biasanya juga galak," ujarnya jujur.
"Galak kalau kamu nggak nurut, semalam aku manis lo."
"Om, ada tamu, lihat dulu," ujar gadis itu seraya bangkit menuju kamar mandi.
Seno bergegas turun dari ranjang, beranjak melihat siapa kah gerangan di pagi buta yang berkunjung di hari libur.
"Arka! Ngapain ke sini?"
"Pagi Bang, katanya Wening sakit? Aku bawain sarapan dari mamah."
"Udah sembuh, tahu dari mana? Makasih, udah sana pulang!"
"Belum juga masuk udah disuruh pulang, yang benar saja. Aku udah janji bakalan kasih ini. Wening lah yang ngasih tahu, makanya aku pengen jenguk."
Dasar bocil nakal, kapan dia chat-chatan sama Arka! Pagi-pagi bikin sebel aja.
"Siapa Mas?" Wening hendak turun melihat siapa tamunya.
"Bukan siapa-siapa, nggak usah ke mana-mana, kakinya masih sakit, 'kan?"
"Dikit, udah nggak begitu, jalan pelan-pelan bisa."
"Diem, di kamar aja, nggak usah ke mana-mana!" ujarnya mendadak sewot.
"Mas kenapa sih, tadi pagi manis, sekarang marah-marah. Cuma keluar kamar nggak boleh, yang benar saja!"
__ADS_1
"Nurut bisa nggak?" tukasnya kembali ke mode kaku.