Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 85


__ADS_3

Wening terjaga saat matahari sudah meninggi. Perempuan itu menyipitkan matanya yang terkena silau sinar dari celah tirai. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk kepalanya yang masih terasa pening. Mencoba mengingat-ingat kejadian semalam yang membuatnya tidak nyaman sampai pagi.


Seketika otaknya memutar kejadian semalam, di mana dirinya menghadiri sebuah pesta, lalu terasa kliyengan. Mas Seno menggendongnya dalam kehangatan. Namun, saat di mobil semua menjadi semakin nyata dan ingatannya jelas akan membuat suaminya murka.


"Astaga! Mati aku, suamiku pasti ngamuk!" gumam Wening langsung melompat dari kasur. Mencari-cari sosok pria yang menjadi superheronya semalam.


"Mbok, mbok!" teriak Wening ke dapur.


"Iya Non, ada apa?"


"Mas Seno ke mana? Udah berangkat?"


"Tuan udah berangkat dari tadi pagi Non, emangnya Non Wening nggak tahu?"


"Aduh ... kok aku nggak dibangunin, mana udah siang gini, telat ke kampus ini mah," gerutu perempuan itu riweh sendiri.


"Maaf Non, tidak tahu nggak ada pesan, biasanya kalau bangun siang kan masuk siang."


"Ya udah mbok nggak pa-pa, nanti aku izin aja di jam pertama. Tolong buatin aku sarapan Mbok!" pinta Wening dengan kepala pening.


Lebih tepatnya bingung cara menghadapi suaminya yang sudah pasti bakalan murka. Apalagi sempat muntah ke badannya.


"Ya ampun ... parah banget sih aku, gimana ini," gumam Wening resah gelisah sendiri.


Sedari tadi masih sibuk mondar mandir sendiri di kamar. Sibuk memikirkan cara paling ampuh untuk meminta maaf sebelum mendapatkan amukan, bahkan ceramah tujuh hari tujuh malam.

__ADS_1


"Oke Wening, pertama kamu harus minta maaf, kedua berikan tampang paling menyesal, ketiga berjanji tidak akan mengulangi lagi, dan terakhir memberikan servis paling yahut sebagai ganti semalam." Wening menglist apa saja yang harus dikerjakan.


Perempuan itu mengawali dengan mengirim makan siang. Dengan membuat makan siang yang penuh perhatian, setidaknya suaminya akan menurunkan kadar emosi saat nanti bertatap muka.


"Mbok, bantuin masak dong, hari ini aku mau buat makan siang untuk mas bojo," ujar Wening semangat empat lima sembari meneliti isi kulkasnya.


Wening sibuk membuat bekal makan siang untuk suaminya. Udang saus tiram, lengkap dengan oseng-oseng cay dan pesmol ikan menjadi menu kali ini. Setelah mengemas dalam wadah dan cukup rapih, perempuan itu bersiap bertolak ke kantor suaminya sembari menenteng bekal tersebut dalam paper bag.


Wening ke kantor dengan taksi tanpa memberitahukan suaminya terlebih dahulu. Perempuan itu menyapa pak satpam yang berjaga di pintu masuk dengan ramah. Setelahnya langsung menuju lantai lima belas tempat di mana ruang suaminya berada.


Sejenak perempuan itu menjadi pusat perhatian. Berjalan elegan sembari mengulas senyum setiap kali berpapasan.


"Eh, Noning? Sama siapa?"


"Om Wahyu, mas bojo ada?"


"Siapa? Aku nggak boleh masuk gitu," ujarnya kesal.


"Tunggu sebentar, biar saya konfirmasi ke Tuan."


"Dih ... tamunya siapa sih? Cewek, cowok, ibu-ibu, bapak-bapak?"


Wahyu nampak nyengir dengan wajah bingung. Takut salah persepsi dengan adanya perempuan yang kini tengah membahas serius merk brand sepatu yang hendak diluncurkan.


"Yu, habis ini aku langsung makan siang, tolong bawakan macbook aku sekalian," titah pria itu berjalan keluar. Tepat di saat itu netra keduanya bertemu. Seno menatap Wening dan tangannya yang menenteng sesuatu.

__ADS_1


"Siap Tuan!" jawab Wahyu sigap.


"Mari," ujar Seno mempersilahkan kliennya dengan ramah. Sejenak mengabaikan tatapan Wening yang tak berkedip.


Saat melintas tepat di depannya, pria itu berhenti lalu menatapnya tajam.


"Tunggu di ruangan," ucap pria itu cukup jelas. Lalu berjalan begitu saja. Entah mengapa hati Ning sakit mendapat perlakuan seperti itu.


Perempuan itu menuju ruangan suaminya. Tidak sampai singgah, hanya menaruh bekal makan siang yang mungkin tidak akan pernah dimakan. Karena pria itu memilih makan bersama rekan bisnisnya.


Dengan langkah gontai Wening kembali berjalan keluar. Sepertinya suaminya itu masih sangat marah, dan Ning paham betul karena memang dirinya salah. Jujur, Wening merasa sedikit kesal melihat kejadian tadi, tetapi semua kesalahan berasal dari dirinya dan tentu saja untuk hari ini tak berani protes.


Sementara Seno tidak menyangka istrinya yang bandelnya nggak ketulungan itu bakalan menyusulnya ke kantor. Hari ini dirinya benar-benar sibuk membahas kerja sama dan peluncuran brand terbaru.


Pria itu sesungguhnya masih begitu marah atas kejadian semalam. Namun, percuma juga marah-marah saat kondisi istrinya bahkan tengah teler. Setelah membersihkan kekacauan yang dibuatnya semalam, Seno pun membersihkan tubuh istrinya lalu tidur.


Paginya langsung sibuk ke kantor, dan siang ini sungguh tidak enak hati meninggalkan begitu saja sedang ia ada janji makan siang bersama kliennya.


"Miss, mohon maaf sebelumnya, di kantor ada istri saya yang menunggu, bolehkah saya ajak makan siang sekalian," pinta Seno sebagai sopan santun. Pria itu sejujurnya takut istrinya berasumsi lain dan bisa menimbulkan salah paham.


"Owh benar kah? Anda sangat pengertian dan pandai menjaga perasaan, tentu saja boleh. Dengan senang hati bisa berkenalan dengan istri dari seorang pengusaha hebat seperti Bapak."


Seno pun menginterupsi Wahyu untuk menjemput Wening menyusulnya. Sayang sekali Wening yang ditemukan di lobi kantor hendak pulang, menolak untuk bergabung makan siang bersama suami dan rekan bisnisnya.


"Bilang saja Wening sudah pulang, aku tunggu di rumah saja Om," tolak Wening kurang enak hati. Salah-salah dikacangin bergabung dengan mereka yang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Masih mau ngeyel, kapan nurut, cepat aku sudah ditunggu! Jangan harap bisa seenaknya sendiri, nanti bakalan aku perhitungkan setelah ini!" ucap Seno tiba-tiba sudah di antara mereka.


Karena merasa lama, Seno sampai menyusulnya. Untung saja tempat makan siangnya di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor pria itu hanya sebrang jalan yang cukup jalan kaki saja.


__ADS_2