Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 105


__ADS_3

Setelah drama di trimester kedua berakhir, nampaknya perempuan itu sudah mulai riweh dengan tubuhnya yang melar. Wening bukan hanya menyiapkan pernak pernik perlengkapan buat lahiran, tetapi juga fisik dan mental. Di umur yang belum genap dua puluh tahun itu ia sudah akan menjadi ibu, tentu saja itu bukan perkara yang mudah untuk dijalani.


Hampir setiap pagi perempuan itu mempunyai rutinitas baru, yaitu jalan pagi.


"Pagi Mbak Wening? Tumben jalan sendiri?" tanya Bu RT yang pagi ini tengah joging. Mereka berpapasan sama-sama tengah melakukan olah raga pagi.


"Pagi Bu, kebetulan suami saya lagi nge-gym," jawab Wening jujur.


Hari libur ini Mas Seno menyempatkan nge-gym sementara Wening memilih jalan sehat seperti biasa. Perempuan itu tidak ambil pusing dengan pertanyaan julid tetangga yang kadang kepo dengan urusan pribadinya.


Wening sengaja berjalan santai mendekati tukang sayur yang kebetulan tengah dirubuti ibu-ibu membeli dagangannya.


"Eh, bumil? Tumben belanja sendiri? Suaminya nggak ikut jjp Neng?"


Perasaan dari tadi orang-orang nanyain suami aku. Harus banget gitu jalan pagi ditemani suami.


Wening menggerutu dalam hati, cepat-cepat memilih sayuran plus bahan menu yang hendak dibeli.


Setelah dapat, perempuan itu menahan agar abang sayur tidak langsung pergi mengingat Wening belum membawa uang sebagai alat tukar belanja.


"Pak, tunggu bentar ya, ini udah punya saya, tolong singkirin dulu."


Wening kembali ke rumah, mengambil dompet. Lalu kembali keluar. Kegiatan itu pun tak luput dari tanda tanya suaminya yang kebetulan melintas. Baru saja selesai dari ruang kebugaran.


"Dek, bolak -balik, kan bisa minta tolong Mbok Ijah," tegur Seno demi melihat istrinya wira wiri.

__ADS_1


"Sekalian olahraga Mas, tadi kebetulan pas pulang lihat abang sayur lagi mangkal. Kamu mau dimasakin apa? Biar nanti Mbok yang cari ke pasar aja masih kumplit.


"Olah raganya boleh sayang, tapi nggak usah repot ngurusin dapur." Seno kurang setuju, selain selera rasanya menjadi aneh, perempuan itu akan mengeluh lelah setiap malam bila hendak tidur. Tentu saja itu menjadi pekerjaan Seno yang belum bisa tidur lebih dulu lantaran harus memijitnya setiap malam.


Semenjak hamil, Seno melarang istrinya terlalu lelah, bahkan ikut kegiatan di luar. Pria itu juga cukup teliti dengan makanan yang dikonsumsi istrinya. Lebih posesif, namun cukup perhatian dan pengertian.


"Padahal lagi semangat mau bikinin sarapan buat kamu, terus habis itu mau mandi. Ah ... nggak suka masakan aku ya?" tebak Wening merasa demikian.


"Suka sih, cuma lidah kamu yang sekarang agak beda, jadi dari pada capek mending kita mandi. Biar Mbok Ijah yang eksekusi, kita tinggal makan aja."


"Mau tersinggung tapi kamu bener Mas, kenapa sekarang selera makan aku jadi aneh. Kadang terlalu asin, padahal dulu nggak suka banget sama rasa yang terlalu kuat," sahut Wening merasakan seperti itu setelah hamil.


"Enggak marah, 'kan?"


"Enggak, kamu bener, aku rasa aneh," sahut Wening benar adanya.


"Sayang, gantian dong, aku juga mau dimanja," pinta pria itu merengek pada istrinya.


Keduanya saling bekerjasama dan cukup lama di kamar mandi.


"Mas, tahu nggak tadi kamu ditanyain ibu-ibu loh di depan. Gegara nggak nemenin aku jalan pagi," lapor Wening pada suaminya yang tengah sibuk berganti baju.


"Mungkin karena biasanya aku temani, tadi sendirian, tapi hati aman kan?"


"Kayaknya nggak deh, aku kan sekarang kurang menarik, tubuhku gendut, apa aku nggak cocok sama kamu yang tampan?" Wening insecure sendiri gegara tubuhnya melar.

__ADS_1


"Eh, tumben muji kegantengan aku yang paripurna. Siapa bilang kita tidak cocok, gemuk karena ada bayinya di dalam. Kenapa jadi mikir aneh-aneh sih." Seno mendekati istrinya menenangkan dengan manja.


"Udah yuk ah sarapan, lapar," ajak Seno tak mau membahas hal yang tidak begitu penting.


Keduanya menuju ruang makan, terlihat baby Emir tengah disuapin oleh Nancy. Seno mendekati bayi embul itu yang sebentar lagi akan punya adik.


"Pagi boy, makan yang banyak biar tumbuh besar, kita akan balapan lari," seloroh Seno merasa gemas dengan putranya yang semakin pintar.


"Makan apa itu Sus?" tanya Wening menginterogasi mrnu pagi ini yang sudah mulai dengan aneka jenis makanan sehat.


"Ati ayam, wortel, sama daun hijau, Buk. Ini sedikit susah makan, agak rewel juga karena mau tumbuh gigi," lapor Nancy tentang Emir.


"Panas nggak, kasihan," ujar Wening membuai putranya.


Perempuan itu sekarang jarang menggendong semenjak perutnya membuncit sempurna. Ada kalanya merasa kangen, apalagi tahu kurang fit begini, membuat perempuan itu galau sendiri.


"Iya Mas, panas dikit ini, kasih obat Sus, nanti ke dokter aja, bisa rewel ini." Mendadak perempuan itu khawatir sendiri.


"Nanti habis ini ke dokternya, sekarang kamu perlu makan dan tenang. Emir biar sama Suster dulu." Seno ikut pusing sendiri kalau tetiba anak atau istrinya ada yang sakit.


.


Tbc


.

__ADS_1


Gaes aku punya rekomendasi novel punya teman nih ... sambil nunggu novel ini up mampir ya



__ADS_2