Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 83


__ADS_3

Wening berangkat kuliah dengan perasaan lebih baik. Setelah berbicara dari hati ke hati bersama suaminya. Jadi, dari obrolan tadi bisa menarik kesimpulan bahwa pria itu tidak keberatan asal mampu membagi waktunya. Tentu saja antara kuliah, keluarga, dan peran baru jika memang akhirnya benar mengasuh baby Emir.


"Woe ... masih pagi udah ngelamun!" sentak Rajas membuyarkan kehaluan sesaat Wening.


"Apa sih Ja, kaget nih," gerutu Wening kesal.


"Kenapa? Nggak kena marah 'kan gegara kemarin jalan sama aku?"


"Bukan, kepo deh ...." Wening mrengut.


"Temenin kantin yok ... aku belum sarapan," ujar pria itu duduk tepat di depannya.


"Udah kenyang, sana sendiri aja," tolak Wening tak minat.


"Dih ... orang minta ditemenin juga, ayo ...!" Rajas menarik tangannya cukup ngeyel, membuat perempuan itu mau tidak mau mengikuti langkah pria itu yang berjalan menuju kantin fakultas.


"Suami kamu galak ya? Sampai lagi jalan berdua harus banget pulang disusulin," tebak Rajas berdasarkan pengamatannya. Mereka tengah menanti pesanan.


"Kadang iya kadang enggak," jawab Wening benar adanya.


"Kenapa nggak pernah nimbrung di grub kelas, aku lihat kamu paling jarang nongol. Teman-teman pada mau datang ke acara ulang tahunnya Clarissa. Kamu mau datang?" tanya Rajas memperjelas. Berharap teman karibnya mau hadir bersama saat pesta nanti malam.


Lantaran terlalu sibuk dengan masalahnya, Wening bahkan lupa kalau ada undangan dari salah satu teman kelasnya.


"Aku ... izin pawangnya dulu, tapi nggak enak sih kalau nggak datang," ujar Wening berpikir.


"Beneran nggak mau pesen? Cuma nasi rames mah bisa bayar kali Ning, tenang aja," ujarnya yakin.


Pria itu sarapan dengan khusuk ditemani teh hangat dan juga Wening.

__ADS_1


"Percaya Ja, kamu kan anaknya juragan beras. Hehehe. Masalahnya aku udah kenyang," jawab Wening jujur.


Usai menemani Rajas sarapan, Wening dan pria itu langsung kembali ke kelas guna mengikuti makul pagi ini. Siangnya setelah mengikuti materi kuliah hingga jam terakhir, perempuan itu berinisiatif menyusul suaminya ke kantor karena merasa gabut dan tentu saja ada perlu perihal izin.


Perjalanan terhitung mulus ramai lancar sampai tujuan. Hanya saja sedikit kendala setelah sampai kantor, tidak bisa langsung menemui suaminya lantaran tengah meeting penting yang mengharuskan perempuan itu menunggu.


"Lama banget sih," gerutu perempuan itu merasa jenuh.


Menunggu terlalu lama membuat perempuan itu tertidur di sofa ruangan. Seno yang baru saja keluar dari ruang meeting langsung ke ruangannya dibuat kaget dengan kedatangan istrinya yang tidak memberi kabar terlebih dahulu.


"Eh, kok istriku ada di sini?" gumam Seno memelankan suaranya. Pria itu mendekat tak percaya lalu sedikit memberikan ucapan selamat datang dengan mempertemukan bibirnya.


"Mas ... gendong, pindah kamar," ujar perempuan itu lupa sejenak di mana ia berada. Wening melentangkan kedua tangannya dengan manja.


Seno menautkan kedua alisnya, merasa lucuelihat tingkah istrinya yang manja dan sepertinya setengah sadar.


"Sayang, kamu ngantuk banget," ujar pria itu meraih dalam pelukan lalu duduk. Wening mengangguk seraya mencari kenyamanan di dadanya sambil setengah merem.


"Katanya udah mau jadi ibu, tapi masih kaya bayi, ini gimana ceritanya," ucap pria itu yang membuat Wening melek sepenuhnya.


"Eh, aku ketiduran Mas, kamu kenapa lama sekali. Aku lelah menunggu," ujar perempuan itu memberi jarak. Turun dari pangkuan suaminya dengan kikuk.


"Nanti di rumah manja-manjaannya, aku selesaikan pekerjaan dulu," ujar Seno gemas. Istrinya sekarang tak jaim lagi mengekspresikan rasa sayangnya.


"Iya Mas, maaf, khilaf. Eh, ya, nanti malam aku ada acara gitu, diundang ke rumah teman acara ultah, mungkin saat kamu pulang nanti aku sudah berangkat," pamit Wening sekaligus meminta izin.


"Siapa yang kasih izin, ada partynya nggak? Kalau iya nggak boleh," tolak Seno cepat.


"Beneran nggak boleh? Yah ... nggak enak dong Mas, masa nggak dateng. Minimal aku datanglah sebentar saja, boleh ya Mas," mohon perempuan itu dengan tampang memelas.

__ADS_1


"Nanti aku antar, berangkatnya nunggu aku pulang."


"Hehehe, nggak lucu dong Mas, masak diantar, yang benar saja, isinya teman mahasiswa semua, nanti kamu kaya orang ilang."


"Kamu malu punya suami dewasa kaya aku?" tanya Seno mendadak sensitif.


"Bukan, tapi ini tuh acaranya anak muda gitu, yakali kamu ikut, aku cuma ngucapin bentar, habis itu pulang. Mas bisa jemput aku setelah acara selesai."


"Iya boleh, nanti biar Wahyu yang nganter," ujarnya mengalah. Tak tega juga melihatnya yang hampir tidak pernah mempunyai waktu bersama teman-temannya.


"Beneran? Aduh ... Mas bojo baik banget. Aku inta jemput aja, nanti aku shareloc," tolak Wening yakin.


"Yakin? Berangkat bareng siapa?" Tentu saja Seno khawatir. Wening tidak pernah melakukan aktivitas semacamnya sejak jadi istrinya.


Walaupun agak bandel, perempuan itu masih di jalur yang patuh dan tidak melanggar pergaulan. Saat pertama kali izin datang ke acara party ulang tahun temannya, mendadak Seno sedikit waswas.


Setelah mendapat izin dan mandat dari suami, Wening pun pulang dengan sumringah menggunakan mobil taksi yang Seno pesankan.


"Jangan lupa kabari, jangan lupa jaga batasan!"


"Siap!" ujar perempuan itu saatnya healing sejenak. Menikmati waktu bersama teman-teman mumpung ada kesempatan.


Wening janjian dengan Rajas bertemu di depan jalan sebelum masuk ke rumah yang nampak sudah didekorasi.


"Ja, sini!" pekik perempuan itu kegirangan menjumpainya yang sedari tadi menunggu.


"Ya ampun ... kamu cantik banget," puji Rajas pangkling.


Wening sebenarnya kurang begitu nyaman dengan pilihan pakaian yang dikirim dari suaminya. Kenapa suaminya mengirim pakaian yang sedikit terbuka, padahal sudah jelas baru tadi siang melarangnya.

__ADS_1


__ADS_2