Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 52


__ADS_3

Pria itu tersenyum jenaka, membuat Wening bertanya-tanya.


"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya gadis itu sembari mendesis merasakan tidak nyaman dan nyeri.


Wening merebah di ranjang, diikuti Seno duduk di sebelahnya.


"Kenapa, kok mukanya gitu? Masih sakit? Atau jangan-jangan laper juga belum makan," tanya Seno merasa khawatir.


"Ya biasa gini, nyeri, tadi nggak sekalian beli obat atau minuman buat pereda nyeri haid. Duh ... bisa nggak tidur kalau gini," keluhnya merasa sakit.


"Kamu nggak ada pesan aku nggak tahu. Harus beli sekarang? Padahal aku udah booking restoran buat dinner malam ini, gagal semuanya," gumamnya merasa kecewa.


"Serius? Kamu suka banget bikin surprise dadakan kaya gini, bisa aja kan kejadian berhalangan. Makanya apa-apa tuh bilang," balas Wening sambil terus menahan nyeri.


"Namanya juga surprise, ya udah nggak pa-pa, nanti pesan makanan lewat layanan kamar aja. Sepertinya kamu juga nggak mungkin keluar," ujarnya demi melihat istrinya yang nampak uring-uringan.


"Jangan dibatalin, beliin obat aja atau kirant* nanti juga enakan. Itu pun kalau mau, sekalian jalan aja deh," ujarnya mencoba tenang.


"Bisa? Bukannya sakit? Itu muka kamu sampai merah padam gitu."


"Sakit lah, tapi kasihan kamu udah nyiapin semuanya, masak ya batal."


"Nggak pa-pa kalau sakit mending istirahat. Biar aku cari obat dulu, tunggu aku kembali," pesan pria itu kembali keluar. Kali ini menuju apotik terdekat, mencari obat yang telah Wening pesan.


Pria itu menjadi sibuk sendiri, sumpah demi apa kenapa Seno menjadi seperhatian ini. Biasanya ia tidak begitu peduli dengan hal-hal lain yang menurutnya tidak penting.


Tak berselang lama pria itu kembali, menenteng sebuah obat. Pria itu juga telah memesan makanan untuk dimakan di kamar saja mengingat tidak memungkinkan keluar.


"Ini minum dulu," ujar pria itu dengan telaten.


"Makasih," ucapnya tersenyum haru. Mendadak ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan pria itu. Seno begitu perhatian dan lembut, padahal malam ini Wening begitu rewel, namun tak sedikit pun pria itu marah seperti biasanya.

__ADS_1


"Makan dulu ya, laper," ujar pria itu menginterupsi. Mengambil piring dengan isi menu yang nampak menggugah selera.


"Bangun dulu, ayo makan!" titah pria itu membimbing istrinya dengan lembut.


Wening dari yang semula tiduran langsung bergegas duduk. Pria itu menahannya saat istrinya hendak mengambil satu porsi miliknya.


"Biar aku suapin, lagi pengen manjain kamu," ujarnya tersenyum.


"Mas tumben? Beneran deh kaya bukan kamu," ujarnya merasa ada yang aneh.


"Maaf kalau kemarin sikapku terlampaui dingin, itu karena mungkin baru adaptasi denganmu. Mendadak kita harus nikah tanpa kenal dan tahu sebelumnya, jadi ... mungkin itu yang membuat kamu kurang nyaman," sesal Seno merasa harus ada yang diperbaiki.


"Aku juga minta maaf, kayaknya selalu ngeselin, makanya Mas mudah marah," ujar gadis itu merasa seperti mimpi. Ia sampai mencubit pipinya sendiri.


"Aww ....!" ujarnya nampak konyol.


"Kenapa dicubit-cubit, saking nggak percayanya aku bisa semanis ini?" tanya Seno menatap dengan senyuman.


"Salah ya, jadi mending digalakin aja nih ceritanya?" gurau Seno mulai mengakrabkan diri.


"Jangan, kemarin kaya freezer, dingin, kaku, dan nggak ada romantisnya sama sekali," ujar gadis itu jujur sekali.


"Ngomongnya semangat banget, nggak ada baik-baiknya apa?"


"Banyak mungkin, tapi aku belum tahu. Maaf, udah terpaksa hadir dalam hidup kamu," ujarnya mendadak sendu.


"Jodoh mana ada yang tahu, makan Dek, habisin biar kuat begadang," ujarnya mengerling nakal.


Mereka makan bersama dengan Seno menyuapi istrinya hingga selesai. Malam itu keduanya sungguh romantis walaupun gagal melakukan aktivitas yang mengasyikkan. Nyatanya pria itu malah lebih sabar merawatnya.


"Diusap-usap, butuh kasih sayang," ujar gadis itu manja.

__ADS_1


Selang dua jam setelah makan, keduanya masih terjaga setelah banyak ngobrol berdua. Menyelami keinginan pasangannya masing-masing. Nyatanya keduanya begitu nyambung, hanya butuh komunikasi yang kurang lancar di antaranya.


"Mas, aku tidur duluan ya?" ujar Wening sembari menutup mata. Seno masih mengusap-usap perut istrinya yang sedari tadi ngeluh masih sedikit nyeri hingga tertidur.


Praktis semua rencana Seno gagal total. Niatnya mau ngospek istri kecilnya dengan materi pengenalan tubuh, malah dirinya yang terjebak dalam rasa kasihan. Istrinya sedang ditahap tidak nyaman, dan tentu saja Seno harus bersabar menantinya.


Keesokan paginya, Wening terjaga lebih dulu dan langsung ke kamar mandi. Perempuan itu terlihat lebih baik dari pada semalam. Membangunkan suaminya setelah membersihkan diri.


"Mas, bangun cari sarapan yuk, lapar," ujar gadis itu mengguncang bahu Seno.


Pria itu menggeliat manja, melihat istrinya yang sudah rapi, langsung menariknya dalam dekapan.


"Kamu udah wangi banget, kenapa nggak bangunin dari tadi?"


"Tidur kamu pules, mungkin efek dari kemarin nggak bisa tidur nyenyak jadi aku membiarkan saja kamu bangun sendiri. Eh malah lama nggak bangun-bangun, mana aku udah lapar."


"Tunggu bentar ya, aku mandi dulu," ujar pria itu bergegas bangun.


Cukup lima belas menit saja acara mandi dan juga gantinya. Cowok emang sesimple itu, sudah terlihat keren dipadukan dengan outfit yang berkelas.


Seno mengajak Wening sarapan di restoran hotel. Keduanya baru saja memesan menu ketika seseorang menyapanya dari meja sebelah.


"Pagi Bro, sarapan di sini juga?" sapa Afnan terlihat tidak sendiri. Dengan seorang pria yang sepertinya kaki kananya.


"Hai, maaf semalam tidak sempat keluar. Kenalin istri gue," ujar Seno tanpa ragu menunjuk Wening.


"Om Af-nan?" pekik gadis itu cukup kaget.


"Kamu, temannya Yuda, 'kan?" Pria itu tak kalah terkejut.


"Kalian saling kenal?"

__ADS_1


__ADS_2