Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 74


__ADS_3

Seno tidak bisa tidur hingga semalaman. Mencoba menghubungi Wening yang tak kunjung mendapat sapaan.


"Kamu lagi ngapain sih, Dek, nggak ngerti banget orang lagi kangen apa?" gumam pria itu mengomel. Resah gelisah nestapa sendiri.


Sementara Wening masih sibuk dengan pekerjaannya. Perempuan itu baru melayani pengunjung kafe, dan belum sempat membuka handphonenya kembali. Kebetulan malam ini lumayan ramai. Wening baru melihat ponsel setelah hampir tutup, sekitar pukul setengah sebelas malam.


Tiga puluh satu misscall, dan ribuan chat dari beberapa grub chat di ponselnya.


"Ya ampun ... Mas Seno telepon sebanyak ini? Udah tahu aku kerja," gumam Wening berkemas.


Selama di perjalanan pulang, perempuan itu sudah mengirim pesan akan menghubunginya nanti setelah sampai rumah.


Perempuan itu pulang bersama teman lainnya yang sama kost tak jauh dari tempatnya. Sampai rumah langsung bersih-bersih dan menuju ranjang. Baru bisa menghubungi suaminya dengan tenang.


"Eh, kok nggak bisa sih, jangan-jangan ngambek!" gumam perempuan itu bertanya-tanya.


Perempuan itu kembali mencoba, sayangnya panggilan dialihkan, atau memang tidak ada sinyal. Lelah tak ada jawaban, membuat Wening memutuskan untuk tidur. Rasanya baru terlelap ketika mendengar suara pintu kamar diketuk. Wening seperti mimpi, tetapi pendengarannya semakin jeli dan seperti nyata.


Perempuan itu terjaga ketika mendengar ketukan pintu dari luar.


"Jam berapa ini? Siapa sih yang bertamu selarut ini, kok menakutkan!" batin Wening tak berani beranjak.

__ADS_1


Perempuan itu melihat jam di ponselnya hampir setengah tiga dini hari. Membuatnya jelas takut untuk sekedar mengintip keluar.


"Dek! Buka dong, dingin nih!" seru seseorang dari luar. Suaranya yang yang terdengar familiar membuat perempuan itu akhirnya memutuskan untuk melihat.


Wening sedikit mengintip, terlihat dua orang pria dewasa tengah berdiri di depan rumahnya. Perempuan itu segera membuka pintu dengan rasa tak percaya.


"Mas, kamu yang datang? Dini hari begini?" tanya Wening dengan mata setengah mengantuk.


Seno terdiam, ia menginterupsi Wahyu untuk mencari penginapan. Baru pulang esok hari mengingat pekerjaan mereka yang tidak bisa ditinggal.


"Aku nggak bisa tidur," ucap pria itu masuk. Lalu menutup pintunya dan menguncinya.


Wening masih sedikit tak percaya, ditambah ngantuk, jadi berasa aneh. Namun, sepertinya Seno tak ambil pusing, pria itu langsung menubruk tubuh istrinya dan menyapa hangat bibirnya hingga terjatuh ke ranjang.


"Iya Dek, kenapa kaget gitu sih, aku nggak bisa tidur, aku nggak konsentrasi kerja, aku kangen, rindu, nggak enak makan, nggak enak banget pokoknya," curhat pria itu cukup rempong.


"Ya ampun ... besok bukanya kerja? Gimana ceritanya kalau jam segini nyusulin. Jangan gini Mas, kasihanilah tubuh kamu, nanti kecapekan, sakit, gimana?" Wening menatap dengan sendu.


Keduanya saling menatap dalam diam, merebah dengan posisi membelah ranjang saling berhadapan.


Sorot netranya yang menatapnya begitu lekat, penuh arti itu seakan mewakili perasaannya saat ini. Pria itu mengikis jarak, memberikan sentuhan lembut di bibirnya. Memberikan sensasi panas dengan cumbuan liar yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanpa babibu, Seno benar-benar mengulang adegan panas hari lalu yang jelas membuatnya candu.

__ADS_1


Wening tak mampu menolak sedikit pun, rasa kantuk dan kaget yang menghinggapi tubuhnya, terusir seiring sentuhan lembut nan memabukkan yang diberikan suaminya. Keduanya benar-benar terlena, kembali mengukir cerita indah cinta mereka dini hari itu.


Pria itu baru terjaga ketika mendengar vibrasi ponsel miliknya memekik. Wahyu yang menghubunginya, pria itu akan dihubungi balik sambil menanti keputusan siang ini.


"Siapa Mas?" tanya Wening sayup membuka matanya.


"Wahyu, nanti aku hubungi balik," ujarnya kembali merebah. Lalu menatap istrinya dengan senyuman.


"Kamu ngarang banget sih, Mas, berasa mimpi udah di sini lagi aja. Gimana ceritanya ini, aku ada kuliah juga hari ini," ujar Wening galau sendiri. Mengambil sikap duduk sambil menatapnya sungguh-sungguh.


"Jujur, aku nggak bisa LDR, tolong ngerti, sehari dua hari, mungkin bisa. Kalau paling lama seminggu masih bisa dinego. Itu pun sekali dua kali. Tapi ini tuh beda, kalau kamu tetap ngejalaninnya, bakalan lama, bukan hitungan minggu, tapi tahun, dan aku nggak mau," jelas pria itu jujur.


"Kita bisa ketemu seminggu sekali, Mas udah janji mau mengerti, kenapa gini sih?" Perempuan itu langsung tertunduk lesu.


Wening terdiam, ia sudah paham dengan perkataan suaminya. Masuk fakultas unggulan di Bandung adalah impiannya. Karirnya baru saja dimulai, tidak mudah juga melewati serangkaian test untuk menjadi salah satu mahasiswa di sana. Sungguh, perempuan itu dirundung galau yang teramat dalam dan nyata.


"Aku tahu ini berat, tolong pertimbangkan, aku nggak mau hubungan kita renggang karena kita susah membagi waktu. Kamu cinta 'kan sama aku?"


"Kemarin waktu aku memberikan pilihan, kamu bilang nggak pa-pa, aku di sini kamu di sana. Ini tuh impian aku," ucap Wening sendu. Perempuan itu bahkan tidak bisa mengambil keputusan secepat keinginan suaminya. Ia menangis galau, membuat Seno langsung memeluk sambil meminta maaf.


"Maaf, tapi aku nggak bisa jauh, aku egois, tolong mengerti, apa pun yang kamu inginkan akan aku penuhi asal mau pulang dan kuliah di Jakarta saja."

__ADS_1


Perempuan itu benar-benar menangis, tidak mudah di titik ini. Ke sana kemari cari info tentang tempat tinggal, tentang pekerjaan tambahan, daftar bimbel, berusaha mencari beasiswa untuk mahasiswa baru. Seakan uforia dan capek kemarin harus hilang begitu saja, belum lagi harus mengulang sks yang sudah berjalan. Wening benar-benar galau luar biasa.


"Please ... jangan nangis, aku mencintaimu, Sayang!" ucap Seno mengusap air matanya yang berembun. Mendekap penuh kasih sayang.


__ADS_2