
Seno menggendong istrinya yang mode manja. Kalau sudah begini kode pengen disayang-sayang. Namun, sayangnya lagi nggak bisa dijamah terlalu jauh.
"Mau ke mana? Temenin sini aja Mas," rengek Wening menahan tangannya.
"Bentar, ngerokok di balkon kamar. Kamu istirahatlah," pamit pria itu beranjak. Sebelumnya mencium dulu keningnya dengan lembut.
"Udah, tidur." Pria itu mengusap puncak kepalanya dengan sayang lalu menyelimutinya.
Baru benar-benar beranjak menghabiskan dua putung rokok sebagai pengantar tidur karena merasa gabut. Seno kembali ke ranjang setelah bersih diri di kamar mandi. Pria itu menarik selimut, merapatkan diri lalu memeluknya. Sesungguhnya tengah mode kangen dan harus sabar menanti itu.
Cukup malam pria itu menemukan kantuknya, gelisah sendiri mencari kenyamanan posisi tidurnya.
Dini hari Wening terjaga, langsung ngacir ke kamar mandi karena merasa perlu. Perempuan itu merasa tidak nyaman, dan benar saja tumpah sampai ke bad cover.
"Mas, bangun, pindah sofa bentar, aku mau ganti ini," ujar Wening mengguncang bahu suaminya.
"Hmm ... jam berapa ini? Sudah pagi?"
"Belum subuh, tapi banjir," celetuknya asal.
"Hah! Banjir? Maksud kamu?"
"Owh ... lagi banyak ya?" ucap Seno langsung paham ketika mendapati bad covernya terdapat bercak merah yang cukup kentara.
Pria itu pun beralih ke sofa serta memboyong selimutnya. Sementara Wening membenahi kekacauan dirinya.
"Mas, pindah udah," ujar Wening kembali membangunkan suaminya setelah beres.
"Hmm ... kamu pagi-pagi riweh Dek, ngantuk," keluh pria itu kembali ke ranjang.
"Mas, perutku sakit, butuh kasih sayang," pinta perempuan itu merengek manja.
Seno yang setengah sadar menarik dalam pelukan, lalu mengusap-usap perutnya.
"Mas, aku udah nggak ngantuk," kata Wening menumpuk tangannya dalam genggaman. Perempuan itu berbalik hingga keduanya saling berhadapan.
"Kenapa? Sakit lagi?" tanya Seno menatapnya sayu.
__ADS_1
"Udah enggak, nyeri dikit doang tapi langsung sembuh," ujar perempuan itu merapatkan diri. Mengusak lembut di dadanya sembari memeluknya.
Seno tersenyum mendekapnya posesif lalu kembali tertidur. Pagi harinya Wening terjaga lebih dulu. Perempuan itu menyiapkan keperluan suaminya untuk ke kantor seperti biasa. Sibuk menyiapkan sarapan dibantu Mbok Inah.
"Hmm ... enak nih, kamu kenapa nggak bangunin aku?" sapa Seno di pagi hari menyusul ke ruang makan.
Sapaan pertama langsung mendekat lalu mempertemukan bibir mereka dalam kecupan. Menarik kursi siap menyantap menu yang sudah disajikan.
"Nanti pulang jam berapa? Packing baju ya, kita sore mau ke Jogja," kata pria itu membuat Wening tercengang.
"Ha! Nanti sore? Kok tumben mendadak banget, besok aku masih ada kuliah satu. Kenapa nggak besok aja," protes Wening kurang setuju.
"Kamu nggak kangen sama baby Emir? Kasihan loh nggak ada yang ngurusin," ujar pria itu tumben-tumbenan membahas tentang Emir.
"Kangen, nggak tega malah kalau ingat. Kata ibu, sudah boleh pulang, tapi Mbak Rara belum, benar nggak ada yang ngurusin, kasihan ibu bolak-balik ke rumah sakit."
"Udah, jangan sedih, pokoknya hari ini kuliah dulu, nanti pulangnya baru siap-siap, aku udah pesan tiket."
"Ish, seneng banget dadakan gitu, bikin orang grusa-grusu."
"Semalam ibu telepon ke HP kamu, kamunya sudah tidur jadi aku yang angkat."
"Banyak, makanya kita ke Jogja biar jelas," ujar pria itu sembari mengunyah sarapannya.
"Kamu emang ada waktu? Bukannya sibuk meeting sana sini, kok sekarang langsung oke?" tanya Wening penuh selidik.
"Sibuk sih, sibuk banget malah. Tapi nggak mungkin aku abaikan gitu aja pesan dari ibu, aku udah serahin ke Wahyu schedule hari ini dan dua hari ke depan."
"Pesan? Ibu ngomong apa?"
"Banyak banget Dek, tidak ada voice ulang. Kamu masuk jam berapa? Mau bareng nggak?"
"Sepertinya besok aku perlu motor, Mas, buat pulang pergi kuliah sendiri, jadi nggak repot."
"Latihan mobil saja ya, lebih nyaman."
"Emang boleh?"
__ADS_1
"Bolehlah, kapan hari mas latih deh."
"Ide bagus, janji loh ya, aku mau catet di onenote biar nggak lupa." Wening membuka sebuah aplikasi di ponselnya lalu mulai mengetikkan sesuatu.
"Udah, awas loh ya lupa!" ancam Wening mengingatkan.
"Kamu semangat banget, udah nggak nyeri?"
"Masih dikit, tapi karena kamu baik, aku jadi slowly."
"Hmm, biasanya juga baik kali Dek, kamu yang nggak peka aja punya suami seganteng dan sebaik diriku."
"Iye kah, dih ... mulai keluar nih narsisnya."
"Mana ada, aku kalem," ujar pria itu percaya diri.
"Iya sekarang, coba pas awal, ngeselin! Pengen aku—"
"Aku apa?" tanya Seno menatap serius.
"Pengen aku pulangin ke rumah mama Yasmin. Ngeselin banget orangnyanya."
"Hahaha, iya deh maaf, kayaknya bagian ini kamu harus amnesia, biar nggak ngungkit awwal-awal kita yang penuh dengan huru-hara."
"Eh, beneran ngaku. Kamu emang semenyebal—"
Seno langsung menyumpal mulutnya dengan bibirnya sebelum perempuan itu kembali nyerocos yang semakin lebar.
"Ish ... lag—"
Yang kedua kalinya kembali disumpel karena bahkan perempuan itu masih ingin protes.
"Mas," kesal Wening dengan napas tersengal. Keduanya memberi jarak dengan napas memburu setelah pertukaran saliva yang begitu sengit.
"Udah sayang, aku berangkat dulu," pamit Seno terkekeh mendapati istrinya sedikit lusuh lantaran ulahnya yang cukup nakal.
"Ya ampun ... kamu kira-kira dong kalau rusuh, nanti kalau Mbok Inah lihat gimana?"
__ADS_1
"Khilaf, berangkat dulu, assalamu'alaikum ...." pamit pria itu meninggalkan jejak sayang di keningnya lalu melangkah keluar.