Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 78


__ADS_3

Rupanya kebucinan Seno sedikit membuat susah hidup Wahyu. Sudah menjadi resiko pekerjaannya, akan tetapi ia dibuat repot wira-wiri untuk mencari istri atasannya yang bahkan sedari tadi susah dihubungi.


Pria itu menghela napas sepenuh dada, ngalamst apes kalau siang ini tidak berhasil membawa Noning menghadap tuannya. Perempuan yang sudah begitu akrab dengan dirinya pun terciduk tengah berjalan dengan seorang pria, sungguh nasib baik bagi Wening lantaran Seno tidak ikut menjemputnya atau bakalan ngamuk dan salah paham.


Wening terlihat tengah asyik menikmati waktu berdua saja ketika Wahyu terus menghubunginya. Membuat perempuan itu harus segera mengangkatnya atau pria itu akan bernasib buruk lantaran tidak mendapatkan up date terbaru seputar kegiatannya yang tentu saja atas suruhan suaminya yang paling ajaib.


"Om, bilangin ke Mas Seno, please ... aku lagi pingin jalan sebentar, bilang aja lagi mempercantik diri buat persiapan dinner nanti malam, serius!" tolak Wening setelah beberapa kali melakukan panggilan dan akhirnya bertemu dengan asisten suaminya.


"Kamu yakin? Tuan Seno bisa ngamuk kalau tahu Noning jalan sama temen cowok," jawab Wahyu harap-harap cemas. Tahu betul dengan tabiat bosnya yang keras dan mudah tersulut bila sedang tidak pas.


"Hais ... dia sahabat aku lah ... masa nggak ngerti, sini makanya kenalan," ujar Wening kesal sendiri.


"Jas, kenalan dulu!" Wening melambaikan tangannya agar Rajas mendekat.


"Rajas, Om, salam kenal, senang bertemu dengan Om!" ucap pemuda itu ramah.


"Wahyu, begini anak muda, Nona Wening sudah harus pulang, jadi—besok main lagi."


Rajas dan Wening saling tatap lalu berekspresi datar. Apa maksudnya? Sungguh asisten yang teramat patuh sekali.


"Oke deh, besok bisa bertemu lagi. Good luck untuk dinnernya!" Rajas baru menyadari, mereka tidak bisa sebebas dulu lantaran status Wening yang berbeda. Kendati demikian, sifat Wening yang selalu asyik masih betah membuatnya nyaman.


Wening akhirnya ikut pulang asistennya dengan wajah mrengut. Berdasarkan perintah, Wahyu membawa Noning ke kantor.


"Ning, jangan cemberut gitu, suamimu bisa benar-benar murka kalau saya nggak ngajak kamu pulang."

__ADS_1


"Tahulah kesel, Om Wahyu kan bisa alesan apa gitu, dibayar berapa sih patuh banget?" tanya perempuan itu tak minat dengan wajah cemberut.


Wahyu sampai tertawa mendengar celotehan istri dari bosnya itu yang memang lumayan akrab.


Setelah berkendara kurang lebih enam belas menit, mereka telah sampai di halaman sebuah gedung yang tinggi dan kokoh. Ini adalah kali pertama Wening main ke kantor suaminya seumur menikah. Perempuan itu terus mengekor Wahyu yang langsung berjalan menuju ruang CEO.


"Permisi Tuan, Nona Wening sudah datang!" lapor Wahyu yang langsung disambut senyum lebar oleh Seno.


Seno mengangkat tangan kanannya memberikan isyarat agar asistennya keluar. Wahyu pun mengangguk hormat lalu menutup pintunya.


"Hallo Sayang ... bagaimana dengan kampus barunya?" sapa Seno langsung menyambut senang. Setelah sebelumnya langsung menutup pekerjaannya sebentar.


"Nggak hallo ... Mas, yang benar saja, aku butuh ruang gerak sendiri. Bisa-bisa nggak punya teman kalau harus didekte seperti anak SMA lagi," protes Wening dengan muka kesal.


"Setiap hari juga kamu bebas bereksplor dengan kegiatan apa pun yang kamu suka. Apa yang membuatmu kurang nyaman? Hmm?" tanya Seno mendekati istrinya yang tengah duduk di sofa dengan manja.


"Oke, aku nggak bakalan ngelarang kamu buat berteman dan melakukan banyak hal, tapi aku juga berhak mengetahui teman mana saja yang boleh dan yang tidak boleh."


"Ish ... posesif!" cibir Wening masih mrengut.


Seno malah asyik menggodanya seraya mengendus-endus pipinya.


"Mas! Mesum! Lagi serius, sana kerja!" Perempuan itu mendorong tubuh Seno agar menjauh dan tidak rusuh lagi.


"Aku juga serius, gemes banget pengen gigit."

__ADS_1


"Ya ampun ... geli Mas, jangan rusuh!" Seno merusuh jail. Sedikit lupa kalau tengah di kantor, terjang saja menikmati waktu berdua dalam kesibukan. Keasyikan mereka terjeda lantaran sebuah ketukan pintu masuk terdengar.


"Stop Mas, ada yang mau masuk!"


Seno pun memberi jarak, lalu mempersilahkan seseorang di luar pintu itu masuk.


"Maaf Tuan, ini berkas yang tadi diminta." Seorang perempuan dengan tubuh ramping nan seksi nampak membawa map.


"Iya, taruh saja di meja, nanti saya tanda tangani," jawab Seno datar.


Perempuan yang diduga sekretarisnya itu pun mengangguk ngerti lalu keluar. Sempat melirik perempuan belia yang nampak berantakan di sofa tamu.


"Dia siapa? Maksudku kenapa seksi sekali, mataku sampai klilipan melihat belahan pahanya?" tanya Wening menatap suaminya penuh selidik.


"Owh ... yang tadi? Sandra, sekretaris aku? Ada masalah?" tanya Seno balik bertanya menghadap istrinya.


"Ish ... kenapa kamu memilih sekretaris yang seksi begitu, emangnya bisa dipercaya?" protes Wening sungguh tak percaya.


"Tidak ada yang lebih seksi dari tubuhmu, apa yang harus kamu khawatirkan, dia dibutuhkan tenaganya, pekerjaan bagus tentu dipakai perusahaan. Jangan mikir terlalu jauh, sedikit tidak sopan kalau merubah aturan nenek moyang."


"Maksudnya? Berpakaian kurang bahan seperti itu sudah berlaku sejak lama? Ish ish ish meresahkan sekali ternyata lingkup kerjamu."


"Hahaha." Seno tertawa, dunia yang masih baru buat Wening. Hampir setiap hari pria itu bertemu dengan klien dan relasi yang berpenampilan seksi dan tentunya menarik perhatian. Beruntung, Seno bukan tipikal CEO mesum yang doyan mengobral mulut dan tubuhnya hanya demi kebebasan hidup dengan uangnya.


Walaupun sikapnya yang dingin-dingin empuk dan sedikit arogan. Setidaknya dia tipe setia dengan satu perempuan.

__ADS_1


"Mas, ternyata lingkungan kerja kamu cukup meresahkan! Kalau begitu, hari ini kamu harus kenalin aku sebagai istrimu sama semua orang kantor. Biar mereka tahu, kamu sudah menikah dan istrimu ini begitu cantik dan menarik!"


__ADS_2