
"Aku masih berharap kalian mau berbesar hati menyerahkan Emir pada kami," ujar Afnan cukup jelas.
Naura di sampingnya hanya diam. Tidak mengiyakan ataupun menolak. Menyadari dirinya tidak bisa menghasilkan keturunan untuk suaminya, Naura tak punya pilihan walaupun sebenarnya hatinya masih sakit.
Wanita mana yang sudi menerima anak suami dari hubungan gelapnya dengan perempuan lain. Hanya mereka yang punya hati seluas samudera untuk memaafkan.
Sayangnya Afnan tidak ingin jika mereka mengadopsi anak begitu saja. Sedang pria itu jelas-jelas mempunyai keturunan sendiri. Apalagi anaknya seorang lelaki yang kelak bisa menjadi penerus kerajaan bisnisnya.
"Maaf Nan, kami tidak bisa, kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan surat amanat itu dan sepertinya kita sudah harus pulang."
"Tapi saya ayahnya, coba kalian mengerti posisiku sebentar saja. Tidak ada orang yang mau dalam situasi ini, dan kalian harusnya bisa lebih bijak menyikapi ini," seru Afnan sedikit emosi.
"Terlambat, karena kamu memilih diam dibalik punggung istrimu, sekarang tetaplah seperti itu sampai Emir besar nanti, dan tetap aku dan Wening yang akan menjadi orang tuanya."
Penyesalan terbesar pada diri laki-laki adalah ketika ia dikatakan gagal sebagai seorang suami dan gagal menjadi seorang ayah untuk anaknya sendiri. Hanya mampu mengakui, tanpa bisa memiliki apalagi sampai berniat menguasai.
"Kami pamit," kata Seno sembari berdiri. Menuntun tangan istrinya ke luar.
Sementara Naura masih terdiam seribu bahasa tanpa sepatah kata pun. Membuat Afnan jelas kesal.
__ADS_1
"Seharusnya kamu sedari awal sadar diri sebagai perempuan yang tidak sempurna. Penyesalanku kenapa aku mengikutimu dan mengabaikan Rara sampai ia meninggal. Sementara aku tidak punya status hukum yang kuat untuk mereka. Maka jangan salahkan aku bila menginginkan anak darah dagingku sendiri dari perempuan lain!" kecam Afnan cukup gamblang dan jelas.
Naura hanya menangis dalam diam. Sementara Afnan langsung pergi meninggalkan istrinya begitu saja. Rasanya masih begitu kesal dihadapkan dalam situasi yang rumit ini. Keberadaan Emir jelas membuat pria itu semangat menyongsong hari.
"Kak, udah, ayo Yudha antar ke kamar," ucap pemuda itu ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada rumah tangga kakaknya.
Yudha juga tidak bisa mengalahkan kakak iparnya itu. Sebagai seorang pria, dia juga pasti merasa galau dan bingung jika istrinya tidak bisa mengandung dan tidak mau juga menerima anaknya yang tidak berdosa itu. Apalagi sekarang Rara sudah tiada, seharusnya rasa sakit yang pernah ada melebur menjadi satu.
Naura bangkit dari duduk dengan wajah sendu. Mengambil beberapa tissu untuk menyusut air matanya. Ia takut suaminya akan meninggalkan dirinya. Atau bahkan tetap mempertahankan tetapi seperti yang pernah terucap, kalau suaminya ingin menikah lagi demi keturunan yang hadir untuk mewarnai hari tuanya nanti.
"Makasih Yud, bisa tinggalkan kakak sendiri," ujar perempuan itu terlihat galau. Menarik secarik kertas dari Wening yang terselip di saku pakaiannya.
...***...
Maafkan diriku yang tiba-tiba harus berhubungan dengan suami Anda. Demi Allah kami tidak sengaja melakukan itu, dan tidak berniat untuk menghancurkan rumah tangga Mbak Naura.
Maafkan aku yang datang tanpa sengaja membawa luka. Sampai di penghujung nyawaku, aku masih kuat dengan pendirianku untuk tetap tegar berdiri seorang diri tanpa mau suamimu mempertanggung jawabkan itu semua.
Aku tidak ingin menjadi duri dalam rumah tanggamu dan Afnan. Aku juga tidak berniat untuk merebut Mas Afnan dari Mbak yang mungkin telah keliru. Maaf, maaf, untuk semua hal yang terpaksa kami lewati dan membuat Anda sakit hati.
__ADS_1
Biarkan aku pergi dengan ikhlas dan tenang setelah mengutarakan permohonan maafku yang terdalam. Aku memang mempunyai putra bersama Afnan, namun, jangan pernah khawatir, tidak akan aku bagi beban pengasuhan itu padamu ataupun suamimu. Aku telah menitipkan pada orang yang tepat dan insya Allah akan menyayanginya dengan segenap hati.
Sekali lagi, maafkan diriku yang tanpa sengaja harus masuk ke dalam rumah tanggamu. Berbahagialah kalian dengan pernikahannya. Semoga Tuhan memberikan kesempatan untuk menjadi orang tua bagi putra putri kalian nantinya.
^^^Rara^^^
...***...
Naura menutup kertas itu dengan perasaan galau. Tanpa sadar bibir mungilnya menggumamkan kalimat istirja. Ada perasaan yang entah sebagai seorang perempuan. Namun, secara rinci yang paling dalam, ia pun ikhlas memaafkan apalagi orangnya sudah tiada.
Mendadak ia penasaran dengan bayi mungil anak suaminya yang kini dalam pengasuhan Wening dan Seno. Apakah perempuan itu berubah pikiran dan menginginkan bayi itu juga dari pada membiarkan suaminya menikah lagi.
Sementara Wening dan Seno dalam perjalanan pulang. Hari sudah gelap, karena bertabrakan dengan waktu maghrib di jalan, pria itu menyuruh Pak Eko untuk berhenti di halaman masjid untuk melakukan ibadah terlebih dahulu.
"Kenapa tidak sholat di rumah saja, Mas, nanggung nggak terlalu jauh juga," usul Wening yang sama sekali tidak diiyakan.
"Sesuatu yang wajib harus disegerakan, jangan ditunda, mana tahu umur kita tidak sampai rumah, siapa yang mengira," jawab Seno di luar ekspektasi hingga membuat Wening merasa heran. Sepertinya suaminya itu mendapatkan hidayah setelah pulang dari rumah Afnan.
"Kamu bukan hanya manis, tapi juga religius, apakah suamiku sudah insyaf?" tanya Wening sedikit gurauan hingga membuat driver mereka yang mendengar tersenyum.
__ADS_1
"Emang kapan aku maksiat, sampai harus insyaf segala?" tanya Seno balik bertanya.
"Kapan? Owh ... aku salah ngomong ya, oke baiklah imamku yang manis, aku mengikuti caramu sebagai istri yang baik."