
Pagi-pagi Wening sudah heboh menyiapkan ini itu lantaran hari ini ada acara bersama keluarga besar Mas Seno. Perempuan itu membangunkan suaminya yang masih nampak males-malesan.
"Mas, jadi nggak sih? Aku udah bangun dari tadi loh. Ayo bangun mandi!" seru perempuan itu yang sedikit kepayahan lantaran perutnya yang sudah membuncit sempurna.
"Tunggu mamud sayang, lima menit, aku masih ngantuk," tolak Seno kembali menarik selimutnya.
Wening pun memutuskan membiarkan sejenak, lalu keluar dari kamar menengok Emir. Balita kecilnya rencananya mau diajak ikut, jadi otomatis Nancy pun ikut karena harus menjaganya.
"Suster, hari ini aku mau ada acara, sama Emir juga, jadi nanti siapin gantinya juga. Kamu sekalian," ujar Wening agar susternya ikut bersiap-siap.
"Iya Buk, kalau boleh tahu, acara apa ya, Bu? Biar nanti disesuaikan bajunya Emir," tanya Nancy sedikit bingung.
"Udah ada bajunya Emir, nanti digantiin setelah mandi terus maem dulu. Kita berangkat pagi, kamu juga sarapan dulu."
"Mbok masak apa, Mbok? Tolong bikinin nasi goreng aja Mbok, yang pedes dikit, spesial pakai suwiran ayam!" titah Wening lalu beranjak kembali ke kamar.
Suaminya masih tidur, Wening sudah mandi, bahkan mulai make up mengingat suka agak lama dan membuat paksu galau nunggunya.
"Pagi Sayang, cantik banget istriku!" puji Seno baru saja turun dari ranjang langsung merusuh mendekati meja rias. Mengecup mesra sedikit rusuh.
"Mas, yang bener dong, lagi bikin alis nih!" protes Wening mengomel. Nampaknya pria itu tak begitu menggubris malah asyik mencium-cium tengkuknya.
"Wangi banget sih, mamud, jadi pengen!" kata pria itu sedikit mengigit gemas.
"Mas!" pekik Wening yang merasa geli dengan polah suami bucinnya.
__ADS_1
"Hmm, apa sayang, terangsang ya?" tanya pria itu seduktif.
Wening melotot galak, "Mandi!"
"Mandiin dong, aku kenapa males bin lemes gini ya, sepertinya aku butuh kasih sayang. Kamu tidur awal mulu, aku setiap malam dianggurin," protes Seno uring-uringan.
"Eh, kata siapa dianggurin, perasaan baru kemarin udah lupa. Kamu mah mau-maunya seminggu enam kali."
"Nggak pa-pa, orang halal juga," jawab Seno enggan beranjak.
"Nggak lucu Mas, cepetan mandi, sarapan terus berangkat. Please jangan ganggu lagi make up nih!" kesal Wening terpaksa menjeda aktifitasnya sejenak.
Seno menurut dengan langkah gontai setelah menyambar pipinya dengan gemas. Wening hanya mencebik kesal, lalu merampungkan merapikan riasannya.
"Belum Dek? Udah cantik masya Allah, kurang apa lagi?" tanya Seno keheranan.
"Bentar, bulu mataku kurang cetar, kamu tunggu di luar sana, jangan rusuh!" tegur Wening sebal.
Seno menurut dengan langkah malas. Melihat meja makan yang sudah tersedia nasi goreng kebuli. Sayangnya sepertinya istrinya lupa belum menyiapkan kopi, dengan santai pria itu membuat sendiri. Sedari awal, Seno tidak suka minumannya dibuatkan orang lain, kecuali istrinya sendiri.
"Mas, bikin sendiri? Maaf, aku tadi belum sempat, habisnya kamu tidur mulu." Wening yang sudah selesai dengan tatanan make up-nya menghampiri suaminya yang terlihat sibuk sendiri.
"Hmm, dimaafin, udah?" tanya Seno meneliti penampilan istrinya yang cantiknya kelewatan itu.
"Cantik banget istrinya aku," puji pria itu tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Mas, aku males bawa-bawa tas, nanti kamu aja yang bawa ya, aku nitip ponsel dan temannya."
"Hmm ...," jawab pria itu sambil menikmati kopi hasil karyanya.
Usai sarapan langsung berangkat, Seno menyetir sendiri, memasangkan sabuk pengaman dengan tingkat kenyamanan utama.
"Boy, kamu ganteng banget Boy, mau saingan sama papa ya?" seloroh Seno menatap balita itu dari pantulan kaca belakang.
"Jalan Mas, udah ditungguin mama dari tadi, berangkat bareng kan?" interupsi Wening.
Seno melajukan mobilnya cukup santai, mampir ke rumah mama lebih dulu yang benar saja sudah siap. Hanya Arka yang tak terlihat, rupanya pria itu tidak mau ikut, lantaran ada kesibukannya sendiri.
Setengah perjalanan, mendadak Wening merasa tak enak dengan perutnya. Perasaannya saja, atau memang sebuah tanda-tanda.
"Mas, putar balik bisa nggak?"
"Hah, kenapa sayang, ada yang ketinggalan?" tanya Seno masih santai.
"Bukan, tapi perutku kaya nyeri gitu, kenapa ya?" Wening yang belum mempunyai pengalaman melahirkan masih bingung.
"Eh seriusan? Jangan-jangan? Bukannya HPLnya masih lumayan jauh. Dua minggu lagi, kan?"
"Iya Mas, tapi ini nyerinya nggak kaya biasanya. Kenapa ya?"
Waduh bentar sayang, kita musti ke rumah sakit, takutnya beneran mau melahirkan," ucap Seno putar arah. Mendadak ia khawatir melihat wajah istrinya yang tak biasa. Beginilah rasanya cemas.
__ADS_1