
Wening berhenti sembari menatap suaminya dengan perasaan speechless. Suaminya itu selalu melakukan hal-hal tanpa aba-aba.
"Kenapa? Ayo Dek, aku udah booking kamar hotel dan kita akan berlibur untuk empat hari ini," ujarnya santai.
"Kok nggak ada bilang apa pun, ini kan penting," protesnya sembari melangkah dengan perasaan deg degan.
"Tangan kamu dingin banget, rileks aja Sayang, kenapa jadi tegang begini. Jangan bilang kamu mau menundanya lagi. Aku udah sabar loh selama ini." Seno meraih tangannya mencoba meyakinkan sembari menuntun ke kamar yang telah pria itu pesan.
Wening tidak menyahut, ia malah sibuk memikirkan apa jadinya nanti. Sebenarnya ia juga cukup penasaran dengan yang namanya malam pertama pernikahan. Namun, entah mengapa ada kekhawatiran tersendiri menyelimuti hatinya saat yang membuatnya merasa takut. Takut Seno tiba-tiba meninggalkan dirinya, takut Seno hanya menjadikan sebagai tuntutan wajib tanpa menaruh perasaan yang sama saat gadis itu benar-benar menyerahkan seluruh jiwa dan raganya.
Mau menunda sampai kapan? Toh sekarang atau lusa tetap Wening harus melewati fase itu. Di mana dirinya benar-benar menjadi seorang istri seutuhnya.
"Jangan bingung gitu, apa yang kamu pikirkan? Aku ini suami kamu, dan kamu istriku, ini sangat wajar kita lakukan," ujar Seno mencoba memberi pengertian.
"Iya Mas, aku ngerti kok, hanya saja, apa kamu sudah mencintaiku?" tanya Wening serius.
"Mungkin awalnya nggak sama sekali, kemarin belum, seiring berjalannya waktu aku baru sadar, hubungan kita terlalu datar, apa boleh kita memulai dengan perasaan yang saling memiliki. Walaupun belum penuh, tetapi kita bisa belajar. Belajar menerima satu sama lain, belajar menerima kalau kita suami istri dan tentunya belajar dengan semua konsep di dalamnya. Termasuk urusan ini, penting buat aku pria dewasa," ujarnya panjang dan lebar.
"Aku ngerti kok, cuma—aku nggak tahu gimana cara memulai dengan benar," jawab Wening jujur. Hatinya terlampau polos, hanya ada rasa takut yang mendera.
"Cukup menjadi istri yang baik untuk aku, belajar mencintai walau sekarang belum banyak. Aku pun begitu, kita sama-sama belajar menjadi peran yang baik dan seharusnya."
"Tumben kamu dewasa dan nggak marah-marah, biasanya ngeselin!" ujarnya yang membuat Seno menatap gemas.
"Eh, aku salah ngomong ya?" ralat Wening cepat. Menatap suaminya yang nampak menatapnya dalam.
"Salah kalau ngomong terus, aku bersih-bersih dulu, nanti gantian. Aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat habis ini," ujarnya dengan senyuman.
"Ada lagi? Kejutan ini sudah lebih dari membuat aku shock. Kamu apa banget semuanya serba dadakan. Aku serasa nggak bisa napas."
"Dari pada minta pendapat kamu adanya debat mulu, mending istri kecilku yang unyu ini terima jadi aja," ujarnya sembari mencubit pipinya dengan gemas.
"Duh ... sakit Mas, ikh ....!" Wening cemberut seraya mengusap pipinya yang merona.
Sementara Seno terkekeh sembari berjalan menuju kamar mandi.
Gadis itu menatap sekeliling, kamar yang begitu berkelas dan pastinya akan membuat siapa saja penghuninya merasa nyaman.
"Mas, ponsel kamu bunyi!" seru Wening dari balik pintu. Ada beberapa panggilan masuk selama pria itu di kamar mandi.
__ADS_1
"Bentar Dek, nanggung!" sahut pria itu mandi dengan cepat. Keluar begitu saja setelah memakai handuk sebatas pinggang.
"Dari siapa?" tanya pria itu langsung meneliti benda kesayangannya itu.
"Nggak tahu," jawabnya mengedikkan bahu.
Sebelum beranjak sempat memperhatikan suaminya yang bertelanjang dada. Sungguh pria dewasa memang mempunyai pesona tersendiri.
"Astaghfirullah ....!" batin gadis itu menggeleng pelan. Tidak mau memikirkan yang iya iya, tetapi otaknya seakan disuguhi dengan pemandangan yang menjurus ke sana.
Cukup lama gadis itu di dalam kamar mandi, mulai dari Seno yang keluar mengambil barang sampai balik ke kamar lagi, Wening masih juga belum selesai. Membuat pria itu bertanya-tanya apa yang dikerjakan istrinya.
Lantaran tak sabar dan takut kenapa-napa, Seno sampai mengetuk pintu kamar mandinya.
"Dek, udah belum? Lama banget sih!" pekik pria itu menggedor pintunya.
Gadis itu membukanya dengan raut wajah lesu dan takut.
"Ngapain aja sih, ini gantinya?"
"Maaf Mas, tapi perutku sakit," lapor gadis itu sembari mendesis menekan perutnya.
"Diare? Salah makan kah?" cerocos Seno khawatir. Tidak jadi marah tentunya.
"A-aku ... datang bulan," lirih gadis itu yang membuat pria itu seketika lemas.
"Beneran?" Wening mengangguk.
Oh my God, cobaan apa lagi ini!
"Ya udah keluar, jangan di kamar mandi terus, dingin!"
"Aku nggak bawa ganti, gimana dong?" tanya gadis itu sekaligus clue meminta tolong.
"Oke, sabar Seno, istrimu butuh bantuan, tunjukan kepedulianmu!" batin pria itu menghembuskan napas panjang.
"Tunggu sebentar," ujarnya bergegas.
Seno mencari mini market di sekitar, sungguh ini sesuatu yang awam baginya dan belum pernah ia lakukan. Mendadak ia repot dan bingung sendiri, plus sedikit malu juga. Di mana dirinya harus banget membeli benda keramat yang seumur hidup mungkin belum pernah memegangnya.
__ADS_1
"Wening biasanya pakai yang merk apa ya?" gumamnya bertanya-tanya. Untung saja posisi di luar kota, dan kemungkinan tidak ada yang mengenalnya.
Ekspektasi tak sesuai realita, nyatanya dunia hanya selebar daun kelor. Tanpa diduga, seseorang menyapanya. Hallo ... ini Jogja bukan Jakarta, kenapa harus banget ada yang manggil-manggil saat dirinya bahkan tengah membeli sesuatu yang harus disembunyikan.
"Seno, beneran elo, ya ampun ... ketemu di sini. Acara apaan?"
"Eh, Afnan, iya, kebetulan lagi berli—dari rumah mertua," jawabnya sedikit tidak siap. Sengaja menyembunyikan belanjaan di balik punggungnya.
"Beli apaan? Kebetulan banget ketemu di sini."
"Eh, ini—ada lah. Hehe."
Afnan mengintip lalu tersenyum menatapnya.
"Perhatian banget, hehe. Eh, ngomong-ngomong kamu nginep di mana? Bagaimana kalau ngopi dulu, udah lama kan nggak ketemu."
"Mmm ... boleh sih, cuma gue lagi ditungguin. Gue nginep di hotel Bima, lo sendiri?"
"Ih ... sama, ya udah kalau gitu entar kita janjian aja di bawah. Lo kabari aja kalau ada waktunya."
"Oke siap, sorry duluan ya," pamit Seno bergegas. Sudah terlalu lama meninggalkan istrinya, kasihan Wening.
Seno masuk ke kamarnya, menemukan kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Dek, kamu di dalam?" pekik pria itu mengetuknya.
Wening langsung membuka pintunya, kesal lantaran ditinggal gitu aja tapi langsung merasa terharu begitu pria itu menyodorkan benda khas kewanitaan itu.
"Ini pakai dulu, bener nggak merknya?"
"Mas beneran beli ini buat aku?" tanya Wening tak percaya. Ia pikir pria itu marah karena gagal iya iya malam ini, dan langsung ninggalin dirinya begitu saja.
"Kamu nggak marah?" tanya gadis itu setelah keluar dari kamar mandi.
"Nggak marah, tapi boleh nggak kalau kesel, kenapa pas banget momentnya kaya gini."
"Maaf, di luar ekspektasi. Jangan cemberut, habis sembuh, janji deh boleh langsung berkunjung."
"Pengen gemesin, sumpah ini menyebalkan sekali," ucapnya menatap kecewa.
__ADS_1
"Ya udah kita pulang aja, percuma booking hotel juga," ajak Wening kasihan juga melihat suaminya yang tidak bisa berbuat banyak.
"Masih ada seribu macam cara membuat aku bahagia. Hehe," ucap pria itu dengan kerlingan nakal.