Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 49


__ADS_3

Sabar-sabar!


Praktis semenjak semalam, Seno nampak murung menyambut pagi ditambah tidak bisa tidur lantaran kegerahan dan lain halnya. Pria itu terlihat masih begitu mengantuk lantaran semalam begadang seorang diri.


"Mas, aku mau ikut ibu ke sawah, nanti sarapan ambil sendiri ya," pamit Wening mendatangi suaminya yang masih tiduran.


Pria itu tidak menyahut, namun langsung membuka matanya yang tadinya hanya tidur boongan lantaran malas beranjak. Menahan tangan Wening yang hendak keluar.


"Ikut, males banget di rumah sendirian," ujarnya yang membuat Wening melongo tak percaya.


Seketika gadis itu tersenyum, ikut katanya? mereka ke sawah, bukan ke mall, apa iya mau ikut?


"Bentar, aku pamit ibu dulu," ujar gadis itu keluar kamar.


"Bu, nanti aku sama Mas Seno nyusul ya, Mas Seno belum sarapan," ujar Wening penuh solusi.


"Iya, temani saja dulu, kalau memang mau menyusul bawa motor saja, lewat jalan biasa nanti kelihatan dari pinggir jalan."


"Siap Bu," jawab Wening semangat.


Sepeninggal kedua orang tuanya ke sawah, tinggal Wening dan Seno, Mbak Rara sudah berangkat kerja. Tentu saja rumah yang sepi kesempatan untuk mereka berdua.


"Ayo Mas sarapan dulu aku temenin, keburu siang panas, aku pengen lihat sawah," ujar Wening antusias.


"Apa bagusnya cepet-cepet, toh bentuknya sama aja," jawabnya santai.


"Iya sih, tapi situasi dan perasaan nyaman ini yang berbeda, kita tidak pernah menjumpai di kota, tentu saja beda Mas. Kalau nggak mau ikut masih ngantuk tidur aja dulu. Nggak pa-pa juga di rumah."


Seno tidak menyahut, keduanya sama-sama diam di depan meja makan. Seno menanti Wening melayaninya seperti kemarin-kemarin waktu ada kedua orang tuanya, jadi ia hanya diam saja tanpa mengambil.


"Mas, cepetan, katanya mau sarapan, kok malah diem gitu," tegur Wening kurang perhatian.


"Apanya yang dimakan, dari tadi piringku kosong," sindir pria itu tepat sekali.


"Owh mau diambilin ya, bilang dong Mas yang lembut, pasti aku ngerti. Hehehe."


"Segini cukup?" ujar gadis itu mengisi piring suaminya.


"Makasih," ucap Seno mengangguk. Lekas makan dengan diam.


Wening memperhatikan dengan tenang.


"Dek, nanti sore anter ke kota ya, mau cari sesuatu," ujar Seno di sela makan.


"Pengen jalan-jalan ya, boleh deh kita ke Malioboro," jawab Wening sumringah.

__ADS_1


"Ini udah? Aku bersihin dulu yang kotor."


"Kamu nggak sarapan?"


"Udah tadi bareng-bareng, Mas nggak mau bangun jadi ditinggal duluan karena semua mau aktivitas."


"Masih ngantuk banget, jagain kamu semalaman," jawabnya membuat Wening terharu.


"Makasih, udah perhatian," ujarnya tak menyangka. Seno bisa sesweet itu, membiarkan Wening tertidur sementara dirinya sibuk menguber nyamuk-nyamuk nakal yang hampir hinggap di kulit istrinya yang mulus.


"Hihi, nanti malam pakai lotion anti nyamuk deh, biar aman," jawabnya nyengir.


"Ayo, ini kontaknya," ajak Wening menginterupsi Seno yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Bentar, aku lagi balas chat Wahyu, penting!"


"Ya udah, aku panasin dulu motornya di depan."


"Pakai motor? Emang jauh?"


"Kata ibu, kita urutin aja jalanan kampung pinggiran sawah, nanti kelihatan dari jalan," ujarnya menerawang.


Seno menyusul Wening yang sudah keluar lebih dulu, mendapati istrinya tengah menerima telepon di luar. Melihat suaminya keluar, gadis itu segera menyudahi obrolan mereka.


"Vivi, cuma nanya kabar? Teman-teman ngajak ke bazar buku. Tapi aku kan lagi mudik," jawabnya dengan senyuman.


"Biar aku yang bawa," ujar pria itu yakin.


Wening pun mengangguk setuju, jarang-jarang CEO arogan bawa motor boncengin istrinya, kesempatan langka yang mungkin tidak akan terulang. Mengingat sepak terjang pria itu di ranah kekuasaan. Impossible!


Jadilah mereka saling berboncengan menikmati indahnya semilir hijau persawahan. Hamparan padi di sisi kanan dan kiri membuat pemandangan itu begitu menyejukkan mata.


"Mas, berhenti bentar," pinta Wening menepuk pundaknya.


"Kenapa?" tanya pria itu seraya mematikan mesin motornya.


"Foto dulu Mas, momen banget kaya gini, jarang-jarang loh CEO nyambangi sawah. Hahaha."


"CEO juga manusia, apanya yang aneh," ujarnya santai.


Wening tersenyum saat pria itu menyanggupi mengabadikan perjalanan mereka dengan berbagai gaya yang cukup konyol.


"Berdua Mas, nempel nggak pa-pa, jangan cuma di ranjang aja deketnya," protes Wening gemas sendiri mendapati suaminya tak ada romantis-romantisnya.


"Nanti protes, tempat umum Mas, menjauh dariku," cibir pria itu mengulang kata yang sering dilontarkan istrinya.

__ADS_1


"Hehehe, jangan diambil hati, anggap saja sebagai proses yang harus disyukuri. Emang seepic itu ngetreat seorang Wening. Haha, ngarep!" Gadis itu tertawa sendiri.


Agak miris ketika mempunyai bayangan bersuamikan pria sahaja, kalem, nan romantis penuh dengan kasih sayang dan kata-kata indah, namun yang meminangnya malah pria modelan CEO yang dingin dan galak akibat gusuran dari kakaknya. Parahnya nggak ada cinta di antara mereka, bayangan itu sirna seketika berganti dengan rasa pasrah menerima jalan takdir.


"Astaga! nempel bukan berarti cium Mas, ini di pinggir jalan!" protes Wening mendapati suaminya mencuri gambar plus menciumnya dalam satu waktu.


Seno tersenyum melihat hasilnya, lucu dan pastinya cukup berkesan.


"Bagus kok, nih lihat, seperti pasangan romantis yang anti cek cok," ujarnya senyum-senyum sendiri.


"Jalan Mas, lanjut, sepertinya motornya parkir sini aja, itu ibu sama bapak udah kelihatan."


"Dek, ini beneran main-main di sawah? Nyemplung gitu? Aku jadi pengamat saja."


"Ya terserah, aku mau lihat-lihat sekitar, Mas tunggu aja di gubuk bambu itu kalau nggak mau turun," tunjuk Wening dengan santai.


Gadis itu mendekati ibu dan bapak yang nampak sibuk memilah benih yang mau ditanam. Sebelahnya ada pekerja yang tengah membajak sawah, sungguh pemandangan yang begitu menawan khas pedesaan.


Seno masih setia mengamati istrinya yang nampak tengah berbincang-bincang dengan ibu dan ibu-ibu lainnya yang bekerja di sana. Seketika pikirannya menerawang jauh, mendadak mempunyai ide usaha di kawasan itu sebagai tempat bisnisnya.


"Mas, sini!" teriak Wening menginterupsi.


Seno yang tengah sibuk mengambil beberapa gambar istrinya secara diam-diam tersenyum puas. Menaruh ponselnya di dekat ponsel Wening yang dititip di gubuk. Pria itu menyusul istrinya dengan langkah kaku.


Mereka berjalan di antara pembatas petakan, tiba-tiba Wening berbelok seraya menjerit mendapati makhluk tak terduga di depan matanya.


"Hah! Ular!" pekiknya kaget sampai menubruk tubuh suaminya.


Byur!


Keduanya nyemplung ke petakan sawah yang sudah digenangi air. Membuatnya kotor penuh lumpur.


Sontak beberapa orang di sana langsung mendekat dengan wajah panik.


"Ada apa Ning?" Yang ditanya nggak konek, lagi gulat di lumpur cinta.


"Owh ... ini mah bukan ular, tapi belut, bikin kaget aja!" ucap Bapak tersenyum lega.


"Mas, nggak pa-pa? Ya ampun ... muka kamu lucu!" Wening malah cekikikan mendapati suaminya kotor maksimal.


Seno jail, mencubit gemas pipinya yang tentu saja membuat muka Wening yang putih dan bersih itu berselimut coklat tanah.


"Kamu juga lucu. Hahaha." Seno balas tertawa.


"Ya ampun ... resek kali suami orang," balas Wening di pipinya dengan secomot lumpur yang sama. Hingga keduanya asyik berbalas sambil tertawa lepas.

__ADS_1


__ADS_2