
"Baik-baik di sini, kalau ada apa-apa langsung telepon," pesan Arka sebelum pulang.
"Ck, jauh juga, emang bisa langsung datang?" cibir Wening sedikit guyonan.
"Pokoknya panggil aku tiga kali, InsyaAllah langsung terbang. Hehe."
"Makasih udah nganter, bener masih buta banget sama daerah sini, untung Kak Arka sabar nunjukin jalannya."
"Sebenarnya masih pingin lama-lama tapi nanti takut pulangnya kemalaman. Belajar yang rajin ya, semangat!" ujarnya mengangkat kepalan tangan sembari tersenyum.
"Oke!" Wening balas tersenyum. "Tolong jangan beritahu Mas Seno tentang keberadaan aku, butuh ketenangan," ucapnya sungguh-sungguh.
"Nggak janji, abang nyeyelan," jawabnya sambil membayangkan karakter abangnya yang memang begitu.
"Please ... atau aku akan benar-benar marah dan hilang kabar untuk semua orang," ancam perempuan itu serius.
"Pasti aku temukan, hanya seputar sini, aku hafal," ujarnya percaya diri.
"Aku serius, aku lagi pengen sendiri," ucap gadis itu yang membuat Arka mengangguk. Lambaian tangan dan ucapan doa menjadi pamungkas pertemuan mereka.
Sepeninggal Arka, Wening langsung beres-beres. Beberapa deringan telepon dari ponselnya sengaja ia abaikan begitu tahu dari suaminya. Tak ada yang harus dibahas lagi, semuanya sudah cukup jelas, Wening sudah mengambil keputusan walau hatinya sakit.
__ADS_1
[Angkat telepon aku, Dek, apakah kamu sudah sampai?]~ exs_bojo
Perempuan itu sengaja tidak membukanya, hanya terbaca lewat pop layar yang tergambar kelas masuk ke ponselnya.
Sementara Seno jelas merasa khawatir, dia uring-uringan seorang diri. Kalau tidak ada Wahyu, mungkin ponselnya sudah dibanting.
"Biarkan Noning tenang dulu, dia sepertinya butuh waktu. Begitu pun dengan Anda, Bos, mantapkan hati dulu, pastikan menyusul dengan kondisi hati yang udah siap dan benar-benar menerima. Bos juga perlu sendiri sepertinya," ujar Wahyu yang sebenarnya siap menampung keluh kesahnya.
"Kamu bener Yu, Wening pasti masih marah atas kejadian semalam. Aku mungkin emang keterlaluan, aku kadung emosi," jawab Seno penuh penyesalan.
Pertengkaran hebat semalam jelas meninggalkan luka mendalam untuk gadis itu. Walaupun tak sampai hati memaksanya untuk dirinya, jelas dia begitu marah. Harusnya Seno memulai dengan lembut, menanyakan kabar berhari-hari yang sudah terabaikan.
"Hah ... brengsek! Kenapa harus jadi kaya gini sih, nggak ngerti banget aku tuh nggak bisa jauh. Bodoh!" sesal Seno menjerit frustrasi.
"Astaga! Nomor aku diblokir?" gumam Seno jengkel sekali. Bertambah murka tentunya.
Malam-malam sampai menghubungi Wahyu hanya untuk curhat perihal malam ini yang mendadak tak bisa menghubungi istrinya.
Tak berselang lama, Wahyu pun datang mengunjungi rumahnya. Seno langsung meminta pria itu untuk menyambungkan ke telepon selulernya, sayang sekali handphone perempuan itu bahkan tidak aktif.
"Maaf, Boss, sudah dari kemarin sosial medianya juga nggak aktif, sepertinya sengaja deh memutus kontaknya," ujar Wahyu merasa prihatin.
__ADS_1
"Aku harus gimana? Aku udah nunggu seminggu nggak ada pesan. Giliran pengen hubungi buat minta maaf gini malah diblokir, nggak bisa gini aku nggak tenang," ujar Seno tak sabar lagi.
"Ayo kita ke Bandung, aku benar-benar harus ketemu, Arka kan kemarin yang nganter, kamu cari tahu di mana Wening tinggal. Kita cari kost di sekitar kampus."
Demi ketentraman bosnya yang benar-benar hilang sudah seminggu ini. Bahkan cenderung marah dan uring-uringan sendiri, tidak fokus kerja sama sekali walau mati-matian sampai lembur berhari-hari. Seno kehilangan jati dirinya, rapuh dan lebih parah dari pada kejadian gagal nikah yang akhirnya digantikan Wening.
Arka yang merasa kasihan pun akhirnya memberikan alamat tempat tinggal Wening. Berharap mereka bisa berdamai, walaupun LDR-an, tetapi tetap saking menjaga dan menyayangi satu sama lain.
Ekspektasi tak sesuai realita, Wening benar-benar membuat Seno bertambah cemas bercampur marah dan kecewa.
"Seminggu yang lalu memang ngekos di sini, tapi kemarin minta izin pindah," jawab ibu kost yang Seno dan Wahyu temui.
"Kira-kira tahu nggak Bu, pindah ke mana?" tanya Wahyu ikut khawatir juga.
"Wah ... kalau itu tidak tahu Mas, Dek Wening hanya pamit mau cari kost yang lebih dekat lagi," jawab Ibu Kost mengulang kata perempuan itu sebelum pamit.
"Oke, Bu, terima kasih," pamitnya lesu.
"Gimana? Pokoknya cari sampai ketemu, nggak mau tahu," ujar Seno uring-uringan tak jelas.
"Kita cari tempat istirahat dulu saja Bos, ini sudah malam, besok kita cari lagi, bila perlu tanya kost-kostan yang ada di sekitar kampus," ujarnya menenangkan.
__ADS_1
Semalaman jelas Seno tidak bisa tidur, ia yang sudah terlalu rindu, nyatanya belum juga bisa bertemu.