
"Ups ... sorry, refleks," ucap Wening segera memberi jarak. Namun, Seno menahan pinggangnya seraya menatap dalam. Mengambil kendali dengan mempertemukan bibir mereka, membuat pergulatan sengit indera perasa itu tak terelakan.
Keduanya terengah dengan napas memburu sembari memberi jarak. Pipinya merona, membuat Seno tersenyum melihatnya yang malu-malu tetapi tidak menolak.
"Kita pulang sekarang, atau mau mampir dulu ke suatu tempat," tawar pria itu.
"Ngikut ke mana kamu pergi Mas," jawab Wening yakin.
"Beneran? Kalau aku ke kantor, kamu mau ikut?"
"Boleh, aku kan belum pernah ke sana, pengen tahu juga tempat kerja kamu," ujar gadis itu tersenyum senang.
"Sebelum bertolak ke kantor, Seno mampir ke mini market lebih dulu guna membeli cemilan. Jaga-jaga nanti istrinya akan bosen, jadi membeli beberapa makanan kesukaan sebagai teman menunggu.
"Aku beli rokok dulu, tunggu sebentar ya," pamit pria itu turun dari mobil setelah memarkirkan dengan benar.
"Aku tunggu di sini saja Mas, mager," jawabnya menyisakan seulas tersenyum.
Sambil menunggu, scroll chat di laman si hijau. Grub kelas masih begitu ramai, sebenarnya Wening tadi tidak ingin langsung pulang, ada agenda ngumpul bersama teman-temannya di titik tempat yang telah disepakati. Namun, kadung masuk ke mobil, susah pamitnya pasti banyak pertanyaan rempong.
"Serius amat Dek, chat sama siapa?" tanya Seno begitu menemukan istrinya tak notice dengan keberadaannya.
"Udah Mas?" tanya gadis itu sembari menatap suaminya yang tengah memindah barang belanjaan ke belakang.
"Beli apa? Banyak banget perasaan?" tanya Wening melongok dengan wajah kepo. Tangannya menarik kantung kresek itu yang ternyata aneka cemilan kesukaannya.
"Mas, ngapain beli cemilan sebanyak itu?"
"Biar kamu betah nungguin aku kerja, kurang bisa nambah," ujarnya tersenyum.
Wening yang tadinya hendak pamit pun urung demi melihat suaminya yang sudah super perhatian.
__ADS_1
"Aku masih pakai seragam gini, nggak pa-pa?" Wening kurang begitu nyaman.
"Mau ganti dulu, boleh kok," ujarnya penuh solusi.
"Jauh, males bolak balik, tutupin pakai jaket ini aja. Mas malu nggak?" tanya Wening memastikan.
"Nggak, tapi nanti pasti kamu jadi pusat perhatian, nggak rela aja kadang banyak yang lihat," jawabnya penuh modus.
"Hmm ... udah terikat kok, bisa apa."
"Hahaha, iya sih, tapi mata orang suka resek, apa lagi kamu manis gini ngegemesin, bukan nggak mungkin kan semua orang bisa naksir."
"Nggak Mas, kamu aja nggak naksir-naksir sama aku, itu tandanya aku tidak semenarik itu."
"Ngomongnya kenapa gitu, kamu masih kurang yakin?" tanya Seno menatap dalam.
"Kalau aku bilang iya gimana? Aku ngerasain loh sejak kamu pulang dari makan malam itu. Kamu beda," tuduh Wening yang sebenarnya penasaran. Seglumit perasaanya seakan terus menghantui dirinya.
"Maaf kalau sikapku buat kamu kurang nyaman, tapi aku beneran berusaha buat hubungan kita."
"Maaf ya, ternyata kamu sepeka itu," sesal pria itu terlihat galau.
"Nggak harus minta maaf, terima kasih udah datang sebagai wali aku, terima kasih buat semua yang udah Mas kasih buat aku selama ini. Maaf, belum bisa menjadi istri yang baik. Jangan ngelakuin apa pun untuk aku jika itu membuat perasaan kamu tidak nyaman."
"Kalau Mas butuh waktu sendiri, aku paham!" ujar Wening mencoba tersenyum.
Walau sebenarnya hatinya mendadak sesak dan mellow. Jujur di saat perasaan itu mulai tumbuh, bahkan siap menerima, justru Seno terlihat tidak serius dengan hubungan ini. Beberapa hari Wening merasakan pria itu tak sehangat kemarin. Bahkan tak kunjung meminta haknya padahal perempuan itu sudah bersih. Apa mungkin pria itu sedang memantapkan perasaannya.
"Maafin aku," sesal pria itu terlihat sekali dalam kebingungan.
"Aku nggak pa-pa kok, kalau gitu aku turun di sini aja ya, masih ada acara sama teman, Mas hati-hati di jalan!" Gadis itu turun dengan wajah tersenyum, lalu melambai sebagai salam perpisahan.
__ADS_1
"Dek, acaranya di mana? Nanti biar aku jemput," ujar pria itu tak sampai hati.
"Nggak usah Mas, nanti aku pulang agak sore. Selamat bekerja, da dah!" Wening tersenyum walau sebenarnya hatinya pilu.
Wening merasa pria itu tak sehangat kemarin, ada sesuatu yang ditutupinya. Membuat dirinya bertanya-tanya apakah diri ini sudah pantas untuk menjadi pendamping hidupnya. Sejauh waktu berjalan, bahkan pria itu belum pernah mengikrarkan perasaannya.
"Dek, kenapa nangis? Apa tidak lulus?" tanya supir taksi yang tengah mengemudi.
"Lulus kok Pak, lagi sedih aja," jawabnya tak terasa berurai air mata.
Wening menyambangi teman-temannya yang masih berkumpul merayakan kelulusan mereka.
"Eh, ke mana aja lo, telat, kita baru aja ambil foto bareng-bareng."
"Ulang dong, ambil gambarnya yang banyak," ujar gadis itu jelas terhibur.
"Yud, aku minta maaf, boleh nggak minta alamat kantor om Afnan?" tanya gadis itu mendekati Yudha yang duduk menepi dari teman-teman.
"Buat apa? Jangan buat masalah!" peringatnya dingin.
"Ada suatu hal yang harus aku tanyakan. Itu pun kalau boleh," ujar gadis itu terlihat sendu.
"Kamu kenapa? Semua orang terlihat bahagia, kenapa wajahmu jelek gitu."
"Karena kamu memutuskan kontak aku. Hehehe. Jelek ya biarin aja," jawabnya terkekeh sendiri.
"Jangan deket lagi, kamu udah nikah, nanti suami kamu marah."
"Iya, maaf atas ketidak jujuran aku padamu soal statusku."
"Aku kecewa, tapi aku berharap kamu bahagia," do'anya tulus.
__ADS_1
"Makasih, jadi gimana? Permintaan terakhir sebelum nanti kita pisah dengan kesibukan masing-masing."
"Oke, nanti aku antar, untuk yang terakhir."