
"Namanya juga perempuan ya pasti cantiklah, masa ganteng. Hehe." Wening nyengir menanggapi pujian Rajas.
"Masuk yuk, sepertinya teman-teman sudah pada hadir," ajak Rajas berjalan sejajar dengan Wening.
Perempuan itu mengangguk, berjalan masuk sambil menyusuri ruangan yang didekorasi begitu indah.
"Wao ... sepertinya yang datang bukan hanya kelas kita aja deh, ada banyak kating dan sejumlah orang yang tak dikenal."
"Hooh, temannya banyak, orang kaya mah bebas ya ngadain acara sebesar ini."
"Kalau di kampung namanya apa ya Ja, selametan hari lahir, bener nggak sih kalau dibikin acara kek gini."
"Sana yuk, ngucapin ke Clarissa dulu," ujar Rajas menunjuk Tuan acara. Wening mengangguk, berjalan perlahan mengikuti langkah Rajas.
Tanpa perempuan itu sadari, sedari tadi nampak seorang pemuda menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Ya ampun ... Wening, yang ulang tahun siapa, yang cetar siapa? Cantik banget," puji Aira menatap takjub.
"Apa banget sih Ra, biasa aja, hanya sedikit dipoles kok."
Penampilan Wening malam ini jelas menjadi pusat perhatian. Gaun bertali spagetti dengan kaki jenjang terekspos dalam balutan heels membuatnya makin rupawan. Sangat berbeda dengan penampilan keseharian saat ke kampus yang cenderung biasa jauh dari kata feminim.
Wening dan Rajas lebih dulu mengucapkan selamat ulang tahun pada Clarissa. Setelahnya bergabung menikmati jamuan acara. Sedikit mencuri atensi saat pemandu acara memberikan game-game seru. Hingga acara tersebut berangsur semakin malam dan lebih memukau.
"Seru juga ya? Kapan lagi coba healing kaya gini," ujar Rajas sumringah.
__ADS_1
"Ja, kok aku sedikit pusing ya?" ujar Wening setelah meneguk minuman berwarna pink.
"Eh, kamu tadi minum apa?" tanya Rajas sedikit bingung.
"Waduh ... sepertinya ini mengandung alkohol."
Rajas mencium minum bekas Wening. Sepertinya minumannya tercampur dengan alkohol rendah, dan itu sangat biasa bagi yang sering minum. Tetapi bagi Wening yang masih pemula, tentu berefek dan membuatnya kliyengan.
"Ja kepala aku seperti berputar-putar," keluh perempuan itu mengetuk-ngetuk kepalanya.
Dari dalam clutch bag Wening terdengar handphonenya sedari tadi berbunyi. Rajas yang cukup kebingungan akhirnya membukanya lalu mengambil handphone sahabatnya itu.
Mengamati dengan seksama nama Habibie terus menghubunginya.
"Ning, handphone kamu bunyi, ini diangkat nggak? Siapa tahu penting."
Perempuan itu mengangkat panggilan yang ternyata dari suaminya. Perempuan itu sedikit tidak konek malah cekikikan sendiri kadang bergumam-gumam lucu.
"Dek, udah mau pulang belum? Aku sudah menunggu di luar!"
"Eh, Mas Seno yang ganteng, hihihi. Tumben baik Mas mau jemput," gumam perempuan itu menya menye.
Seno yang merasa aneh langsung masuk ke dalam. Suasana nampak riuh rendah pemuda pemudi yang tengah menikmati pesta. Pria itu jelas mencuri perhatian seantero kafe yang sudah disulap menjadi acara party. Hingga kedatangannya cukup membuat ciei-ciwi di sana bertanya-tanya. Pangeran siapakah yang turun ke sini.
"Ya ampun ... Clar, undangan lo yang ini keren banget, siapa?" tanya Alya dan teman-teman cewek lainnya mulai sedikit heboh.
__ADS_1
Clarissa yang punya acara pun merasa asing dengan kehadiran pria itu. Seingatnya, semua tamu undangannya tidak ada yang seganteng itu. Atau mungkin tamu spesial yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi partner malam ini di tengah pesta.
Sayangnya keadaan itu terbantahkan sebelum semuanya sempat bertanya menghampiri. Karena pria itu kini berjalan pakem menghampiri seorang gadis dengan sorot netra elangnya. Terlihat jelas istrinya tengah duduk ditemani seorang pria yang nampak tidak asing bagi Seno. Seperti pernah melihat, tetapi di mana?
"Ning, pulang saja yuk ... kamu ternyata nggak bisa minum alkohol." Rajas mulai khawatir dengan keadaan Ning yang hanya diam sambil bergumam-gumam entah.
"Dek, pulang!" titah Seno dingin. Darahnya semakin mendidih melihat penampilannya yang cukup aduhai menggoda iman. Pria itu melepas jasnya, lalu menyampaikan ke pundak istrinya.
"Kamu bisa masuk angin kalau begini caranya," omel Seno langsung menggendongnya tanpa permisi.
"Om, Mas, hmm ... kamu siapa? Maaf, tadi Wening bareng sama saya, jadi jangan asal bawa." Rajas jelas merasa takut dengan pria asing yang tiba-tiba menggendong sahabatnya.
"Saya suaminya, hak apa kamu merasa keberatan," jawab Seno tenang. Walaupun hatinya bergemuruh kesal, nampaknya pria itu mencoba tetap tenang dan akan menyelesaikan ini di rumah.
Pernyataan Seno tentu saja banyak membuat pasang mata melongo. Bahkan, Rajas dibuat tak berkutik diam di tempat tak percaya. Apa katanya? Suami?
"Mas, kamu tampan sekali. Hihihi!" Wening yang baru saja diturunkan dari gendongnya ke mobil tepat di jok depan meraih pipi Seno lalu mencubit-cubit gemas.
Pria itu menyingkirkan tangannya lalu mengitari mobil masuk ke dalam. Sengaja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Dek, diem, kamu mabuk!" tukas Seno menarik tangannya yang rusuh. Bahkan, karena terus bergerak liar mengganggu konsentrasi menyetir, membuat pria itu menepikan mobilnya sejenak, melepas dasinya lalu menali tangannya agar diam.
Wening tidak berontak, separuh otaknya oleng. Situasi seperti ini bisa sangat berbahaya bila tidak bertemu orang yang tepat. Pesta- pesta seperti ini yang Seno khawatirkan dan semua ini menjadi kenyataan.
"Mas, aku mual," gumam Wening merasa perutnya bergejolak.
__ADS_1
Setengah sadar kedua tangannya yang disekap itu memukul-mukul pundak Seno. Karena merasa tidak tahan, Wening benar-benar muntah dan sialnya terkena tubuh suaminya.