Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 79


__ADS_3

"Cantik, menarik dan seksi!" puji Seno melihat penampilan Wening malam ini.


"Makasih, kamu juga tidak terlalu buruk, walau usia kita terpaut jauh, kamu kelihatan ganteng maksimal. Hehehe."


"Cuma delapan tahun aja, ulang tahun nanti, kamu mau kasih hadiah apa? Aku bentar lagi ulang tahun lho," ujar Seno mengingatkan.


Pernikahan mereka yang sebenarnya sudah berjalan banyak bulan. Baru menyadari kedekatan ini benar-benar nyata setelah keduanya berhasil menjalankan rumah tangga layaknya pasangan normalnya.


Berbagi suka dan duka, dan juga berbagi selimut dalam kehangatan. Begitu pentingnya untuk saling percaya. Hingga keduanya bisa memahami satu sama lain.


"Aku nggak tahu jika kita tidak bertemu dengan kondisi saling terpaksa. Mungkin endingnya bakalan lain," ucap Seno merasa bersyukur sambil menggenggam tangannya.


Malam yang begitu syahdu mereka ciptakan kebersamaan berdua saja. Dengan taburan cinta dan penuh kasih sayang.


"Begitulah takdir hidup, karena jodoh telah mempertemukan dan menyatukan kita," jawab Wening tersenyum bahagia.


Kehidupannya baru dimulai, berawal dari rasa yang entah kini keduanya berusaha memahami dan menerima setiap jengkal napas yang tersisa untuk mengarungi hidup bersama dalam suka maupun duka.


Usai makan malam romantis berdua, Wening dan Seno masih senyum-senyum sambil pulang. Pria itu mengemudi dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik istrinya yang malam ini terlihat begitu mempesona.


Kehidupannya terasa begtu damai, setiap hari kedua pasutri itu melakukan banyak hal berdua setelah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kesibukan Seno di kantor, dan padatnya waktu kuliah Wening, tak menjadikan keduanya beban. Saling menyemangati dan mengisi kalau senggang. Tak jarang Wening main di kantornya kalau merasa bosan di rumah.


Keduanya akan melakukan kegiatan mengasyikkan di mana pun asal membuatnya nyaman. Benar-benar seperti impian Seno, pulang kerja dengan sejuta kehangatan dan pagi hari akan melepas dengan senyuman. Kerja tenang, beraktivitas pun rasanya nyaman, dan yang pasti ingin segera pulang ke rumah setelah beres kerja.


"Lagi ngapain, Dek, sampai aku pulang dikacangin?" protes Seno mendekati istrinya yang tengah sibuk dengan gawai di tangannya.

__ADS_1


"Astaghfirullah ... enggak Mas, aku udah jawab salam, meski lirih, ini lagi balas chat dari ibu," jawab Wening mengalihkan dari layar ponsel langsung menghadap suaminya.


Mencium tangan, lalu membantu melepaskan dasinya dan juga menyiapkan air hangat untuk mandi, dan pakaian ganti. Setelahnya menyiapkan makan malam dibantu asisten rumah tangganya.


"Mas, kamu ada waktu senggang kapan?" tanya Wening sambil menyiapkan piring dan mengisi menu yang tersaji.


"Belum ada, lagi banyak pekerjaan, kenapa sayang?" tanya Seno yang sepertinya menangkap wajah istrinya memendam keinginan.


"Iya Mas, weekend besok izin pulang ke Jogja ya, boleh?"


"Kenapa mendadak, tunggu Mas ada waktu, biar bisa nganter kamu sekalian. Kamu kangen sama bapak dan ibu? Bukannya setiap hari telepon ya?"


"Iya sih, cuma—" Wening terdiam bingung.


"Kenapa sayang? Ada masalah di kampung? Perlu uang?"


"Owh gitu, aku antar kamu tapi langsung pulang ya, nggak bisa lama juga soalnya beneran lagi banyak pekerjaan."


"Nggak usah diantar Mas, aku berani pulang sendiri, nanti dijemput saja, paling di sana dua hari karena aku kan juga harus kuliah."


"Masa pulang sendiri, mana aku tenang, bisa nggak pulangnya ditunda dulu, biar nanti aku antar saja."


"Nggak usah Mas, nggak usah ikut, pokoknya nggak usah ikut."


"Kamu kenapa? Khawatir aku ketemu Rara? Nggak boleh gitu, kita udah saling percaya loh!" Seno memperingatkan.

__ADS_1


"Bukan itu, aku percaya kok, cuma dari pada bolak-balik riweh, belum kalau di kampung kamu suka rempong. Aku pulang sendiri, nanti kamu nyusulin, titik."


Akhirnya Seno pun mengizinkan, pria itu mengantar sampai bandara saja. Walaupun ada rasa tidak tega, namun Wening menyakinkan.


"Hati-hati di jalan! Aku bakalan kangen banget nih sama pipi imut ini," ujar Seno mencubit gemas lalu menciumnya penuh perasaan.


"Kamu juga hati-hati, awas aja lirik sana lirik sini!" ancam Wening pamit.


"Hehehe, jangan khawatir sayang, di mataku tidak ada yang menarik selain kamu, lagian kulitku tidak bisa bersentuhan selain dengan istriku," jawab Seno mengandung kebucinan.


"Aku terpukau, walau pada kenyataannya di lapangan banyak godaan, semoga apa yang kamu katakan benar. Love you! Tunggu aku pulang, akan aku beri kehangatan dobel," seloroh Wening mengerling berjalan menjauh menuju terminal gate keberangkatan.


Seno tersenyum melepas kepergian istrinya. Hatinya sedikit tidak tenang mengingat sendirian, namun pekerjaan membuatnya tidak bisa meninggalkan begitu saja. Ditambah Wening bersikeras sendiri saja. Pria itu akan menyusulnya lusa.


Setiba Wening di Jogja, gadis itu langsung ke rumah sakit. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan kakaknya tumben-tumbenan menyuruhnya pulang.


"Bu, Mbak Rara mana?" Wening menghadap Bapak dan ibunya yang nampak bahagia bercampur sendu.


"Kamu sendirian, Nak, mana suamimu?" tanya Bu Ana menyambut putrinya dengan pelukan hangat.


"Mas Seno lagi sibuk-sibuknya, dia sebenarnya mau nganter tapi aku kasihan kalau harus bolak balik sehari, jadi aku memutuskan pulang sendiri."


"Owh ... ya sudah nggak pa-pa, yang penting kamu udah sampai," jawab Bu Ana tak mengapa.


"Mbak Rara mana, Bu? Anaknya sehat, 'kan?"

__ADS_1


"Anaknya di ruangan khusus, sehat alhamdulillah, tapi kakakmu malah terlihat tidak baik-baik saja," jawab Bu Ana sendu.


"Maksudnya?


__ADS_2