Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 86


__ADS_3

Wening menurut dengan wajah mrengut, berjalan mengekor suaminya yang cukup cepat melangkah.


"Maaf, jadi menunggu terlalu lama, perkenalkan, ini istri saya," ucap Seno mengenalkan Ning pada perempuan yang menjadi rekan bisnisnya itu.


Perempuan itu tersenyum ramah menyambut uluran tangan Wening.


"Salam, senang bertemu dengan Anda," ucapnya santun.


Seno menarik kursi untuk istrinya duduki, sambil menunggu pesanan datang, mereka berdua khususnya Seno dan perempuan yang diduga kliennya terlibat obrolan. Sementara Ning hanya diam saja karena sama sekali tidak mengerti tentang dunia perusahaan, dan sejenisnya. Cukup menikmati jamuan yang datang di atas meja.


"Kelihatannya istri Anda masih sangat muda, benarkah?" tanya perempuan itu sembari menikmati menu di piringnya.


Seno tersenyum menanggapinya. Benar sekali, istrinya memang masih muda dan sedikit bandel. Terkadang membuatnya stress dan tak jarang membuatnya marah.


"Iya, belum genap dua puluh tahun, cocok 'kan? Hehehe." Pria itu jelas berseloroh. Ning hanya tersenyum tipis menanggapi pujiannya.


"Tentu saja kalian sangat cocok, pasangan yang begitu serasi, bagaimana kalau produk iklannya menggunakan model istri Anda saja. Dia sangat cantik," pujinya menatap kagum.


"Hah!" Pria itu sampai memekik mendapati pernyataan rekan bisnisnya.


"Eh, saya becanda, mana mungkin Anda membiarkan istrinya bekerja," sesal perempuan itu meralat pernyataannya.


"Akan aku pertimbangkan, dia masih kuliah, dan tentu saja semua harus atas persetujuan darinya."


"Anda beruntung, istrimu sangat cantik," puji perempuan itu sekali lagi.

__ADS_1


Makan siang itu berakhir dengan manis, dan pertemuan keduanya akan diagendakan dengan pertemuan lanjutan. Selepas perempuan itu pamit, tinggalan Seno dan Wening yang terlihat kembali diam.


"Ayo balik," ucap pria itu beranjak lebih dulu.


Wening terdiam karena merasa diabaikan. Bahkan, saat Seno kembali ke kantornya, Wening tetap memilih berdiri di halaman kafe. Enggan menyebrang mengikuti pria itu. Menatap punggung suaminya yang berjalan menjauh mendekati kantornya.


"Mau langsung pulang, atau menunggu? Biar wahyu yang nganter karena aku masih banyak pekerjaan," ucap Seno tak ada tanggapan sama sekali.


Pantas saja, pria itu mengoceh sendiri karena Wening bahkan masih tertinggal di depan kafe.


"Astaga!" Pria itu menggeleng dengan gemas mendapati istrinya tak beranjak sama sekali.


Seno pun merogoh ponselnya dari saku celananya, lalu menghubungi istrinya yang terlihat hanya menatap layar, dan dirinya secara bergantian tanpa menjawab. Tentu saja hal itu membuat Seno gemas di atas pijakan mereka yang terpisah kisaran sepuluh meter, saling menatap dalam diam.


"Dasar bocil bandel, maunya apa sih!" umpat Seno gemas sekali. Melangkah lebar kembali menyebrang jalan.


Lift terbuka langsung sampai ke lantai lima belas. Mereka keluar hampir bersamaan. Seno meraih tangannya takut perempuan itu kembali merajuk lantaran diabaikan begitu saja. Alih-alih diam dalam genggaman, Wening menyembunyikan tangannya dengan lirikan malas.


Seno yang sudah kadung gemas sedari tadi, langsung mengangkat tubuh Wening membawanya ke ruangannya. Membuat perempuan itu sedikit terkejut, namun tak berani protes. Pria itu menurunkan tubuh istrinya di sofa dengan rasa jengkel. Lalu menatap istrinya tajam. Sementara Wening hanya menunduk dengan wajah kecut.


"Aku marah, kenapa semalam pakai pakaian yang terlalu terbuka? Sengaja pamer tubuh kamu biar jadi tontonan?" ucap Seno yang pertama dengan lontaran menohok.


Wening yang tertunduk seraya memilin jemarinya mendongak, merasa bingung karena pakaian itu bahkan setahunnya dari suaminya.


"Aneh banget, kan kamu yang kasih, mana aku nyaman pakai gituan," jawab Wening lirih.

__ADS_1


"Siapa yang kasih, aku masih cukup waras memperhitungkan semuanya. Kalau orang lain terserah, tapi tubuhmu, hanya boleh dilihat dan tersentuh olehku," tekan pria itu cukup jelas.


"Bukannya kamu yang kirim lewat orang? Udah jelas orangnya bilang kiriman dari Tuan. Siapa lagi Tuan di rumah selain kamu," bela Wening merasa harus diluruskan.


"Aku tidak mengirimnya, lain kali jangan asal menerima barang, dilihat dulu, bila perlu dipertanyakan langsung pada pengirimnya biar jelas."


"Maaf, mana aku tahu," ucap Wening tertunduk dalam.


"Cukup sekali saja, tidak pernah akan ada pesta-pesta apa pun selain datang bersamaku, apalagi sampai mabuk seperti semalam. Bagaimana kalau ada orang jahat yang manfaatin keadaan, habis kamu!" omel Seno antara kasihan, kesal, dan gemas.


Wening tidak menyahut, berusaha menahan kelopak matanya agar tidak bergerak. Satu kedipan saja bisa dipastikan buliran bening itu tumpah membasahi wajahnya yang mulus.


Suara ketukan pintu dua satu dua membuat suasana panas nan menjengkelkan itu makin gersang.


"Maaf Tu—"


"Siapa yang nyuruh kamu masuk? Keluar!" semprot pria itu makin jengkel saja.


Wahyu yang hendak mengingatkan jadwal rapat sebentar lagi terpaksa menutup pintunya kembali dengan cepat.


"Tetap tunggu di sini sampai aku pulang nanti, jangan berani pulang duluan atau aku bakalan lebih marah dari pada ini!" kata Seno sebelum beranjak.


Pria itu keluar dengan langkah lebar, hati kesal, dan raut jengkel. Menghirup udara banyak-banyak setelah menutup pintunya, lalu mengelus dadanya dramatis. Kegiatan tersebut tak luput dari tatapan Wahyu yang berdiri tak jauh dari samping pintu, serasa ingin senyum, kasihan, tetapi sungguh lucu.


"Sabar Tuan!"

__ADS_1


"Diam! Sabar, sabar! Coba jadi aku, stress!" bentak Seno menatap tajam asisten pribadinya.


__ADS_2