Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 111


__ADS_3

"Mas, belum tidur?" sapa Wening yang baru saja selesai menyusui Zela. Perempuan itu masih duduk di ruang TV sembari memperhatikan Emir yang sudah terlelap di sampingnya.


Seno duduk, lalu rebahan di dekat istrinya. Pria itu kelihatannya capek sekali. Terlihat memijit pundaknya sendiri sambil mengeluh sedikit pening.


"Kamu kenapa? Kok lemes gitu, kalau capek istirahat dulu di kamar," ujar Wening sembari menempelkan punggung tangannya ke kening suaminya.


"Pengen," jawab Seno sembari mengusak lembut, lalu mencium perutnya. Kedua tangannya memeluk dalam pangkuan.


"Dih ... sabar dong, bentar lagi, aku masih takut," ujar Wening benar adanya. Sebenarnya perempuan itu sudah bersih, sudah juga lewat masa nifas. Namun, entah mengapa masih takut untuk memulai.


"Gemes, lama banget," ucap pria itu sambil mendusel manja.


"Pindah kamar yuk, kasihan anak-anak udah pada bobok."


Seno beranjak, memindah Emir ke kamar. Bayi mungilnya dalam dekapan Wening. Belakangan mereka bercampur satu kamar, Memodifikasi kamar utama dengan menambah kasur. Tentu saja ini keinginan Wening yang ingin selalu dekat dengan anak-anaknya.


Sejauh ini pria itu memang tak keberatan membantu istrinya mengurus anak-anak. Baik Seno maupun Wening sama-sama memanfaatkan kebersamaan itu selagi bisa, dan sebelum perempuan itu kembali masuk kuliah dengan segala kesibukannya.


Keesokan paginya, seperti biasa Wening bangun lebih awal, bersih diri dulu, baru melakukan hal lainnya. Hampir setiap pagi, perempuan itu akan menjadi sangat repot dan sibuk.


"Bangun Mas, airnya udah aku siapin? Mau sarapan apa, biar bisa request sama Mbok," ucap perempuan itu mendaratkan beberapa kecupan menggoda.


"Hmm, wangi banget, udah mandi ya?" ucap pria itu membuka matanya. Menemukan istrinya yang menampakan wajah segar.

__ADS_1


"Ayo bangun, semangat, semangat!"


Seno beranjak ke kamar mandi dengan langkah gontai. Sementara perempuan itu menyiapkan gantinya. Tidak ada yang berubah, pagi hari lebih mengutamakan suaminya terlebih dahulu. Perempuan itu fokus menyiapkan keperluannya, sementara anak-anak dengan pengasuh mereka.


Usai ibadah bersama, Wening harus memastikan pakaian suaminya rapih, memasangkan dasi sebagai menu wajib pagi ini. Lalu beranjak membuatkan kopi, dengan sedikit gula dan banyakin senyuman.


Perempuan itu menemani sarapan, dan memastikan suaminya benar-benar terurus dengan baik pagi hari sebelum berangkat kerja.


"Aku berangkat ya," pamit Seno beranjak. Cium kening, lalu mencium anak-anak.


"Boy, papa berangkat dulu ya," pamit pria itu beranjak.


Bocah kecil yang sudah pandai berjalan itu berjalan mengiringi ayahnya yang hendak keluar. Membuat pria itu menyempatkan menggendong terlebih dahulu.


Kembali mencium istrinya lalu melambaikan tangan perpisahan. Pria itu fokus dengan pekerjaannya, sementara Wening sibuk di rumah dengan anak-anak. Menjadi ibu baru dengan full ASI tentu membuatnya begitu sibuk.


Siang harinya setelah suasana agak santai, Wening sengaja iseng bermain ponsel lalu mengambil beberapa gambar dirinya. Perempuan itu sengaja mengirimkan beberapa hasil jepretannya ke nomor suaminya. Setelahnya, senyum-senyum sendiri karena suaminya langsung merespon dengan menelpon. Sayangnya perempuan itu sengaja tidak mengangkatnya.


"Ya ampun ... nakal banget kamu, Dek, maksudnya apaan," gumam Seno gemas sendiri. Melihat satu persatu gambar istrinya yang terkirim ke ponselnya.


Pria itu mendadak ingin cepat pulang, kerja tidak fokus gegara gaun merah marun yang cukup menggoda iman.


***

__ADS_1


"Sus, titip Zela, Emir juga, aku mau pergi dulu," pamit perempuan itu menyempatkan diri untuk perawatan.


Sudah cukup lama tidak nyalon dan merawat diri. Sepertinya perempuan itu harus membuat kejutan indah untuk suaminya. Setelah mempercantik diri, Wening pun langsung pulang. Perempuan itu pulang pergi dengan supir.


Sementara kepulangan suaminya ke rumah adalah hal yang paling sangat dinanti dari Ibu dua anak itu. Suara deru mesin mobil yang masuk ke halaman rumahnya adalah suara terindah yang menandakan suaminya telah kembali.


"Mas, tumben pulang cepet," ujar Wening sumringah menyambut kepulangan suaminya.


"Kangen, kamu nakal sih pakai pamer foto seksi segala, emang udah boleh ya?" tanya pria itu sembari tersenyum melihat penampilan istrinya yang hari ini cukup berbeda.


Kalau biasanya dasteran, atau piyamaan ala kadarnya siang malam. Hari ini Wening seperti menjelma perempuan lain yang begitu menarik perhatian.


"Beda banget, tumben," ucap pria itu senyum-senyum gaje.


"Kenapa? Lucu ya, nggak suka, ya udah aku dasteran aja," sahut Wening mendadak salting.


"Eh, jangan, cantik banget. Tapi pakai daster juga cantik, lebih cantik lagi nggak usah pakai apa-apa." Pria itu mengerling nakal sembari merangkul bahu istrinya. Berjalan memasuki kamar mereka.


"Emang udah boleh? Udah nggak takut lagi?" tanya Seno tersenyum. Wening duduk di pangkuan suaminya seraya melepas dasi pria itu.


"Sebenarnya masih takut, tapi kasihan lihat kamu," ucap perempuan itu malu-malu.


"Nanti kita coba ya, pelan-pelan saja," ujar pria itu tersenyum menggoda.

__ADS_1


__ADS_2