Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 72


__ADS_3

Seno terjaga lebih dulu dengan begitu pria dan hati bahagia. Setelah sekian lama terbangun sendiri dalam kehampaan. Namun, tidak berlaku untuk hati ini. Karena pagi ini ia ditemani istri cantiknya yang masih terlelap damai. Pria itu menatap dengan gemas, tersenyum lembut lalu mencium bibirnya. Hingga membuat perempuannya terusik lalu membuka mata.


"Morning sayang!" sapa Seno tersenyum lembut.


"Eh, sudah pagi ya?" Wening menatap sayu, melihat Seno masih bertelanjang dada langsung menyadari kalau dirinya juga sama. Bayangan semalam langsung terlintas di otaknya, membuat perempuan itu sedikit malu.


"Udah, kalau masih ngantuk tidur lagi aja," ujar Seno tersenyum.


"Aku ada kuliah siang ini, Mas," ucapnya sembari beranjak dari ranjang. Merasakan tubuhnya yang begitu berbeda efek semalam yang terlalu bersemangat. Khususnya untuk pria itu.


"Kalau nggak nyaman, izin aja. Kamu terlihat—lelah," saran Seno demi melihat pergerakan istrinya yang begitu pelan.


Wening tidak menyahut, sedikit malu untuk berkata jujur. Walau sejujurnya inti tubuhnya terasa begitu ngilu dan masih negitu terasa perbedaannya. Benar kata Seno, sungguh rasa itu tidak nyaman.


"Masih sakit? Sini aku gendong, kelihatan banget kamu nggak nyaman buat jalan."


Wening terdiam, menggeleng pelan. Berusaha jalan sepelan mungkin yang jelas terlihat lucu, membuat Seno langsung membantunya dengan senyuman.


"Kenapa senyum-senyum?" tegur Wening melirik cemberut.


"Maaf, udah bikin kamu kek gini, jalannya jadi lucu," godanya tersenyum. Spontan mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.


"Makasih, aku mandi dulu," jawabnya canggung. Membuat Seno menatapnya gemas.


"Mandi bareng ya," ujar Seno tanpa ragu.


"Sendiri aja, Mas keluar dulu," tolak Wening jelas tidak nyaman. Terlalu malu setelah semalam berbagi kasih sayang.

__ADS_1


"Kenapa harus malu, toh semuanya udah terlihat jelas semuanya. Suami istri itu pakaian bagi keduanya, jadi tidak ada yang harus ditutupi lagi," ujar Seno mendadak bijak.


"Tetep aja beda, aku nggak nyaman. Tolong keluar dulu, Mas ....!" usir perempuan itu mendorong kecil.


Seno akhirnya mengalah, sambil menunggu istrinya mandi, dirinya memesan makanan lewat layanan kamar. Kasihan juga istrinya pasti sudah lapar mengingat sudah lumayan siang.


Wening keluar dengan tubuh terbalut bathrobe. Sedikit canggung kala netra itu bertemu.


"Udah? Aku mandi dulu, kamu sarapan ya," ujar Seno menginterupsi.


"Makasih," jawab perempuan itu membalas senyumannya. Seno menatapnya penuh arti sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.


Benar saja, perutnya serasa keroncongan. Memang sudah agak siang juga jadi wajar bila merasa lapar. Perempuan itu meneliti menu, tidak lekas beranjak tetapi malah mengambil ponselnya.


Sepertinya hari ini akan izin saja mengingat tubuhnya benar-benar lelah, dan begitu tidak nyaman untuk beristirahat.


"Suka kok, tadi habis ngirim pesan dulu," jawab perempuan itu beranjak. Lebih dulu melepas handuk yang melilit kepalanya, lalu mengeringkan secara perlahan.


"Sini aku bantu, duduk sini Dek!" Seno menepuk sisi kasur. Perempuan itu menurut, berjalan mendekat lalu memposisikan diri memunggunginya.


Pria itu menggosok mahkota istrinya perlahan. Sambil mengobrol apa saja untuk mencairkan suasana yang mendadak kaku dan cenderung bingung sendiri.


"Ada kuliah jam berapa? Apa nggak sebaiknya izin saja untuk sehari?" ujar Seno sambil mengeringkan rambut istrinya.


"Udah izin, nggak enak banget rasanya, tubuhku pegel semua," keluh perempuan itu jujur.


"Mau dipijit?" tawar Seno sembari mencuri satu kecupan di pipi kanannya.

__ADS_1


"Nggak yakin kamu bisa, menjauh dariku Mas, aku geli," tolak Wening merasakan cumbuan di ceruk leher bagian sampingnya.


"Bisa kok, mau dicoba?" ujarnya sambil menekan kecil pundaknya.


"Nggak Mas, jangan nakal, beneran masih sakit," tolak Wening memberi jarak.


"Aku lapar, makan dulu." Perempuan itu mendekati nampan di nakas, lalu menyuapnya perlahan.


"Mau dong, suapin aku sayang," ujar pria itu bermanja-manja.


Seharian benar-benar menghabiskan waktu di kamar. Terhitung dua hari ini mereka menginap bersama. Menyempatkan momen kebersamaan mereka yang tak mesti bisa bersama.


"Dek, sebenarnya aku nggak suka LDR-an, gimana ya, kamu di sini aku di Jakarta. Nggak enak banget harus berpisah gini," ujar Seno malam harinya setelah keduanya kembali merajut asmara di atas ranjang.


"Mau gimana lagi, Mas, pendidikan aku di sini, pekerjaan kamu di sana. Jalani saja, kalau kangen atau pas libur kan bisa pulang," ujar Wening merasakan hal yang entah juga. Terlalu berat meninggalkan yang sudah berjalan.


Pria itu mendekap semalaman, menciumi seakan besok akan berpisah lama. Hatinya galau gelisah tak karuan, bahkan sampai tak bisa tidur tenang. Hingga pagi menyapa, Seno merasa tak semangat untuk pulang. Rasanya berat meninggalkan separuh jiwanya tetap di sini.


"Jangan cemberut gitu, Mas, kalau kangen tinggal datang. Bandung Jakarta dekat kok," ujar perempuan itu menenangkan.


"Iya sih, cuma rasanya pasti beda. Pengennya pulang kerja setiap sore ada yang nyambut. Berangkat kerja pagi-pagi ada yang kasih semangat dan ngurusin aku," keluh pria itu mendadak sendu. Tidak semangat sekali kalau mengantar istrinya sembari langsung pulang ke Jakarta.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu, tolong jaga cinta kita dan kepercayaan aku," pamit Seno melepas Wening di depan gerbang kampus.


"Iya Mas, pasti. Kamu juga ya, jangan buat aku kecewa lagi. Hati-hati di jalan, aku mencintaimu," ucap perempuan itu meraih tangan suaminya dengan takzim.


"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu," balas Seno menariknya. Lalu memberikan salam perpisahan begitu hangat hingga perempuan itu merasa bibirnya panas. Sebelum akhirnya melambai dengan senyuman perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2