
"Aku habis beli rokok nyari warung, jauh makanya sambil cari angin. Nggak tahu sih kalau Rara," jawab pria itu jujur.
"Owh ... kirain, baguslah kalau nggak janjian," ujar gadis itu lalu.
"Dek, aku yang mandi duluan, gara-gara nyari kamu jalan kaki jadi gerah." Seno menarik tangan Wening yang hendak keluar.
"Aku duluan, bentar doang nggak keramas. Antri!" tekan Wening tak mau kalah.
"Ish ... bareng aja deh, ribet!" ujar pria itu tak mau mengalah.
Hampir saja Wening memekik kalau saja tidak di tempat ibu. Sabar-sabar.
Untung saja gadis itu tidak kelepasan, bisa diceramahi tujuh hari tujuh malam gegara meninggikan suaranya terhadap suami.
"Eh, kok nggak jadi?" tanya gadis itu mendapati Seno balik lagi ke kamar.
"Lagi dipakai Rara kayaknya. Antri!" tiru Seno mengulang perkataan Wening.
"Mas, kasihan ya Mbak Rara, tega banget Om Af—" Hampir saja Wening menuduh tanpa bukti. Untung saja tidak keceplosan.
"Om Af, maksudnya?" tanya Seno sungguh penasaran. Dalam hati Seno penasaran juga siapakah gerangan pria yang telah meniduri kekasihnya tanpa mau tanggung jawab, ralat mantan kekasihnya.
"Nggak ada ding, aku mandi dulu ya, antri!" ulang Wening bergegas. Membuat Seno gemas kembali menariknya, tetapi kali ini naas hingga keduanya terjerembab di atas kasur mungil dengan posisi Wening menindih suaminya.
Beberapa detik keduanya saling terdiam, hingga membuat Wening tersadar akan posisinya dan hendak beranjak dari atas tubuh suaminya. Diabaikan sayang, Seno menekan tubuh istrinya agar tidak beranjak lalu memutar posisi mereka dengan menggulingkan tubuh istrinya ke samping. Jadilah Seno di atas mengungkungnya.
Wening sedikit kaget dengan posisi mereka yang sudah bertukar posisi. Gadis itu tak leluasa bergerak lantaran Seno menguncinya. Netranya begitu lekat menatap dirinya, dalam, dan tanpa bisa dicegah pria itu telah mempertemukan bibir mereka. Hingga saling bersilaturahmi menyambut kehangatan yang tercipta.
Sungguh hal yang terduga, kala pria itu begitu lembut memagutnya. Membimbing istrinya dengan cecapan-cecapan manja. Keduanya saling terlena hingga menyebabkan suasana ruangan makin panas. Tiba-tiba suara ketukan dari arah liar membuyarkan keasyikan keduanya.
"Ning, itu kalau mau mandi, kakakmu udah selesai!" teriak ibu dari balik pintu.
Hening, dua sejoli sibuk berlomba mengatur napasnya yang memburu.
"Iya Bu, bentar!" sahut Wening cepat. Gadis itu langsung berlalu keluar sembari menyembunyikan rona di pipinya.
Cukup sepuluh menit saja acara bersih-bersih nya, gadis itu sudah kembali ke kamar dengan Seno yang sudah menunggunya.
"Cepetan, katanya mau mandi, ditunggu makan malam," ujar Wening menginterupsi.
"Tolong siapin pakaian aku, nanti susulin ke kamar mandi ya," pintanya seraya menghilang di balik pintu.
Wening hampir menyela, orangnya keburu kabur. Gadis itu langsung memilihkan pakaian ganti dan membawanya keluar.
__ADS_1
Pas beranjak bertemu dengan Rara, membuat gadis itu cukup kepo.
"Mbak, tadi sore Ke mana? Kok nggak ada?" tanya, Wening sungguh penasaran.
"Ke warung, emang kenapa?"
Tuh kan bener, keduanya janjian di warung! Meresahkan sekali, dasar gamon (gagal move on).
"Kenapa?"
"Nggak pa-pa, nanya aja biar nggak tersesat, eh ya nanti habis makan aku mau mampir ke kamar Mbak ya?"
"Boleh, terserah," jawab Rara sembari sibuk membuka ponselnya.
"Eh, ya, kenapa chat dan telepon aku nggak pernah direspon?"
"Susah sinyal," jawab Rara ambigu. Antara iya dan mungkin tidak minat.
Gadis itu beranjak setelah bertanya-tanya, menuju kamar mandi pas banget Seno mau keluar lantaran Wening terlalu lama.
"Ikh ... kok keluar-keluar sih, dibilangin ganti di dalam ada orang. Nggak sopan!" Wening mendorong suaminya kembali agar masuk.
"Eits ... ini daleman aku mana? Kok cuma kaus sama celana doang," protes pria itu dengan nada sepelan mungkin.
Pria itu nampak menghela napas panjang. Kesal, tapi edisi tidak bisa ngomel demi rasa sopan santun di rumah orang.
"Tolong ambilin!" titahnya dengan wajah mrengut.
"Nanti pakai di kamar aja, males bolak-balik, buruan ganti," jawab gadis itu dengan santainya.
Wening langsung bergabung ke ruang tengah yang merangkap jadi ruang makan. Suasana kekeluargaan begitu terasa di sana. Seno bergabung setelah selesai urusannya, pria itu langsung mendudukkan diri di dekat istrinya. Formasi cukup lengkap untuk malam ini.
"Ayo Nak Seno silahkan makan, seadanya kaya gini," ucap Ibu mempersilahkan.
"Ini udah lebih dari cukup, Bu, jadi repot-repot masakin buat kita," ujar Seno sungkan.
Ibu baru saja mengambil menu untuk bapak, sontak perempuan itu menyorot putrinya memberi ruang agar menyiapkan untuk suaminya.
"Ning!" seru Ibu menatapnya tajam dengan senyuman.
"Eh, iya Bu," jawab gadis itu langsung konek.
Mati aku, bisa gawat ketahuan ibu kalau nggak pernah ngurusin suami. Ngalamat kena intermezo semalam suntuk ini mah!
__ADS_1
"Mas segini cukup?" tanya gadis itu meminta pendapat. Ini adalah perdana dirinya menyiapkan porsi untuk suaminya dengan perasaan yang berbeda, dan rasanya seperti istri sungguhan.
Seno mengangguk, suasana makan malam yang cukup diwarnai dengan kecanggungan. Di mana Rara tak menimpali sepatah kata pun dalam obrolan. Hanya menyimak sesi tanya jawab berbalut cerita antara mertua vs menantu.
Usai makan malam, Bu Ana masih terlihat sibuk mengemas piring kotor dibantu Wening dan juga Rara. Sementara Pak Tomo dan Seno beralih ke ruang tamu mengobrol. Entah apa yang diobrolin dua pria beda generasi itu.
"Udah, kalian istirahat saja, biar Ibu yang beresin," ujar Bu Ana mengusir kedua putrinya.
Semenjak kakaknya merantau ke Jakarta setelah lulus kuliah, baik Wening maupun Rara tidak begitu dekat satu sama lain. Namun, keduanya sering berkabar lewat ponselnya, bahkan Mbak Rara selalu rajin mengirim uang sebulan sekali setiap kali gajian. Praktis semenjak hari pernikahannya, hubungan adik dan kakak itu menjadi renggang, hampir tidak ada komunikasi yang tercipta. Membuat keduanya seperti asing, dan itu jelas tidak Wening harapkan.
"Mbak Rara, boleh masuk?" ujar gadis itu menyembulkan kepalanya setelah mengetuk pintu.
"Masuk Ning, kamu belum mau tidur?"
"Belum Mbak, Mas Seno juga masih ngobrol sama bapak," ujar gadis itu berdasarkan fakta.
"Mbak, kata ibu, kerja di butik ya? Emang nggak pa-pa hamil sambil kerja?" tanya Wening mulai mengakrabkan diri.
"Nggak pa-pa, alhamdulillah sehat kok," jawab perempuan itu sembari sibuk dengan gawainya.
"Mbak lagi ngapain? Sibuk ya?"
"Nggak kok, iseng-iseng aja nulis cerita," jawab Rara terlihat menghentikan jemarinya di layar ponsel. Lalu menyimpan handphonenya.
"Gimana sekolah kamu, rencana mau lanjut di mana?"
"Kemarin dih daftar di tiga tempat, termasuk di kampus biru, tapi nggak tahu yang lolos di mana," ujarnya jujur.
"Semoga ada yang lolos ya, biar tetap jadi kebanggaan ibu sama bapak," ujar Rara mendadak sendu. Padahal dulu, Rara yang selalu dibangga-banggakan, terutama oleh bapak.
Jadilah seperti kakakmu, pintar, berprestasi dan sekarang kerja di kota gajinya besar. Kamu contoh itu kakakmu, sukses!
Begitulah kalimat sakral yang selalu didengung-dengungkan orang tuanya.
"Mbak, boleh nanya?"
"Kalau soal Seno, Mbak nggak mau jawab, tolong hargai privasiku."
"Oke, bukan kok."
Sepertinya Mbak Rara masih cinta sama Mas Seno, sampai dalem banget sakitnya dan nggak mau bahas apa pun tentang dia.
Wening mengeluarkan ponselnya dari sakunya, gadis itu membuka ig seseorang dan menunjukkan akun tersebut pada kakaknya.
__ADS_1
"Mbak kenal ini?" tanya gadis itu menunjuk gambar profil yang tertera cukup jelas.