
Wening berangkat dengan diantar supir yang disediakan khusus untuk menunjang pulang pergi atau ke mana pun perempuan itu hendak beraktivitas di luar. Wening lebih dulu pamit pada putranya yang pagi itu sudah wangi, bersih, dalam pengasuhan Nancy.
"Mamud berangkat dulu ya sayang, jangan rewel," pamit perempuan itu ngegemesin Emir dulu hingga bayi itu merengek sebal.
"Atututu ... nesu dia, baik-baik sayang. Titip ya Sus, kalau ada apa-apa bisa ngabari segera," pesan Wening sebelum beranjak.
"Siap, Buk," jawab suster menjawab seraya melambaikan tangan Emir seakan merestui langkah ibunya.
Mobil yang mengantarkannya langsung bertolak ke kampus. Perempuan itu ada dua makul untuk hari ini dan berakhir tepat di sesi makan siang. Sekitar pukul setengah satu perempuan itu tiba di kantor suaminya.
Seno siang itu sudah menunggu di kantornya. Kehadiran istrinya langsung membuat senyum di wajahnya terbit seketika.
"Mas, habis ini aku mau ke rumah Naura, kebetulan surat dari Mbak Rara belum aku kasihkan," ucap perempuan itu merasa harus menyegerakan.
"Biar aku antar saja bagaimana? Agak sorean nunggu aku pulang," usul Seno merasa khawatir perempuan itu datang ke rumah Afnan sendirian.
"Kesorean dong Mas, kamu kan pulangnya masih nanti, aku kan sama Pak Eko," ujarnya tenang.
"Iya, tapi aku yang nggak tenang, oke deh nanti habis ini aku selesaiin cepet biar bisa langsung pulang, sisanya aku cek di rumah," ujar pria itu sembari beranjak.
"Kita makan di mana?"
"Di mana aja, asal bersih dan nyaman. Aku sebenarnya lagi pingin kwetiau, gimana kalau makan ini, kayaknya enak."
"Oke sayang, cari sesuai seleramu," ujar Seno seraya menuntun tangannya melangkah keluar.
Mereka berdua makan di luar, tepatnya di sebuah kedai.
"Hmm ... kayaknya enak nih," gumam perempuan itu ketika menu tersaji di depannya.
"Makan sayang, pelan-pelan panas," ujarnya memperingatkan.
"Iya Mas," jawab perempuan itu sibuk mengipas-ngipas.
"Ini tukeran, punyaku udah hangat, pas dimakan," ujar pria itu menukar menu yang sebenarnya sama di depannya.
__ADS_1
"Makasih, selalu baik deh. Hehehe." Perempuan itu nyengir sendiri dengan rasa senang.
Sedikit perhatian saja, sudah mampu membuatnya terbang melayang dan merasa begitu diperhatikan.
"Habis ini mau ikut ke kantor atau pulang?" tanya pria itu sembari mengunyah makanannya.
"Beneran nggak boleh? Takut banget aku kenapa-napa ya?" tanya Wening senyum-senyum tidak jelas.
"Iya lah ... kalau dia marah-marahin kamu gimana? Cewek kalau merasa sakit hati itu serem loh."
"Oke aku ngalah, tapi aku nggak mau nunggu di kantor, males, mau pulang dulu aja, main sama Emir," ujar perempuan itu penuh solusi.
"Biar nggak males, boleh banget nanti bantuin nyenengin aku," ujarnya mengerling nakal.
"Kenapa? Genit ikh ... nggak mau, jangan mesum!" tolak Wening menggeleng pasti.
"Mesum dikit nggak pa-pa, boleh pulang, tapi beneran tungguin aku, jangan datang sendiri!"
"Hmm ... iya Mas, iya," jawab Wening kesal.
Usai makan siang yang diwarnai dengan obrolan. Wening pulang dengan supir sementara Seno kembali ke kantor. Pria itu sudah mendapatkan amunisi setelah mengisi daya dan servis hatinya siang ini.
"Siap Tuan!" jawab Pak Eko mengangguk patuh. Lekas melajukan mobilnya ke kediamannya.
Sampai rumah Wening langsung bersih-bersih dan menyapa Emir. Bayi gembul itu sekarang sudah makin chubby dan pintar saja.
"Sus, Emir rewel? Ini kenapa merah-merah gini tangannya, duh ... nyamuk kah?"
"Maaf Buk, sepertinya itu ruam, ada bentol kemerahan kecil, itu kayaknya yang buat Emir rewel dan tidak nyaman."
"Waduh ... kasih krim khusus Emir, Sus, nanti melebar gimana?"
"Iya Buk, sudah tadi, nanti habis mandi saya olesi lagi," jawab Nancy mengiyakan.
Setelah menilik Emir, berjalan gontai ke belakang.
__ADS_1
"Mbok, pakaian Emir kalau rendem dipisah ya, terus pakai detergen khusus. Kulitnya agak sensitif, merah gitu, takutnya dari serat pakaian yang tidak nyaman."
"Siap Non, sudah Mbok pisah," jawab Mbok Ijah cukup jeli.
Habis sidak layaknya ibu rumah tangga yang cukup riweh, Wening menuju dapur. Tenggorokannya terasa haus dan dia lagi pengen yang seger-seger.
Perempuan itu mengeluarkan alpukat dari kulkas. Mencucinya lalu membelah jadi dua. Perempuan itu hendak membuat jus alpukat yang sepertinya enak.
"Mbok! Aku buatnya kelebihan gini, itu nanti sisanya nanti bagi dua ya sama Nancy!" ujar perempuan itu menginterupsi. Beranjak menuju ruang tengah di mana Emir dibaringkan.
Bersantai sejenak menikmati sore ini sembari menanti suaminya pulang. Tepat pukul setengah lima pria yang sudah ditunggu dari tadi mengucapkan salam. Wening langsung menyambut suaminya dengan suka cita.
"Udah rapih aja, jadi?" tanya Seno mendapati istrinya tidak memakai pakaian rumahan.
"Jadilah, rasanya belum tenang sebelum surat ini sampai pada pemiliknya. Jujur aku penasaran isinya, tapi aku nggak berani buka. Ini sebuah privasi," jawab Wening dengan yakin.
"Oke deh, aku siap-siap dulu."
Seno beranjak, mendekat ke Emir yang tengah tiduran di boxnya.
"Hallo baby Boy, papa pulang, bagaimana kabarmu hari ini?" sapa Seno pada putranya yang tengah melek sambil mainan sendiri.
"Rewel Mas, itu lengannya kaya merah-merah gitu, ruam."
"Lho kok, udah dicariin solusinya? Perlu ke dokter?" Mendadak pria itu khawatir.
"Enggak, nanti dikasih krim dulu, kalau berlanjut baru kita priksa, tapi semoga aman."
"Oke, sehat-sehat ya Boy, papa mandi dulu, ajak tuh mamud ngobrol, biar nggak nutulin HP mulu," sindir pria itu melirik dengan senyuman.
"Astaga, aku lagi balas chat sayangku, papa ngeselin ya Dek, fitnah! Mandi sana, minggir jangan digemesin, kamu belum cuci tangan!"
"Udah kok sebelum masuk, Boy, aku diusir, tunggu papa mandi dulu ya, nanti kita main!"
Seno beranjak dari ruang tengah menuju kamar. Wening menyusulnya setelah menitip Emir pada pengasuhnya. Perempuan itu harus menyiapkan ganti untuk suaminya bila hendak pergi.
__ADS_1
"Dek! Tolong dong handuk, lupa!" pekik pria itu dari kamar mandi.
Wening menghela napas datar, suaminya itu cukup pelupa mengenai barang penunjang kebersihan ini. Perempuan itu lekas mengambil untuk suaminya. Dasar rada jail, tak mendapat di kantor di tempat lain boleh juga. Pria itu bukan hanya mengambil handuk, tetapi juga menarik tangan istrinya masuk ke kamar mandi. Hingga membuat perempuan itu menjerit, meronta hendak melarikan diri. Walau pada akhirnya pasrah mandi lagi.