Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 38


__ADS_3

"Ini orang kenapa sih, nggak jelas banget, bentar-bentar manis, habis itu galak lagi, membingungkan sekali, dasar tidak jelas!" gumam Wening kesal.


Terdiam di kamar, menurut solusi terbaik saat tubuhnya tidak begitu fit. Sayang sekali, padahal ia ingin keluar sekaligus menikmati matahari pagi di pinggir kolam.


Sementara Seno di luar kembali menemui adiknya yang belum juga beranjak.


"Belum bangun?" tanya Arka demi melihat abangnya berjalan sendiri.


"Belum, semalam rewel karena sakit, jadi jangan diganggu dulu. Kamu sebaiknya pulang saja, nanti aku sampaikan kalau kamu ke sini," ujar Seno jelas berdusta. Ia hanya kurang suka melihat Arka yang begitu dekat dengan istrinya.


"Boleh lihat ke kamarnya nggak, mama nyuruh aku benar-benar mastiin keadaan Wening kalau menantunya baik-baik saja."


"Kamu nggak percaya sama abangmu sendiri?"


Seno mendelik garang pada adiknya yang hampir nekat.


"Nanti aku vidio call mama kalau Wening udah bangun, sudah sana pulang!" usir Seno gemas sendiri.


"Oke deh, santai dong Bang, galak amat! Tapi bahkan kita udah buat janji mau—"


"Janji apa?" sela Seno cepat.


"Nggak penting sih, cuma kemarin sempat mau ngajarin sesuatu. Aku tunggu sampai bangun aja deh."


"Ngapain? Kurang kerjaan aja. Cari pacar sana, biar nggak ngapelin istri orang. Emang di kampus nggak laku."


"Ye ... kok abang kaya bernada cemburu gitu. Sans dong Bang, dia kakak iparku loh."


"Kamu ngeselin!" bentaknya sewot. "Pulang nggak!"


"Iya, iya ... astaghfirullah ... nitip Wening ya Bang, jangan dimarahin hanya karena aku ke sini. Kasihan, kalau abang nggak demen lempar ke aku aja biar Arka rawat," ujarnya di luar dugaan.


"Maksudnya apaan? Lo suka sama Wening?"


"Semua cowok normal juga pasti suka sama dia, emang abang nggak suka?"

__ADS_1


"Ngejawab lagi, mangkir kamu nggak lucu. Dasar nggak ada akhlak."


"Enggak Bang, cuma ngerasa kasihan aja, abang perasaan suka marah-marah mulu ke dia. Emang dianya salah apa? Kalau abang marah atas pengkhianatan Rara, kenapa harus limpahin ke Wening yang nggak tahu apa-apa."


"Nggak usah sok ngajarin, pagi-pagi bikin kesel aja. Untuk adik aku, coba kalau nggak, udah aku tabok."


"Serius nanya, abang udah cinta?"


"Pulang Arka!"


"Bentar," ujarnya santai.


Abangnya yang type dan dingin itu memang tidak pernah berubah. Selalu banyak gengsinya padahal terlihat jelas kalau cemburu.


"Oke deh, aku pulang, titip Wening Bang!"


Arka pulang dengan wajah hampa, sempat mengirim pesan sebelum benar-benar beranjak. Membuat Wening yang masih di dalam kamar langsung beranjak keluar dengan perlahan.


"Mas, kak Arka mana? Tadi ke sini, 'kan?" tanya gadis itu sudah di ruang tengah saja.


"Kak Arka mana?" Bukannya menjawab malah mencari adiknya.


"Udah pulang!" jawab Seno dingin.


"Yah ... kok pulang sih, titipan aku gimana?"


Nampak raut kecewa di wajah gadis delapan belas tahun itu. Ia langsung cemberut tak semangat, sebenarnya apa yang Wening maksud.


"Emangnya kamu nitip apa, nggak bisa gitu ngomong langsung ke aku. Atau emang nggak nganggep aku tuh nyata ya?"


"Kamu kenapa sih? Emang kapan kamu peduli sama keinginan aku, baru semalam bisa berbicara baik dan benar. Mas, bukanya sibuk kerja, nggak ada waktu buat cewek yang nggak penting kaya aku."


"Kamu ngeselin banget sih, pagi-pagi ngajak ribut beneran!" Seno jelas gemas.


"Kamu duluan yang mulai, dasar om-om labil!"

__ADS_1


Astaga, ngatain!


Seno langsung menarik tengkuk istrinya, memagut bibir ranum itu dengan gemas.


"Apaan sih, kok mesum!" Wening mendorong dada suaminya.


"Salah ngomong, bikin emosi, pasti aku hukum!"


"Dasar nggak jelas!" Wening mengusap bibirnya yang basah sisa saliva suaminya.


"Nitip apaan?"


"Nggak penting, sana jauhan, bikin kesel aja." Wening berlalu dengan wajah kesal.


"Dek!" Seno menghadang langkah Wening.


"Minggir Mas, lagi kesel jangan deket-deket!" Jangankan minggir, pria itu malah pasang badan sengaja menghadangnya. Membuat Wening menatap dengan jengkel.


"Mau dibantuin nggak? Jauh loh ke lantai atas, penuh perjuangan dan doa," ujar Seno demi melihat istrinya yang masih sedikit pincang berjalan.


"Masih kesel, nggak usah sok baik! Pelan-pelan juga sampai."


"Yakin? Punggung aku cukup lebar untuk menopang tubuhmu."


Wening menghindari pria itu dengan tatapan sengit. Mlipir ke ruang makan mendadak perutnya terasa lapar. Pantas saja, hari sudah lumayan siang. Jam di dinding menunjuk di angka sembilan lebih.


"Dek ... sewot mulu, emang nitip apaan sih! Nanti aku beliin deh janji," bujuk Seno sembari mengekor istrinya yang berjalan melawan arah.


"Emang bisa?"


"Kalau nggak bisa aku usahain," ujarnya yakin.


"Aku tuh ada tugas dari sekolahan, karya seni rupa. Kak Arka kan pinter gambar, aku udah nitip pensil ajaib mau diajarin juga buat gambar. Kamu nggak bisa, bikin kesel aja."


"Owh itu, nanti deh aku suruh tuh bocah balik, tapi awas aja ya jangan deket-deketan!"

__ADS_1


"Dih ... posesif! Katanya nggak cinta, kenapa ngelarang-ngelarang!"


__ADS_2