
Semenjak pulang dari makan malam, Seno terlihat berbeda, membuat Wening bertanya-tanya dalam hati. Ada apa sebenarnya, haruskah gadis itu menemui Om Afnan lalu menanyakan langsung perihal tersebut padanya. Perlu diperjelas agar hatinya tenang.
"Mas, aku berangkat dulu, nanti jangan lupa datang sesuai undangan," pamit Wening di pagi hari.
Gadis itu berangkat dengan taksi yang sudah dipesan semenjak pagi. Ada meet up dengan teman-temannya setelah di rumah saja beberapa minggu menunggu hasil ujian.
Wening langsung menuju kelasnya, di depan ruangan anak-anak tengah berkumpul di selasar. Ada pula yang duduk di undakan teras. Mereka kumpul bersama saling menyapa menumpahkan kerinduan mereka setelah sekian lama tak bersua.
"Ning!" panggil Selvi melambai. Gadis itu berjalan ke arahnya lalu saling memeluk.
"Kangen Vi, lo ngelanjutin di mana?"
"Menunggu hilal, semoga dapat kuota masuk Jakun," ujarnya penuh harap.
"Aamiin ... harap-harap cemas, optimis dulu walau nggak yakin," ujarnya tersenyum.
"Ujiannya kapan?"
"Belum lihat jadwal, fokus dulu sama pengumuman hari ini, yang pasti buat mereka yang jalur prestasi keren banget."
"Hooh, Yuda mana ya? Belum datang?"
"Cie ... nyariin yang nggak ada, udah mulai nih terang-terangan."
"Apa sih, nggak jelas banget kamu. Aku ada perlu sama tuh orang, belum datang ya."
"Telepon aja kalau tidak sabar."
"Gue deg degan, siapakah kira-kira yang dapat nilai terbaik lulusan ini."
__ADS_1
"Yang pasti bukan gue, yakin lah," canda Selvi selalu terlihat konyol.
"Jelas itu mah, urutan kesekian boleh juga, yang penting lulus dulu. Setiap orang punya kemampuannya sendiri-sendiri."
Semakin siang satu persatu wali murid hadir mendatangi sekolah. Beberapa di antaranya sudah nampak hadir, namun Seno belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Ke mana sih tuh orang, udah terlambat lima belas menit juga," gumam Wening menggerutu. Melirik jam di tangannya sudah menunjuk di angka sembilan.
"Vi, aku kantin bentar ya, laper," pamit Wening merasa lapar. Tadi pagi malas sarapan, hanya segelas susu yang mengganjal lambungnya.
"Wokeh ... gue stay di sini," ujar perempuan itu sibuk sendiri dengan ponselnya.
Wening baru saja masuk ketika tak sengaja netranya melihat Yudha tengah makan di kantin. Membuat gadis itu melangkah mendekati tanpa ragu.
"Yud, sarapan?" tanya Wening ikut bergabung.
"Iya," jawab pria itu dingin. Tanpa menoleh, khusuk menekuri isi piringnya.
Yudha tidak menyahut, sibuk mengunyah tanpa merespon perkataan Wening. Hak pria itu juga mau berteman dengan siapa saja, tetapi Wening merasa tak enak hati dan merasa harus meluruskan.
Sebenarnya perasaan tak enak seperti ini yang pada akhirnya dapat melukai. Padahal menjelang detik-detik perpisahan tentunya yang diharapkan mereka semua akur. Apalah daya, yang tak sesuai angan.
Rasa lapar yang sempat hinggap mendadak menguap dengan sikap dingin pria itu. Wening tidak jadi sarapan, hanya membeli minuman kemasan lalu kembali keluar kantin. Di halaman lorong kelas nampak heboh, ada apa? Apakah ada yang tidak lulus? Atau bahkan sudah diumumkan predikat terbaik untuk nilai ujian tahun ini.
Bukan itu ternyata, siswa-siswi kurang kerjaan itu terpesona dengan kedatangan seseorang. Tak lain dan tak bukan suaminya sendiri, membuat kegaduhan halaman sekolah yang tengah menanti hasil pengumuman kelulusan.
"Omo ... suami gue, beneran Mas Seno, ngapain dandan sok cool gitu. Dih ... ganteng banget sih!" kesal Wening menggeleng tak percaya. Dalam sekejap perkumpulan wali murid saja, pria itu hampir menggemparkan sekolah.
"Pagi Pak, perwakilan dari Kusuma Pawening?" sapa seorang guru yang tengah membagi amplop kelulusan secara bergilir.
__ADS_1
"Iya," jawab Seno ramah maksimal. Membuat semua orang yang menatapnya menjadi lumer.
Pria itu sudah mengantongi hasilnya. Walaupun tidak mendapat predikat terbaik, nyatanya istrinya mempunyai nilai yang cukup baik. Wening yang masih memantau dari luar ruangan hendak mendekat begitu pria itu keluar. Sayang sekali cewek-cewek kurang kerjaan itu sudah duluan menyapa, termasuk Vivi teman akrab Wening.
"Om wali siapa sih, boleh kenalan nggak?
"Kakaknya pasti ya? Duh ... invite nomor aku dong."
"Mas, ini kebetulan ada orang tua aku loh, siapa tahu pengen kenalan!"
Begitulah kira-kira lontaran jail anak-anak cewek kurang kerjaan yang tengah menunggu di luar, sambil beruforia atas kelulusan mereka.
Seno sebenarnya mencari-cari istrinya kenapa tidak ada di grombolan makhluk PMS yang sedari tadi berceloteh ria. Karena tak kunjung menemukan sosoknya, Seno pun menghubungi lewat ponsel pintarnya. Wening yang sebenarnya sudah tahu sedari tadi pun, mengatakan sudah menunggu di parkiran dekat mobilnya.
"Gimana hasilnya? Aku lulus, 'kan?" todong perempuan itu harap-harap cemas.
"Nggak tahu," jawab pria itu berdusta. Padahal jelas saja tadi udah mengintip.
"Mana, biar aku buka sendiri," tadah Wening mengekor masuk ke mobilnya.
Seno menyodorkan amplop putih itu dari tangannya, seketika hatinya langsung deg degan. Setelah menggumamkan bismilah, gadis itu segera membukanya.
"Ikh ... ini udah nggak segel, Mas udah buka ya, kok cemberut, ah aku nggak berani buka. Lulus nggak?" tanya Wening makin cemas.
"Nggak tahu, buka aja sendiri."
"Yang bener dong Mas, muka kamu kok dingin gitu, aku nggak lulus?"
"Buka dong biar nggak penasaran," ujar pria itu tenang.
__ADS_1
Wening pun kembali membukanya dengan hati-hati dan perasaan jedag jedug. Seketika sudut bibirnya ketarik saat membaca tulisan lulus tertera di sana.
Karena saking girangnya, gadis itu pun sampai memekik seraya berhambur memeluk dan menciumnya.