Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 81


__ADS_3

Seno menyambungkan ponselnya ke Wening, tepat sekali saat perempuan itu hendak menghubunginya. Hingga detik itu juga langsung terhubung.


"Mas, kamu di mana? Sedari tadi aku telepon," sapa Wening di ujung telepon.


"Masih di kantor sayang, kenapa?" jawab pria itu santai.


"Owh ... ada sesuatu yang mau aku omongin, antara hidup dan mati," ujar perempuan itu membuat Seno mengerutkan dahinya.


"Serius amat sayang, ada apa?" tanya pria itu bersiap menyimak. Terdengar helaan napas di ujung sana.


Seno yang masih di dekat Afnan sedikit menepi, dan tidak membiarkan obrolan mereka terdengar. Membuat pria itu bertanya-tanya.


"Seandainya kita punya anak, apakah kamu mau?" tanya Wening bingung hendak mulai dari mana. Terdengar suaminya tersenyum.


"Tentu saja mau, kamu udah dapat pencerahan dari ibu ya makanya mau hamil?" ujar Seno terdengar bahagia.


"Bukan Mas, anak orang lain," jawab Wening membuat senyum di wajah Seno seketika lenyap.


"Kamu khianatin aku?" tandas pria itu mulai lain nada bicaranya.


"Ish ... siapa yang khianatin kamu? Dengerin baik-baik sayang, jadi gini ceritanya. Mbak Rara sakit, dia mau aku ... maksudnya kita berdua yang ngurus bayinya. Mbak Rara mengamanahkan pada kita, kamu bersedia?"


Hening hingga beberapa detik, membuat Wening mencari-cari apakah suaminya masih menyimak atau sudah menutup panggilan itu.


"Mas, hallo ... kamu masih di sana? Mas!"


"Kenapa harus kita, bukankah masih ada bapaknya, dia pasti mau mengurusnya."

__ADS_1


Giliran Wening yang terdiam, mencerna perkataan Seno, apakah itu artinya Seno tidak mau menerima amanah ini.


"Dek, Dek!"


"Iya Mas, denger, ya udah nanti aku telepon lagi, aku mau lihat baby Emir dulu. Nanti aku kabari informasi selanjutnya," jawab Wening tak ingin berdebat. Mengucap salam lalu menutupnya.


Perempuan itu jelas galau, dia tidak punya pengalaman mengurus bayi. Ditambah suaminya sepertinya tidak mau. Mungkin bisa saja di rawat ibu dan bapak, tetapi jelas itu bukan solusi, kasihan mereka yang sudah tua waktunya untuk beristirahat. Kalau hanya sekedar ngemong mungkin tak apa, tetapi kalau mengurusi semuanya jelas Wening tak tega.


"Ya Tuhan ... kenapa kepalaku jadi mumet. Gimana ini?" gumam Wening mengetuk bagian paling atas tubuhnya.


Perempuan itu menuju ruang bayi, di mana baby Emir dirawat. Mendadak wanita yang belum genap sembilan belas tahun itu ingin mendekat, mencoba menggendongnya tepat di saat suster ada di sana tengah memberi susu.


Wening memperhatikan dari arah luar yang tersekat kaca besar. Sebenarnya baby Emir sehat dan bisa langsung pulang. Namun, karena ibunya harus dirawat di rumah sakit, sedang Bu Ana yang menunggunya, membuat keputusan tetap di rumah sakit dulu. Karena aktifitas bapak yang jelas masih berjalan pulang pergi untuk kehidupan mereka.


"Dia sangat tampan dan lucu, ah ... kenapa mengingatkan aku dengan manusia freezer itu," gumam Wening merasa lucu sendiri.


Dua hari ini Wening di rumah sakit, kabarnya Rara belum juga lekas membaik. Mendadak Wening makin cemas, perempuan itu masih berharap Mbak Rara kembali sehat.


"Bu, nanti sore aku harus pulang dulu, kuliah aku terbengkalai," pamit Wening bingung dan sebenarnya tidak tega. Namun, ia harus menentukan sikap dan butuh berbicara langsung dengan suaminya.


"Iya, tak apa Nak, ibu paham, temui Rara dulu sebelum pulang," ujar Ibu terlihat sendu. Kasihan sebenarnya, tidak tega juga membiarkan mengurus sendirian. Wening sebagai anak dan saudara satu-satunya harus mengambil sikap.


Wening pun mengunjungi ruangan Rara. Ia berjanji akan kembali secepatnya setelah mengurusi izin khusus dan perlu juga membahasnya bersama suami.


"Mbak, yang kuat ya, yang sabar, kami semua menyayangimu. Wening pulang dulu, lusa insya Allah akan ke sini lagi, dan aku berharap Mbak Rara sudah membaik."


"Ning, kalau saja aku tidak ada waktu atau kesempatan bertemu denganmu lagi, tolong jaga Emir ya ... hanya padamu mbak percaya," pesan Rara sekali lagi diiringi tangis.

__ADS_1


"Iya Mbak, jangan khawatir, Mbak pasti akan sehat lagi," jawab perempuan itu langsung memeluk kakak tercintanya.


"Berjanjilah padaku, agar aku tenang nanti. Tolong jangan kamu berikan ke Afnan, aku tidak mau dia merasa sulit nanti karena tumbuh di tangan perempuan yang membenciku," lirih Rara terisak.


Keduanya menangis dalam pelukan. Pelukan yang begitu hangat. Kedekatan yang hampir tak pernah lagi dirasakan. Semenjak Mbak Rara merantau ke Jakarta dan berakhir pulang ke rumah yang menyebabkan gagal nikah. Hampir keduanya tidak pernah terlibat kedekatan yang serupa.


"Wening mengangguk dalam tangis, di satu sisi ia takut suaminya tidak mau menerimanya. Di sisi lain hatinya jelas menjerit tak tega."


Perpisahan itu menggiring doa harapan, masih menunggu keajaiban barang kali besok Wening mendapat kabar kesehatannya.


Sementara Seno, terus menghubungi Wening dengan rasa kangennya. Namun, tak sedikit pun membahas baby Emir padahal sudah menerima fotonya. Membuat perempuan itu makin galau saja.


"Mas, tidak usah dijemput, aku sedang perjalanan pulang." Wening mengabari Seno yang sebenarnya berniat menyusul.


"Yakin? Rencananya aku mau ke sana sore ini habis ngantor," ucap Seno di ujung telepon.


"Yakin, jemput di bandara saja," pinta Wening terdengar sendu.


Selama perjalanan sampai di Jakarta pikiran Wening sudah tidak tenang. Seno yang menjemputnya di bandara pun merasakan itu pada Wening.


"Sayang, kamu kenapa? Aku kangen banget," ujar Seno menyambut kedatangan istrinya.


"Aku juga kangen Mas," jawab perempuan itu tersenyum.


Perempuan itu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim lalu masuk ke mobil. Wahyu yang bertugas membawa mobilnya. Sampai rumah, Wening langsung bersih-bersih. Hari sudah malam dan lumayan capek, jadi memilih langsung beristirahat saja.


"Dek, capek banget nggak? Aku kangen," ucap Seno mendekat lalu menciumnya dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2