Penguasa Alam Dewa

Penguasa Alam Dewa
88. Qing Ling


__ADS_3

Dewa Lan Shen merasa sangat malu dengan kejadian tersebut, hingga membuatnya kini benar-benar tidak dapat menahan diri lagi.


" Kalian telah mengacaukan acara kompetisi wilayah. Bahkan kalian sama sekali tidak menghargai keberadaan kami bertiga sebagai perwakilan Istana Langit. Ini semua telah melanggar aturan yang ada!" Ucap Dewa Lan Shen dengan penuh penekanan.


Feng Huang menghela nafas panjang. " Lalu apa yang kau inginkan?" Ucapnya dengan tatapan tenang.


Dewa Lan Shen menatap ke arah Dewa Hong Shen, dan Dewa Hei Shen.


" Wilayah Timur kami diskualifikasi dalam acara kompetisi wilayah ini. Dan kalian akan mendapatkan hukuman tidak boleh ikut dalam kompetisi wilayah dalam tiga periode, dan membayar kerugian sebesar seratus lima puluh juta koin emas," Ucap Dewa Lan Shen dengan tenang.


" Jika kalian tidak dapat menerimanya, maka Istana Langit akan bertindak tegas-..."


" Kami menolak!" Ucap Xu Tian dengan cepat, memotong ucapan Dewa Lan Shen.


Semua orang menatap ke arah Xu Tian, mereka sangat menantikan hal apa lagi yang akan di lakukan olehnya.


Kelima Patriak klan terkuat mulai mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


" Aku sangat menyukai akan keberanianmu itu. Asal kau tau, Istana Langit bukan sesuatu yang dapat kau anggap remeh. Dengan kemampuan yang kalian miliki, bukanlah sebuah masalah besar untuk kami." Ucap Dewa Hei Shen dengan tersenyum tipis.


" Dan menurutku, wanita mu itu lebih pantas hidup di Istana Langit, di bandingkan harus hidup di tempat seperti ini bersama dengan kalian," Dewa Hong Shen menimpali dengan menatap ke arah tempat Qing Ling.


Xu Tian menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan secara perlahan.


" Aku tidak mengetahui dengan pasti apakah saat ini adalah waktu yang tepat, atau tidak. Tetapi kejadian hari ini benar-benar telah membuatku merasa bahwa tidak ada lagi waktu yang lebih tepat untuk menghancurkan kalian, di bandingkan dengan hari ini." Ucap Xu Tian dengan pelan, namun dapat di dengar dengan jelas oleh semua orang yang ada di dalam Arena Dewa.


Udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi dingin, membuat para penonton mulai bergerak menjauhi ketegangan yang terjadi itu.


" Wushhh..." Udara dingin muncul menyelimuti Arena Dewa membuat tempat di sekitarnya mulai membeku.


" Ini!" Ucap Xu Tian, Feng Huang, dan Bai Hu dengan sangat terkejut.


Mereka bertiga mengalihkan pandangannya ke arah Qing Ling. Di mana saat ini ia sedang menundukkan wajahnya, dengan posisi kedua tangan mengepal.


" Bantu semua orang untuk keluar dari Arena Dewa, sekarang!" Perintah Patriak Xu Huangshen dengan tegas, dia dapatkan merasakan aura dingin yang semakin ganas.


Xu Yue Lin yang berada di samping Qing Ling, terlihat terus mengajaknya berbicara, namun tidak ada jawaban sedikitpun dari sang Ibu.


Feng Huang dengan serius menatap ke arah Feng Yue, yang juga terlihat bingung.


" Bantu semua orang untuk pergi dari tempat ini. Bawa juga Lin'er dan lainnya ke tempat yang aman," Ucap Xu Tian kepada Feng Yue, Patriak, dan Leluhur Klan.

__ADS_1


" Baik, penguasa!" Ucap mereka, lalu segera melakukan perintah Xu Tian.


" Tidak mau, Lin'er ingin bersama Ibu!" Teriak Xu Yue Lin berusaha terus berbicara kepada Qing Ling.


Xu Yue Lin terlihat sangat khawatir dengan keadaan sang Ibu, hingga membuatnya mulai berfikiran yang tidak-tidak.


" Wushhh..." Xu Tian muncul di samping Xu Yue Lin, lalu menangkupkan kedua wajah mungil gadis kecil itu.


Xu Tian perlahan mengecup kening Xu Yue Lin, lalu menatapnya dengan penuh kasih sayang.


" Lin'er... Semua akan baik-baik saja,"


Xu Yue Lin mulai menangis dengan menggelangkan kepalanya. " Ayah, apa Ibu marah sama Lin'er?"


" Tidak, ibu sangat sayang dengan putri kecilnya ini," Xu Tian dengan menghapus air mata Xu Yue Lin.


" Tapi-...."


" Lin'er percaya sama ayah?"


Xu Yue Lin menganggukkan kepala dengan cepat.


" Jika begitu, Lin'er harus ikut bersama Bibi Feng Yue. Ayah akan membantu ibu terlebih dulu, oke?"


" Baik, Ayah.." Xu Yue Lin saat mulai tenang. Dia percaya Ayahnya tidak akan membohongi dia.


Xu Tian kembali mengecup kening Xu Yue Lin selama beberapa saat, lalu menatap ke arah Feng Yue.


Mereka akhirnya mulai bergerak meninggalkan Arena Dewa, dengan pandangan Xu Yue Lin yang terus menatap ke arah Qing Ling, dengan air mata yang kembali menetes keluar.


Setelah kepergian mereka, Xu Tian menatap ke arah Qing Ling.


Sedangkan Bai Hu dan Feng Huang segera menyegel tempat itu dengan bantuan kelima Patriak.


Semua penonton secara perlahan mulai keluar meninggalkan Arena Dewa dengan bantuan para petinggi yang ada.


Dewa Lan Shen, Dewa Hong Shen, dan Dewa Hei Shen masih terdiam dengan penuh kebingungan melihat kejadian tersebut.


" Wushhh..." Aura emas yang sangat kuat menyebar ke seluruh tempat Arena Dewa.


Xu Tian tersenyum hangat menatap Qing Ling yang masih kehilangan kesadaran dengan melepaskan aura dingin yang semakin kuat.

__ADS_1


" Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Patriak Lin Zhao Chen kepada Feng Huang.


Feng Huang menggelengkan kepala, tanpa berniat menjelaskan kepada para patriak itu.


" Kalian bertiga telah membangun sesuatu yang seharusnya tidak kalian lakukan!" Batin Feng Huang menatap ketiga Dewa Istana Langit itu.


******


Di tempat lain.


Di Istana yang sangat megah berada di atas awan, terlihat satu rombongan yang baru saja tiba di tempat tersebut.


Salah satu wanita dari rombongan itu menghentikan langkah kakinya.


" Hua'er, ada apa?" Tanya Xu Yuan yang melihat sang Istri berhenti.


Qian Xialin yang sudah terlebih dulu berjalan, juga ikut menghentikan langkahnya.


" Sepertinya memang telah terjadi sesuatu. Pantas saja sejak tadi perasaanku tidak enak," Batin Qian Xialin dengan menatap pasangan suami istri itu.


" Nenek, ada apa?" Tanya Xu Mei dengan penasaran saat melihat Ayah, Ibu, dan Neneknya seperti sedang memikirkan sesuatu.


Qian Xialin menggelengkan kepala dengan tersenyum.


Xu Mei dan Xu Zishu saling menatap satu sama lain. Meski mereka masih berusia lima belas tahun, tetapi pemikiran mereka sudah seperti orang dewasa yang mampu membaca situasi yang sedang terjadi.


" Dia telah kembali," Ucap Lin Hua dengan pelan, terlihat air mata mulai mengalir membasahi wajah cantiknya.


" Apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Xu Yuan dengan khawatir.


Lin Hua menggelengkan kepalanya. " Sama halnya dengan An'er, bagaimana keadaan yang memaksa mereka untuk kembali lebih cepat dari perkiraan kita."


" Bukankah itu kabar baik?" Ucap Qian Xialin berjalan mendekati keduanya.


Lin Hua mengangkat wajahnya menatap ke arah Qian Xialin. " Itu akan menjadi kabar baik jika dia mampu mengendalikannya, begitu juag sebaliknya, di mana itu akan menjadi kabar buruk untuk kita semua," Lin Hua dengan menghela nafas.


" Sepertinya aku harus menemui mereka saat ini juga," Lanjut Lin Hua dengan serius.


" Aku juga menginginkan hal itu. Kalian harusnya memahami bagaimana sifat An'er.." Ucap Qian Xialin.


" Aku percaya mereka mampu melewatinya. Jangan pernah ragukan kemampuan cucuku," Ucap Xu Lou Yuan yang tiba-tiba muncul di tempat itu dengan tersenyum.

__ADS_1


" Kakek!" Teriak Xu Mei dan Xu Zishu dengan semangat, kini mereka berdua memiliki alasan untuk lebih dekat dengan pembicaraan mereka.


__ADS_2