
Akhirnya mereka pun duduk berhadapan dan Luxia mulai menceritakan tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Juga tentang lima keluarga yang tidak banyak diketahui oleh orang awam itu, membuat Gu Lang sedikit banyaknya mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh Luxia saat ini.
"Jadi kau bukan berasal dari negara ini, dan kau datang ke sini untuk melarikan diri?"
Luxia pun mengangguk perlahan, tak bisa di pungkiri jika aja raut kecemasan di wajahnya.
Karena jika Leng Han tau kalau bawahannya sudah mati di tangan Gu Lang, dia pasti akan mengutus orang yang lebih kuat lagi untuk membalas dendam.
Luxia pun meminta maaf karena telah melibatkan Gu Lang dalam permasalahannya, tapi Gu Lang tak menganggap itu sebua masalah yang besar karena dia percaya dia bisa mengatasinya.
Namun tiba-tiba saja, kalung giok yang Luxia pakai bersinar dan mengeluarkan suara yang sangat dia kenali.
"Luxia, pulanglah segera nak. Keluarga kita akan musnah jika kau tidak kembali, Ayah mohon pulanglah."
Bibir Luxia serasa kelu mendengarnya, bahkan untuk menjawab tidak, Luxia tak mampu.
Dan pada akhirnya dia hanya bisa mengiyakan permintaan sang Ayah, meskipun dia harus mengorbankan kebahagiaannya tapi jika itu dapat menggantikan ketentraman hidup seluruh anggota keluarganya, rasanya itu pantas.
"Gu Lang, aku harus pergi. Jika aku tak kembali, keluargaku benar-benar akan binasa dan tolong sampaikan salamku pada Xiao San. Bilang saja jika aku sedang ada urusan keluarga, jangan ceritakan apapun padanya."
Gu Lang mengangguk mengiyakan dan menatap punggung Luxia yang semakin menjauh. Kemudian Gu Lang pun melanjutkan meditasinya, sembari menunggu Xiao San selesai.
Namun baru saja Gu Lang mulai bermeditasi, dia merasakan adanya serangan mendadak yang membuatnya sontak membuka mata dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Tapi sialnya, serangan itu tertuju pada Xiao San bukan dirinya. Karena dia yang terlambat menyadari arah serangan itu, akhirnya Xiao San pun terluka parah oleh serangan dadakan itu.
"Xiao San!" Gu Lang berlari menghampiri Xiao San yang sudah memuntahkan darah segar dari mulutnya, "Sial! Tunjukkan dirimu, bedebah busuk!" teriak Gu Lang dengan amarah yang sudah memuncak.
Seorang pria dengan tampang tengil pun menghampiri Gu Lang dan Xiao San, "Cih! Siapa kau? Kau tidak usah ikut campur! Urusanku dengan pengecut itu, bukan kau!"
Gu Lang baru saja akan melawan orang licik itu, namun Xiao San dengan cepat mencegahnya.
__ADS_1
Dan dia dengan percaya dirinya ingin melawan orang itu dengan tangannya sendiri, dia bahkan tak memperdulikan tubuhnya yang sudah mengalami luka dalam yang cukup serius.
"Tidak Gu Lang, aku bukan anak ayam yang hanya bisa bersembunyi di belakang induknya. Aku akan menghadapinya sendiri, jika aku kalah maka itu karena aku yang terlalu lemah."
Akhirnya mau tak mau Gu Lang pun membiarkan Xiao San melakukan apa yang dia inginkan, karena bagi seorang pria harga diri adalah segalanya.
Lebih mati mempertahankan harga diri, dari pada hidup dengan harga diri yang di injak-injak seperti itu.
"Kita pergi ke arena hidup mati!" tantang Xiao San dengan percaya diri.
Dan pria yang dia tantang pun tersenyum mengejek pada Xiao San, sebelum akhirnya mengiyakan tantangan itu dengan senang hati.
Sedangkan Gu Lang sangat terkejut mendengar ucapan Xiao San barusan. Dengan cedera seperti itu, dia justru ingin bertarung di arena hidup mati.
Tapi pada dasarnya, Xiao San memiliki alasan tersendiri kenapa dia memilih untuk bertarung di arena hidup mati, daripada bertarung lepas seperti ini.
Karena di arena hidup mati memiliki aturan, aturan yang tidak bisa di langgar oleh siapapun.
Jadi setidaknya pertarungan akan berlangsung dengan adil, dan benar-benar hanya mengandalkan kekuatan semata jika mereka bertarung di atas arena hidup mati.
*
*
Seorang tetua dengan jenggot dan rambut putih itu berdiri di tengah arena hidup mati, dengan Xiao San berada di sisi kiri dan pria licik itu berada di sisi kanannya.
"Apa kalian sudah siap?" Kedua kubu pun mengangguk siap.
"Hanya ada satu aturan di atas arena hidup dan mati ini. Tidak boleh menggunakan cara curang, seperti racun atau senjata tersembunyi. Kalian hanya boleh menggunakan senjata utama yang kalian miliki, dan bertarunglah dengan adil."
Tetua itu memasang sebuah pelindung tak terlihat dengan mengibaskan tangannya ke atas, untuk mencegah efek dari pertarungan itu mengenai para penonton.
Dan pertarungan pun di mulai.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku membunuhmu, tapi salahkan saja kebodohanmu karena sudah menyinggung orang yang tidak seharusnya kau singgung!"
Akhirnya Xiao San mengerti jika orang yang sengaja mencari masalah dengannya, adalah salah satu anjing penjilat Tang Yu Long yang datang karena sudah mengetahui apa yang terjadi pada Tang Yin.
"Elang hitam pemusnah!" Pria itu melesat maju kearah Xiao San, dan di atas tubuhnya terdapat aura menyerupai seekor elang yang juga terbang menukik ke arah Xiao San.
Xiao San pun segera menggunakan jurus bertahan terkuat yang dia miliki, yaitu Benteng Bumi.
Dan serangan keduanya pun bertabrakan, menyebabkan ledakan yang cukup besar. Tapi untungnya Benteng Xiao San mampu menghalau serangan itu, dengan baik.
"Sial! Pertahanannya benar-benar kuat!" Xiao San memang lebih unggul dalam hal pertahanan, daripada menyerang.
Pria itu pun melancarkan serangan keduanya, "Elang darah!" Aura berbentuk elang yang tadinya berwarna coklat kini berubah menjadi warna merah darah yang memberikan kesan mengerikan.
"Aku akan mengirimmu ke neraka, seperti temanmu si sampah itu! Kalian akan segera bertemu kembali!"
Xiao San begitu terkejut mendengar ucapan pria itu, karena dia tau pasti siapa orang yang di maksud.
Bao Feng, dialah orangnya. Kemarahan terlihat jelas di wajah Xiao San, saat mengetahui jika Bao Feng kemungkinan sudah mati.
Serangan kedua itu terlihat sangat kuat, namun ternyata tujuan utamanya bukanlah menyerang, melainkan berbuat curang.
Dia melemparkan jarum racun, tanpa di ketahui oleh orang lain bersamaan dengan pukulannya pada Xiao San, benar-benar cara yang licik.
Tapi hal itu tak luput dari mata Gu Lang, dia melihatnya dan tentu saja hal itu membuatnya marah.
"Tetua, dia berbuat curang!" seru Gu Lang pada tetua.
"Curang? Apa kau meragukan penglihatanku, anak muda? Aku bahkan tidak melihat bagian mana yang kau sebut curang."
Xiao San yang sudah dikuasai oleh amarah pun, hendak membakar inti auranya untuk mengeluarkan serangan terkuat yang dia punya.
Membakar inti aura bukan tanpa efek samping, orang yang membakar inti aura akan mengalami kelumpuhan aura sementara.
__ADS_1
Yang artinya orang itu tidak akan bisa menggunakan aura akar spiritualnya, untuk beberapa waktu setelahnya.