
"Karena kau sudah menyelamatkan adikku, urusan kita aku anggap selesai. Tidak ada dendam lagi diantara kita, dan lupakan saja kejadian dimasa lalu." Meskipun Mu Yue terkanal galak, dia bukanlah orang yang tidak tau berterimakasih.
"Baiklah, lagipula aku juga tidak berminat untuk menambah lebih banyak musuh lagi." Jawab Gu Lang, "Musuhku sudah banyak." Sambungnya dalam hati.
Bingyan sendiri menatap Mu Yue dan Gu Lang bergantian, seolah mencari sesuatu dari tatapan keduanya dan apa yang membuat kedua orang itu pernah bersitegang sebelumnya.
Namun dia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan, sepertinya perseteruan keduanya hanyalah karena sebuah kesalahpahaman yang tidak terselesaikan.
Namun tiba-tiba saja, pintu ruangan itu kembali terbuka bahkan tanpa adanya ketukan lebih dulu.
Dan tentu saja hal itu membuat semua orang di sana mengalihkan tatapan mereka pada seseorang yang baru saja menerobos masuk itu.
"Siapa yang bernama Gu Lang?" tanya orang itu sambil mengedarkan pandangannya menyapu setiap penghuni di ruangan itu.
Ternyata orang itu adalah penjaga gerbang masuk sekte, mereka bisa mengetahuinya hanya dengan melihat seragam yang mereka kenakan.
"Aku, ada apa?"
"Ada surat untukmu." Penjaga gerbang itu menyerahkan sepucuk surat di tangannya pada Gu Lang, lalu pergi dari sana dan kembali ke gerbang sekte.
"Surat?" Gu Lang menerima surat itu kemudian membukanya.
Saat gulungan itu terbuka, Gu Lang sangat terkejut melihat bukanlah tinta yang di gunakan untuk menulis surat itu melainkan darah.
Namun Gu Lang lebih terkejut lagi, karena dia mengenali aura spiritual si pemilik darah yang di gunakan untuk menulis surat itu.
Aura es yang begitu kental, dan itu adalah milik ayahnya tak mungkin dia salah mengenalinya.
Isi surat itu adalah, "Keluarga Gu sudah ku musnahkan!" Hanya surat yang begitu singkat, namun benar-benar mampu membuat darah Gu Lang mendidih karenanya.
Gu Lang mengepalkan erat tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. "Baji*ngan mana yang berani melakukan hal ini!?"
Seketika itu juga, kemarahan Gu Lang membuat aura Black Shadow miliknya memancar keluar tanpa ia sadari.
__ADS_1
Dan hal itu membuat semua orang di ruangan itu terkejut, merasakan aura yang menekan mereka dan membuat mereka seolah tak mampu bergerak barang sedikitpun.
Kecuali tetua Agung, karena kekuatannya masih lebih tinggi daripada Gu Lang. Namun dia tetap bisa merasakan tekanan aura yang tidak biasa itu.
"Ada apa, Gu Lang? Apa ada sesuatu yang terjadi, bisakah kau tarik aura spiritualmu dulu? Teman-temanmu tak sanggup menahannya." Ujar tetua Agung padanya, yang membuat Gu Lang tersadar dan segera menarik kembali aura spiritual miliknya.
Mu Yue pun begitu terkejut dengan tekanan aura dari Gu Lang, terlebih belum lama ini mereka masih sempat bertemu dan bahkan bertarung, tapi kekuatan Gu Lang masih dibawahnya atau paling bagus juga hanya setara dengannya.
Tapi kini dia bahkan tak sanggup, hanya untuk sekedar bergerak di bawah tekanan aura Gu Lang, "B-bagaimana bisa pria mesum ini menjadi begitu kuat dalam waktu singkat?" batinnya.
"Gu Lang benar-benar sudah semakin kuat, aku juga harus menjadi semakin kuat secepatnya!" tekad Xiao San dalam hati.
"Tetua, aku ingin minta bantuan tetua lagi. Itupun jika tetua berkenan." Gu Lang menangkupkan tangannya di depan dada.
"Katakanlah."
"Tolong jaga teman-temanku sampai aku kembali. Ada urusan yang harus segera aku selesaikan, ini menyangkut keluargaku. Surat itu mengatakan jika keluargaku sudah binasa, dan bahkan surat itu ditulis dengan darah ayahku!"
Sedangkan ketiga manusia lain di ruangan itu, semuanya ingin ikut bersamanya dan membantu Gu Lang.
"Tidak, Gu Lang. Aku akan ikut denganmu." Xiao San berucap dengan mantap, begitu pula dengan Mu Yue dan Bingyan yang ikut mengangguk setuju.
"Maaf, tapi aku tak bisa membawa kalian. Aku tidak akan leluasa jika kalian ikut bersamaku, akan sulit bagiku untuk bertarung dan melindungi kalian di saat yang sama."
Mereka pun terdiam mendengarnya, karena apa yang Gu Lang katakan memang benar adanya.
Dia tak akan bisa melindungi mereka sambil bertarung, terlebih musuh yang akan Gu Lang hadapi pastinya bukan orang sembarangan.
Seseorang yang bisa membinasakan keluarga Gu yang, pastinya adalah orang yang kuat.
Dan jika mereka ikut dengan basis kultivasi mereka yang masih seujung jagung itu, pastinya hanya akan menjadi beban bagi Gu Lang nantinya.
"Aku minta maaf karena belum bisa membantumu, Gu Lang. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu."
__ADS_1
Gu Lang mengangguk, kemudian memberi hormat pada tetua Agung dan segera berangkat untuk melihat kebenaran berita yang surat itu sampaikan.
Dia segera berlari menghampiri dan mengendarai kudanya, lalu memacu kuda itu dengan kecepatan tinggi. "Aku harus menaikkan levelku secepat mungkin!"
Kuda melesat cepat hampir seharian ini, dan Gu Lang baru menghentikan lajunya saat kuda itu sudah tak mampu lagi berlari.
Dia beristirahat, memberi makan kudanya dan dirinya sendiri memilih untuk masuk ke menara langit dan berlatih.
Tak ada waktu untuk bersantai baginya, meski hanya sejenak. Pertarungan besar sudah di depan mata, dan jika dia ingin memenangkan pertarungan besar itu maka dia harus meningkatkan kekuatan dengan secepat mungkin.
"Selamat datang, tuan." Sambut Luo Luo pada Gu Lang yang baru saja masuk.
Anak kecil itu benar-benar siaga setiap saat, dan selalu menyambut Gu Lang saat tuannya itu masuk ke menara langit.
Seolah pekerjaannya hanya memang untuk melayani Gu Lang, dan dia tak beristirahat selama dua puluh empat jam, benar-benar seperti robot yang hidup dengan baterai dan bukan nyawa.
"Luo Luo, apakah ada cara untuk menaikkan levelku secepat mungkin?"
Luo Luo menjawab pertanyaan Gu Lang dengan wajah seperti biasanya, datar tanpa ekspresi.
Bahkan tak ada sedikitpun rasa keingintahuan dari wajahnya, kenapa Gu Lang menginginkan cara tercepat untuk menaikkan levelnya.
"Ada, tuan. Tapi apakah tuan sanggup melakukannya, itu tergantung pada tuan sendiri."
Gu Lang mengangguk paham, dan menunggu Luo Luo untuk menjelaskan apa yang harus dia lakukan setelah ini.
Dia akan melakukan apapun itu, bahkan sesuatu yang sangat menyakitkan pun sudah dia rasakan. Tak ada lagi keraguan dan ketakutan dalam dirinya, dan kini hanya ada dendam yang membara.
"Ayah, aku masih berharap semoga saja berita itu tidak benar," batin Gu Lang.
"Tuan bisa menggunakan pil obat. Tapi untuk membuka ruangan alchemist, tuan harus melewati ujian lebih dulu dan menjadi seorang alchemist."
Gu Lang terperanjat tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Menjadi seorang alchemist bukanlah hal yang mudah, seperti membalikkan telapak tangan.
__ADS_1