
"Sial! Tidak boleh, aku tidak boleh mati! Aku harus berusaha bernegosiasi dengan si sampah itu"
Tetua pertama pun akhirnya memikirkan sebuah negosiasi dengan Gu Lang, agar dia tak menghabisi nyawanya.
Sedangkan Xi Guan hanya bisa terdiam, karena dia masih tak menyangka jika tuan muda sampah yang terkenal di seluruh kota Biluo, bahkan sampai ke pelosok sebagai orang paling tidak berguna itu, sekarang justru ada di hadapannya dan bukan lagi sebagai seorang sampah apalagi tuan muda tidak berguna.
Dia yang sekarang bahkan terasa lebih mengerikan daripada para penjahat yang pernah dia temui. Bahkan orang terkuat yang pernah dia kalahkan saja, tak ada seujung kuku dari Gu Lang dan hal itu membuatnya tak lagi berani berkata-kata di depan Gu Lang seperti sebelumnya.
"G-Gu Lang, bagaimana kalau kita membuat sebuah kesepakatan?" Tetua pertama mencoba membuka percakapan.
Namun Gu Lang sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun sebagai jawaban. Dia masih setia bersandar dengan tangan bersidekap di depan dada, seolah dua makhluk di hadapannya itu sama sekali bukanlah ancaman baginya dan sama sekali tak perlu dia takuti.
"Sialan! Beraninya bocah ingusan itu mengabaikanku!?" batin tetua pertama dengan dongkol. Namun mengingat keadaan saat ini yang tak memungkinkan baginya untuk arogan, maka dia pun sebisa mungkin berusaha menahan amarahnya dan kembali melanjutkan ucapannya, berharap kali ini Gu Lang tertarik dengan penawarannya.
"A-aku akan membantumu menghabisi keluarga lainnya, tapi kau tak boleh membunuhku sebagai bayarannya. Bagaimana?"
Sontak saja Gu Lang tertawa kerasa mendengar penawaran tidak masuk akal itu. Memangnya dia masih membutuhkan tetua pertama yang lemah itu? Tentu saja tidak. Lalu kenapa juga dia harus setuju dengan ide yang sangat tidak menguntungkan baginya itu?
"Apa kau pikir aku bodoh, pak tua? Aku sendiri saja sudah cukup untuk menghabisi kalian, lima keluarga besar sialan! Dan kau tau pak tua? Bagiku kalian hanyalah seorang badut penghibur yang lemah, dan aku tidak membutuhkan itu. Aku lebih tertarik untuk melakukan apa yang ingin kau lakukan padaku tadi." Gu Lang menyeringai ngeri ke arah tetua pertama, yang entah kenapa membuat tetua pertama bergidik ngeri.
Tentu saja dis sangat ingat, apa yang tadi sempat dia katakan pada Xi Guan untuk bawahannya itu lakukan pada Gu Lang. Benar, membunuhnya, memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian kecil dan memberikannya pada anjing sebagai santapan.
Tentu saja hal itu sangat mengerikan jika benar-benar terjadi, dan bukan tidak mungkin Gu Lang melakukannya. Secara, Gu Lang saja sudah menghabisi salah satu tetua keluarga Meng tanpa menyisakan mayat sama sekali, karena Gu Lang membakar tubuhnya dengan api iblis sehingga hanya ada abu mayat yang tersisa.
__ADS_1
"S-sial! Sepertinya ini saatnya untuk kabur!" batin tetua pertama.
Meski dia menginginkan kedudukan dan kekuasaan sebagai kepala keluarga Xi, tapi apa gunanya itu jika dia mati di tangan Gu Lang? Jadi pilihan terbaik untuknya saat ini hanyalah dengan menggunakan jurus langkah seribu alias kabur, lari tunggang langgang secepat mungkin.
Tetua pertama pun menekan ukiran kepala naga yang ada di kursi kepala keluarga, dan sesaat setelahnya pintu ruang bawah tanah pun terbuka.
"Ha ha ha ... selamat tinggal, bocah ingusan!"
Dia pun segera menggunakan jurus peringan tubuh agar bisa berlari lebih cepat, melewati lorong sempit jalan bawah tanah itu.
"Sialan! Dia meninggalkanku!?" Xi Guan yang tak tau kalau tetua pertama ternyata berencana kabur pun terkejut, dan berusaha untuk menyusul tetua pertama.
Tapi sayangnya, Gu Lang sudah lebih dulu menahan langkahnya dengan tangan yang mencengkram erat kepala pemuda itu, "Matilah! Dunia ini tidak membutuhkan penjahat kelas teri sepertimu!" Api iblis milik Gu Lang pun langsung membakar tubuh Xi Guan dan membuatnya berteriak histeris, meraung kesakitan sampai akhirnya tubuhnya hangus tak bersisa.
"Sialan! Dasar pak tua licik!"
Saat ini Gu Lang merasa sangat-sangat marah, dan inilah saat yang tepat untuk menggunakan jurus itu. Benar, apalagi kalau bukan jurus amukan naga yang akan menjadi berkali-kali lipat lebih kuat jika pemakainya berada dalam keadaan marah.
"Aku akan membunuhmu, pak tua! Jurus amukan naga!" Gu Lang mencabut pedang iblis patah miliknya, mengayunkan pedang itu memperagakan setiap gerakan yang menjadi bagian dari jurus amukan naga dan dia menancapkan pedang itu di lantai.
Seketika itu juga tanah itu pun retak dan membuat jalan di bawah tanah, tempat tetua pertama melarikan diri itu kini mengalami gempa besar.
"A-ada apa ini?!" Tetua pertama pun panik bukan main, saat dia menoleh dan mendapati jalanan di belakangnya mulai tertutup dan tertimbun oleh tanah, akibat jurus milik Gu Lang tadi.
__ADS_1
Kekuatan jurus itu benar-benar mengerikan, jurus itu bahkan mampu menghancurkan seluruh kediaman Xi, menenggelamkannya ke bawah tanah dan menguburnya, menjadikan keluarga Xi menjadi sebuah legenda keluarga yang hancur karena karma.
Akhirnya mau tak mau, tetua pertama pun terpaksa keluar dari ruang bawah tanah itu, setelah yakin jika dirinya sudsh berlari cukup jauh dari Gu Lang. Tapi sayangnya saat dia keluar, Gu Lang ternyata sudsh menunggunya di sana dengan tatapan meremehkan.
"A-apa?! B-bagaimana bis kau ada di sini?"
"Cih! Dasar bodoh! Aku sudah lelah bermain kejar-kejaran denganmu, pak tua. Lebih baik kita akhiri saja semua ini sekarang juga."
"Sial! Baiklah, kita bertarung samlai titik darah penghabis--"
Belum sempat tetua pertama menyelesaikan kalimatnya, Gu Lang sudah lebih dulu melesat maju kearahnya dan menebas sebelah tangan tetua pertama dengan pedang iblis patah miliknya.
"Aaaarrrrggghhh!" Tetua pertama menjerit kesakitan sambil melihat sebelah tangannya yang kini sudah tergeletak di tanah dengan genangan darah dibawahnya.
"Dasar bedebah licik! Kau menyerangku diam-diam!"
"Cih! Untuk apa bermain adil dengan orang licik sepertimu? Meminjam tangan orang lain untuk membunuh dan berencana membunuh mereka entah mereka berhasil maupun gagal."
Sontak saja tetua pertama sedikit terkejut mendengar penuturan Gu Lang. Dia sama sekali tak menyangka jika Gu Lang mengetahui masalah giok racun itu, karena dia tak tau kalau Gu Lang sudah mempelajari alchemis dan mampu membedakan yang mana giok informasi dan yang mana giok racun.
"Tidak perlu terkejut begitu, pak tua. Bukankah kau mengerti maksudku? Giok racun, sayang sekali menggunakan benda bagus seperti itu dengan cara konyol. Benar-benar tidak mengerti nilai guna barang!" ujar Gu Lang.
"Lalu kenapa jika kau tau, memangnya apa yang bisa kau laku--" Lagi-lagi Gu Lang melesat dan menebas tangan tetua pertama yang satu lagi, "Aaarrrrrggghhh!"
__ADS_1