Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 28


__ADS_3

Namun tentu saja hal itu tak mempan untuk Gu Lang, yang justru hanya berdiri tegak tanpa menunjukkan sedikitpun rasa takut terhadap ancaman mereka.


Bahkan sesaat setelah itu Gu Lang mengangkat sudut bibirnya dan entah kenapa hal itu membuat mereka bergidik ngeri melihatnya.


"Aku tidak punya banyak waktu, jadi mari akhiri ini dengan cepat."


"Bajingan!"


Mereka pun menerjang maju secara bersamaan dan menyerang Gu Lang dengan kekuatan penuh mereka, sedangkan Gu Lang langsung menggunakan situasi itu untuk menjajajl jurus tapak naga miliknya yang baru ia pelajari.


"Jurus tapak naga!"


Ledakan besar pun terdengar, dan orang-orang itu terpental mundur sangat jauh hingga menabrak dan merobohkan pohon-pohon yang ada di sana.


Dan tentu saja hal itu membuat si gadis terkejut, karena tadinya dia sempat mengira jika Gu Lang bahkan tidak akan berani ikut campur dan menolongnya.


Tapi kini dia bahkan mengalahkan semua orang itu dengan satu jurus dan lagi dia mengenali jurus itu.


Bekas serangan itu mebentuk sebuah tapak naga yang sangat besar, dan itu cukup membuktikan jika yang Gu Lang gunakan memang benar adalah jurus tapak naga.


Salah satu jurus yang hilang ribuan tahun lalu dari buku jurus naga yang keluarganya pelajari.


"Terimakasih banyak, Mu Bingyan? Apa ini benar-benar kau?"


Gadis itu pun mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Gu Lang, yang langsung menyebutkan namanya denga sangat tepat.


Padahal seingatnya, dia tak pernah sekalipun bertemu dengan Gu Lang sebelumnya.


Karena gadis itu hanya diam saja, Gu Lang pun mendekatinya dan bahkan memegang wajah ayu gadis itu.


Yang tentu saja hal itu membuat si gadis terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang, dan meamasang sikap siaga.


"Lancang! K-kau memang sudah menyelamatkanku, tapi tidak berarti kau bisa menyuntuhku seenaknya."


Gu Lang menghela nafas panjang karena keimpulsifannya barusan, dia pun meminta maaf pada gadis itu.


"Maafkan aku, tapi kau mirip dengan seseorang yang kukenal. Jadi siapa namamu?" tanya Gu Lang lagi, karena tadi si gadis belum menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Bukankah kau sudah tau? Kenapa masih bertanya?"


Gu Lang terkesiap mendengarnya, dia menatap lekat gadis yang ternyata benar-benar bernama Mu Bingyan itu.


Dan apa yang Gu Lang lakukan, membuat wajah gadis cantik itu memerah karena menahan malu.


Ditatap seperti itu oleh Gu Lang, entah kenapa membuatnya salah tingkah namun Gu Lang tak jua memutus tatapannya.


Gu Lang pun terkekeh melihat reaksi Bingyan, "Aku tidak menyangka, dimanapun kau berada kau masih saja begitu dingin. Pantas saja tak ada laki-laki yang mau denganmu." Gu Lang mengejek Binyan dan membuatnya menatap Gu Lang dengan mata melotot, "Kecuali aku tentunya."


Mendengar lanjutan kalimat itu, lagi-lagi si gadis pun merasa pipinya memanas. Dan itu justru terlihat imut di mata Gu Lang, dan membuatnya semakin mirip dengan Bingyan dari kehidupan sebelumnya.


Apapun yang mereka lakukan dan katakan sangatlah sama, bahkan ketusnya pun sama.


Bingyan adalah satu-satunya teman sekolahnya, yang tak pernah menghina dan merendahkan dirinya. Dia juga satu-satunya sahabat baik Gu Lang, dan juga orang yang Gu Lang suka.


Di kehidupan sebelumnya, Gu Lang tidak sempat mengutarakan perasaannya. Jadi di kehidupan ini, dia akan mendapatkan Bingyan.


"Kau mau kemana? Kenapa sendirian, dan kenapa orang-orang itu mengejarmu?" tanya Gu Lang.


Saat mengatakan hal itu, wajah Bingyan berubah menjadi sendu.


Gu Lang menghela nafas panjang mendengar kata-kata Bingyan. Sepertinya takdir memang mempertemukan mereka, di saat yang tepat.


Di saat Bingyan membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya, dan juga membawanya pergi dari pernikahan yang tidak dia inginkan.


Mendengar kata pernikahan, Gu Lang pun teringat dengan Luxia dan juga Xiao San. Bagaimana nasib Luxia saat ini.


Apakah ayahnya masih terus memaksa Luxia untuk menikahi pria keluarga Leng itu. Namun mengingat Xiao San yang membutuhkan pil obatnya segera, Gu Lang pun bergegas untuk kembali ke sekte.


Bingyan yang melihat Gu Lang hendak pergi pun segera mengejarnya, "I-itu, a-aku..." Bingyan seperti ingin mengatakan sesuatu, namun kata-katanya tercekat di ujung lidahnya.


Seolah tau apa yang Bingyan inginkan, Gu Lang pun mengulurkan tangannya pada gadis itu. "Naiklah."


Bingyan pun mengulurkan tangannya, dan naik keatas kuda itu bersama Gu Lang. Posisi mereka saat ini, benar-benar membuat Bingyan salah tingkah.


Karena ini kali pertama dia begitu dekat dengan seorang pria, terlebih orang yang baru dia kenal. Namun entah kenapa dia begitu percaya pada Gu Lang.

__ADS_1


Kuda pun kembali melaju dengan cepat, menuju sekte Bulan Sabit.


Membutuhkan waktu hampir dua hari, bagi mereka untuk sampai di sekte. Karena kuda mereka butuh lebih sering istirahat, karena bertambahnya seorang penumpang.


Saat melihat gerbang masuk sekte, Bingyan cukup terkejut.


"Jadi kau murid di sekte ini?"


Gu Lang hanya mengangguk mengiyakan. Dia menggenggam tangan Bingyan dan membawanya masuk, dan kali ini Bingyan tidak mempermasalahkan tangannya yang dipegang oleh Gu Lang.


Karena bagaimanapun, tempat itu adalah tempat asing untuknya dan tidak menjamin jika tak ada orang yang akan mengganggunya.


Namun sepertinya Gu Lang melupakan sesuatu, yaitu wajah cantik Bingyan. Sesaat setelah mereka masuk ke dalam sekte, perhatian semua orang tertuju pada mereka berdua.


"Oh astaga, seharusnya aku memakaiikanmu cadar sebelum membawamu masuk."


Mereka pun langsung bergegas menuju tempat Xiao San.


Sesampainya di sana, tetua Agung ternyata masih berada di sana dan benar-benar menjaga Xiao San selama Gu Lang pergi.


Melihat ada orang lain yang datang bersama Gu Lang, tetua Agung pun penasaran. Terlebih gadis itu tidak mengenakan seragam murid sekte Bulan Sabit.


"Terimakasih sudah menjaga Xiao San untukku, tetua. Aku sudah membawa pil kehidupan bersamaku." Gu Lang memberikn pil kehidupan itu pada tetua Agung.


"Siapa dia?"


"Dia temanku, tetua. Dia memang bukan murid sekte Bulan Sabit, tapi aku jamin dia tidak akan menimbulkan masalah."


Tetua Agung pun mengangguk paham, lalu dia meminumkan pil itu pada Xiao San. Dibantu oleh Gu Lang, dia mendudukkan tubuh Xiao San untuk memulai penyembuhan.


Tetua Agung mengalirkan aura spiritualnya ke tubuh Xiao San, demi membantu tubuh Xiao San menyerap efek pil obat itu dengan cepat.


Hampir satu jam mereka melakukan hal itu, dan tiba-tiba saja Xiao San batuk darah. Namun darah yang keluar tidak berwarna merah, melainkan hitam yang menandakan jika itu adalah darah yang mengandung racun.


Racun dari jarum racun yang orang licik itu, berikan pada Xiao San.


"Xiao San?!" Gu Lang senang melihat sahabatnya akhirnya membuka mata.

__ADS_1


__ADS_2