
Kuda itu terus melaju dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya mereka sampai di depan gerbang sebuah kediaman yang besar.
Gerbang rumah kediaman Tang. Namun Gu Lang mengerutkan keningnya saat mengamati keadaan sekitar kediaman besar itu.
Sejauh mata memandang, tak ada satu orangpun penjaga yang bertugas yang tentu saja membuat Gu Lang merasa ada hak yang aneh dengan kediaman itu.
Bagaimanapun keluarga Tang juga termasuk salah satu keluarga besar di kota Biluo, jadi sangat tidak mungkin jika tak ada satupun penjaga yang bertugas mengamankan kediaman, bahkan sekedar penjaga gerbang yang biasanya siap siaga di depan gerbang raksasa itu pun, kini tak nampak batang hidungnya.
"Kenapa sepi sekali?" gumam Bong Quan sambil ikut mengamati keadaan sekitar, namun kediaman besar itu benar-benar tampak seperti kediaman yang tidak berpenghuni.
Gu Lang yang sepertinya menyadari sesuatu pun segera menerobos masuk ke dalam kediaman itu, untuk memastikan dugaannya.
Tak ada satupun suara manusia yang terdengar, bahkan saat Gu Lang sudah masuk ke dalam kediaman itu. Hanya suara langkah kaki kuda dan langkah kaki Pang, yang terdengar.
"Cih! Mereka melarikan diri rupanya. Dasar pengecut!" ujar Gu Lang, kemudian melompat turun dari kudanya dan berjalan menuju pintu kediaman utama keluarga Tang.
Bong Quan pun ikut turun dan memeriksa apakah semua penghuni keluarga Tang itu, benar-benar sudah pergi dari kediaman mereka.
Namun Bong Quan mengerutkan dahinya, saat dia mendapati sebuah kertas yang ditancapkan menggunakan sebuah anak panah. Kertas itu tertancap di tiang penyangga kediaman itu. Tanpa menunggu lama, Bong Quan segera mendekat karena rasa penasarannya tak bisa lagi dia tahan.
"Tuan muda Gu Lang, lihat ini!" Bong Quan berlari kecil dan menghampiri Gu Lang, dia menyerahkan gulungan kertas itu pada Gu Lang agar dia bisa membaca isi pesannya juga.
Isi pesan :
Untuk pendekar topeng emas.
__ADS_1
Aku selaku kepala keluarga Tang meminta maaf padamu atas apa yang terjadi pada keluarga Gu. Meskipun aku tidak tau siapa kau dan apa hubunganmu dengan keluarga Gu, tapi kami, keluarga Tang tak ikut membunuh satu orang pun dalam aksi pembantaian itu.
Meskipun begitu aku tetap merasa bersalah, karena aku tak bisa menghentikan mereka, bahkan sekedar menolak saja aku tidak bisa. Kau pasti mengerti, keselamatan seluruh anggota keluarga Tang menjadi taruhannya, karena itulah aku membuat kesepakatannya dengan keempat kelurga besar lainnya agar keluarga kami tak harus ikut membunuh, tapi juga terhindar dari ancaman utusan itu.
Kami berjanji, kami tak akan lagi menampakkan wajah kami di hadapanmu.
Tertanda : Kepala keluarga Tang, Tang Guoqi.
*
Gu Lang tersenyum sinis setelah selesai membaca isi surat itu. Dia meremas surat itu dan berkata, "Meskipun kalian tidak membunuh, tapi kalian diam saja saat keluargaku dibantai!" Gu Lamg sangat marah, namun mengingat apa yanh Tang Guoqi lakukan adalah demi keselamatan seluruh anggota keluarganya juga, dia mencoba untuk mengerti meski dengan berat hati. Meskipun jika dia yang berada dalam posisi Tang Guoqi, dia pasti tak akan memilih opsi itu dan mencari solusi agar bisa menyelamatkan keduanya, mengingat hubungan keluarga Tang dan keluarga Gu juga tidak buruk.
Masalah Gu Lang hanyalah dengan Tang Yu Long dan Tang Yin, yang sudah dia bunuh sebelumnya.
"Meskipun aku melepaskan kalian, aku tetap akan membunuh Tang Yu Long karena dia sudah menghabisi nyawa temanku!" Gu Lang pun segera menaiki kembali kudanya dan memacunya menuju tempat terakhir yang harus dia tuju, sebagai sentuhan akhir pembalasan dendam keluarganya.
Dia bahkan tak pernah membayangkan kota sebesar ini akan hancur dalam waktu yang begitu singkat. Bahkan orang yang me menghancurkannya bukanlah sekelompok orang yang kuat, melainkan hanya satu orang, satu orang pemuda yang tak lebih dari seonggok sampah di mata para penduduk kota Biluo.
Tidak ada lagi kota Biluo yang indah. Tidak ada lagi enam keluarga besar yang sejahtera. Hanya ada reruntuhan kediaman besar mereka, dan sisa-sisa anggota keluarga yang tidak dihabisi oleh Gu Lang.
Kuda yang Gu Lang tunggangi terus berpacu dengan waktu yang tampaknya sudah hampir menyapa sang mentari yang akan segera keluar daru peraduannya, beberapa jam lagi.
Begitupula dengan Pang, yang masih terus memacu kecepatan larinya, menyamai kecepatan kuda milik Gu Lang.
Hingga akhirnya Gu Lang dan Bong Quan pun tiba di depan kediaman keluarga Yin. Tak seperti cara yang dia lakukan sebelumnya, kini Gu Lang tak ingin lagi menggunakan cara diam-diam.
__ADS_1
Dia tau jika keluarga Yin adalah keluarga penggila pelatihan, jadi dia akan menantang mereka untuk berduel, itupun jika ada yang berani melawannya.
"Berhenti! Ada urusan apa datang pagi-pagi buta ke kediaman Yin?!" tanya seorang penjaga gerbang dengan nada yang sangat arogan. Dia belum tau saja jika pria di depannya mampu membuatnya berpindah alam hanya dengan satu gerakan sederhana.
Namun Gu Lang sama sekali tak menggubris gonggongan penjaga gerbang itu, seolah tak menganggap keberadaan mereka adalah sesuatu yang patut dia pertimbangkan.
"Yin Gang, keluar kau!" seru Gu Lang dengan suara lantang yang dia bubuhi dengan energi spiritual, membuat suara teriakannya menjadi menggema ke seluruh kediaman itu, dan dia memanggil nama kepala keluarga Yin tanpa rasa takut sedikitpun.
"A-apa?! Ini gila! Apa dia berencana meratakan keluarga Yin secara terang-terangan?" pikir Bong Quan dengan kepanikan yanh luar biasa.
Bagaimanapun juga, keluarga Yin tak dapat disepelekan, karena keluarga mereka adalah keluarga penggila kultivasi sehingga sudah bisa dipastikan jika banyak orang-orang hebat di keluarga itu.
"Lancang! Beraninya anj*ing gila sepertimu berteriak di depan kediaman Yin!?" kedua penjaga gerbang kediaman itu pun merasa sangat marah, karena Gu Lang tak hanya mengabaikan keberadaan mereka, tapi juga dengan begitu lancangnya memanggil nama kepala keluarga mereka dengan sangat tidak sopan.
Mereka berdua mengacungkan ujung pedangnya tepat ke leher Gu Lang, namun Gu Lang sama sekali tidak terkejut apalagi takut. Gu Lang dengan sigap menahan kedua pedang milik penjaga itu dengan dua jarinya, lalu mematahkannya dengan satu gerakan.
Krak!
Pedang itu pun patah, dan tentu saja membuat kedua penjaga itu melongo menatap Gu Lang tanpa bisa berbuat apapun.
Dia menatap kedua penjaga itu dengan tatapan dingin menusuk yang terasa mampu menembus jantung kedua penjaga itu dan membuat mereka mati seketika.
"Aku benci seekor anj*ing yang meneriakkan nama mereka sendiri!"
*************
__ADS_1
Maaf ya manteman, emak bukan sengaja enggak update beberapa hari kemarin. Tapi anak emak lagi ulang tahun, yang kecil juga lagi rewel jadi benar-benar nggak sempet update, mohon dimaklumi ya... mulai bulan depan emak usahakan untuk up sehari dua bab.😁🙏