Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 66


__ADS_3

Beberapa warga tampak berkumpul di luar penginapan itu sambil berbisik-bisik dan menunjuk ke arah atap penginapan, dimana aura Gu Lang yang terpancar terlihat oleh mereka. "Bukan. Itu bukan pertanda kelahiran benda pusaka, tapi..." Para penduduk itu mengalihkan pandangan mereka pada seorang pria dengan jenggot panjang berwarna putih, yang tengah berjalan membelah kerumunan yang langsung memberikan jalan untuk orang itu.


"Tuan Zong?" gumam beberapa orang yang tadi sempat mengira jika pancaran aura spiritual itu adalah pertanda dari kelahiran sebuah benda pusaka.


Tuan Zong adalah seorang master Array terhebat yang sangat terkenal di kota Biluo. Dia adalah seorang pengembara yang entah karena apa, pada akhirnya memilih menetap di kota Biluo dan membangun sebuah kios yang menjual gambar array buatannya.


Banyak sekali orang yang berniat untuk menjadi murid dari tuan Zong ini, tapi sayangnya pak tua itu menerapkan syarat yang sangat sulit bagi para pemuda yang ingin belajar darinya. Sehingga sampai saat ini, masih belum ada orang yang mampu menaklukkan syarat dari tuan Zong.


"Itu adalah pertanda dari seseorang yang baru membuka gerbang pertamanya," ujarnya yang membuat semua orang di sana terkejut meskipun beberapa dari mereka sama sekali tidak mengerti apa arti dari pembukaan gerbang itu sendiri, "Tapi ini pertama kalinya aku melihat pancaran aura sehebat dan semengerikan itu. Entah seberapa kuat orang yang bisa memunculkan pancaran aura spiritual itu," ucapnya dalam hati.


Di dalam ruangan Gu Lang, Bong Quan sedikit lega saat Gu Lang kini sudah kembali normal, dan pancaran aura gila tadi juga sudah menghilang.


"Ayo, kita harus segera pergi sebelum memancing banyak mata kemari." Gu Lang mengatakan hal itu setelah dia melihat atap kamarnya hancur berantakan, akibat ulahnya.


Jika saja dia tau kalau efek pembukaan gerbang pertamanya akan sehebat itu, maka dia tak akan melakukannya di kamar penginapan itu.


"Terlambat. Lihatlah diluar, pasti sudah banyak kerumunan karena aku sudah mendengar kegaduhan sejak tadi." Meskipun mengatakan hal itu, Bong Quan tetap berjalan keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Dan benar saja, jangankan di depan penginapan. Bahkan di depan pintu kamar mereka pun, sudah banyak sekali pelayan dan juga pemilik penginapan yang sudah menunggu penghuni di dalam keliar sejak tadi.


"Haish... sudah kuduga," Bong Quan mendesah pasrah sambil mengamati satu persatu manusia yang tengah menatapnya dengan tatapan takut.


Mereka tak berani mengetuk pintu kamar itu, apalagi untuk masuk ke dalam setelah melihat sendiri pancaran aura yang begitu menakutkan bagi mereka. Hingga pada akhirnya mereka hanya bisa menunggu Gu Lang dan Bong Quan keluar dari kamar mereka.


"M-maaf tuan, apa tadi itu tuan yang..."


Belum sempat pemilik penginapan itu menyelesaikan pertanyaannya, Bong Quan sudah menyelanya dengan sangkalan tegas.


Semua pelayan itu pun mengintip dengan rasa penasaran ke dalam kamar itu, untuk melihat wajah Gu Lang yang kebetulan tak lagi memakai jubah hitamnya. Bukan karena sengaja melepasnya, tapi karena jubah itu sudah hancur saat pancaran aura tadi keluar dari tubuhnya, begitu juga dengan bajunya. Sehingga kini yang dia pakai adalah baju baru yang ada di dalam cincin penyimpanannya.


Namun saat Gu Lang berbalik badan menatap mereka, Bong Quan pun sangat terkejut saat melihat bukan lagi Gu Lang yang tengah berdiri di sana, melainkan seseorang yang sama sekali tidak dia kenali, bahkan dia merasa belum pernah melihat wajah pria itu sekalipun.


Bong Quan berlari kecil menghampiri pemuda itu hingga berdiri tepat didepannya lalu bertanya, "Kau? Siapa kau? Dimana Gu Lang?" tanyanya dengan nada rendah sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru bahkan le arah jendela yang masih tertutup rapat, karena dia takut jika Gu Lang melarikan diri begitu saja setelah dia menimbulkan kekacauan ini.


"Ini aku." Jawab pemuda di hadapan Bong Quan itu dengan suara lirih. Dia tak lain dan tidak bukan adalah Gu Lang yang sempat menggunakan jurus seribu wajah dan mengubah wajahnya menjadi wajah Feng Hao, alias wajahnya sendiri di kehidupan lalu.

__ADS_1


Jadi wajar saja jika Bong Quan sama sekali tak mengenali sosok Gu Lang yang baru itu. Dan tanpa menunggu jawaban dari Bong Quan yang terlihat masih bingung dengan berdiri mematung di tempatnya, Gu Lang pun segera berjalan menuju pintu kamar.


"Maaf atas kekacauan yang terjadi. Dan ini, anggap saja sebagai ganti rugi atas kerusakan yang kubuat." Gu Lang menyerahkan sekantong uang yang bernilai beberapa puluh ribu tael, yang tentu saja sudah lebih dari cukup untuk biaya membetulkan kamar itu dan juga biaya menginapnya semalam.


"B-baik tuan, terimakasih." Pemilik penginapan pun menerima kantong uang itu dengan mata berbinar, dan dia yang tau harus melakukan apa, segera memberikan instruksi pada para bawahannya untuk menjauh dari sana. Namun sebelum dia sendiri pergi dia berkata pada Gu Lang, "Di luar sudah sangat ramai, tuan. Jika tuan tak ingin lewat pintu depan, tuan bisa lewat sana, pintu itu akan mengarah ke bagian samping penginapan sehingga tidak akan menarik perhatian."


Gu Lang pun mengangguk mengiyakan, meski dia bisa saja melesat keluar dengan cepat tanpa diketahui oleh orang-orang, tapi Bong Quan tak bisa melakukannya. Lagipula, Pang juga berada di tempat penitipan yang ada di bagian samping penginapan itu.


"Kau masih mau terus berdiri di sana?" tanya Gu Lang karena Bong Quan masih berdiri mematung di tempatnya tadi, sambil menatap dirinya dengan dahi yang mengkerut.


Bong Quan pun segera menghampiri Gu Lang dan menyentuh wajah Gu Lang, "Apa ini semacam topeng kulit... atau sebuah jurus penyamaran?" tanyanya.


Gu Lang pun segera menepis tangan Bong Quan dari wajahnya dan bergegas pergi dari sana melewati jalan yang ditunjukkan oleh pemilik penginapan itu, tadi.


Bong Quan pun segera menyusul langkah Gu Lang sambil terus menanyakan pertanyaan seputar wajah dan penampilannya yang bisa berganti dalam waktu singkat, juga tentang pancaran aura yang tadi sempat keluar dari tubuh Gu Lang hingga membuat atap kamar penginapan yang dia tempati hancur berantakan.


Namun Gu Lang sama sekali tidak menggubris apalagi menjawab pertanyaan Bong Quan, dan terus berjalan hingga mereka keluar dari penginapan itu. "Untung saja ada jalan keluar lain." Gu Lang bernafas lega saat dia melihat lautan manusia di depan penginapan itu yang masih saja berbisik-bisik tentang kejadian tadi, meskipun pancaran aura itu sudah hilang secara tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2